Tolong Perlahan, Dokter Nate!
Ariel mendengus, tapi halaman berikutnya sudah keburu berpindah.
“Dia naruh konflik keluarga di paragraf dua…” gumamnya. “Terus… cliffhanger pendek di akhir prolog. Hmm.”
Halaman berganti lagi. Jam dinding mengetuk-ngetuk pelan, tapi Ariel tak peduli. Di kepalanya, kata-kata menyusun arus deras. Selesai Bab 1. Ia tak sadar sudah duduk bersila. Selesai Bab 2. Ia menunduk, gugup. Selesai Bab 3. Ia menggigit bibir bawah, insecure merayap seperti napas dingin di belakang leher. Selesai Bab 4. Ia menutup buku itu pelan, menatap langit-langit.