SUJUD TERAKHIR EMAK
“Saya tahu, Mbak Asih nggak pernah minta apa-apa. Tapi saya juga tahu… dari semua cerita Mbak tentang masa lalu, tentang bagaimana hidup itu kadang cuma bisa beli nasi satu bungkus buat dua hari, saya tahu Mbak pasti pernah punya satu mimpi yang dipendam dalam-dalam.”
Mak Asih tak kuasa lagi. Tubuhnya bergetar hebat, lalu tangisnya pecah—tangis yang keluar dari dasar hati. Tangis yang menyuarakan puluhan tahun keinginan yang terkubur, karena keadaan tak pernah mengizinkan dirinya bermimpi terlalu tinggi.
“Dulu…” suaranya tercekat, “jangan kan umroh, To… bisa makan lauk sekali sehari saja, sudah saya syukuri. Saya pikir, ya sudah… bukan rejeki saya buat ke Tanah Suci…”