Kebangkitan Sang Putri Terbuang
Di sudut aula, angin berhembus lembut, menggoyang tirai sutra, seolah menandai awal dari babak baru bagi Putri Lin Yue — bukan lagi sekadar pewaris terbuang, melainkan suara bagi mereka yang tak pernah didengar.
Udara pagi di pinggiran ibu kota terasa lembab dan berbau tanah basah. Lin Yue menuruni kereta dengan pakaian sederhana berwarna biru pucat — tanpa mahkota, tanpa tanda kebangsawanan. Hanya sepasang mata tajam yang menatap lurus ke arah deretan rumah reyot di hadapannya.
Beberapa anak kecil berlarian tanpa alas kaki, tubuh mereka kurus, kulit mereka legam terbakar matahari. Di tepi jalan, seorang wanita tua menimba air dari sumur yang setengah kering.