Aku selalu merasa kata 'kafka' di forum politik dipakai seperti kata sandi untuk menggambarkan ketidakmasukakalan yang membuatmu lelah dan takut sekaligus.
Waktu pertama kali membaca 'The Trial' dan 'Metamorphosis' aku terkejut karena rasa frustrasinya bukan sekadar soal sistem yang lambat — melainkan soal sistem yang rasanya dipenuhi logika lain: aturan yang tak terlihat, hakim tanpa wajah, dan rasa bersalah yang ditimpakan tanpa bukti. Dalam percakapan politik, menyebut sesuatu 'kafka' biasanya berarti menggambarkan situasi di mana birokrasi, hukum, atau aparat berperilaku seolah-olah ada aturan yang absurd dan arbitrer, sehingga orang biasa sulit mencari keadilan. Orang yang terkena dampak merasa tersudut, dibingungkan, dan sering kehilangan bahasa untuk membela diri.
Bagiku ini juga menyentuh aspek emosional: bukan cuma ketidakadilan yang nyata, tapi perasaan terasing—seolah identitasmu diinjak-injak oleh proses yang tak manusiawi. Kadang aku melihatnya dipakai untuk kasus-kasus penahanan administratif, surat izin yang selalu ditolak tanpa alasan jelas, atau hukum yang tampak berfungsi untuk mengekang bukan melindungi. Mengatakannya 'kafka' adalah cara ringkas untuk memberi tahu orang lain, "Ini lebih dari masalah teknis — ini kebingungan sistemik yang membuat kita tidak punya pijakan." Aku biasanya merasa perlu menambahkan narasi korban supaya istilah itu nggak cuma jadi lelucon pahit, melainkan panggilan untuk perbaikan.