Selir Yang Terlupakan
Ia semakin mendekat, napas hangatnya menyentuh kulit pipiku.
"Di tempat ini, itulah satu-satunya hal yang benar-benar berharga. Segala yang lain—sutra, permata, gelar, harta—hanyalah hiasan belaka bagi mereka yang tak memiliki apa pun yang layak untuk ditunjukkan kepada dunia."
Ibu jarinya mengusap pelan garis rahangku, gerakan yang lambat dan penuh perhitungan—terasa lebih seperti peringatan daripada kasih sayang.