Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Ketua Geng itu Suamiku

Ketua Geng itu Suamiku

Dia pergi dengan buru-buru, suara knalpot motornya makin jauh. Gue berdiri di dekat pintu, ngeliat dari balik jendela ruang tamu. Bayangannya cepat menghilang di balik gelap malam. "Bin? Ada apa lagi sih? Katanya nggak akan ninggalin gue!" Gue bergumam pelan, ngerasa campur aduk antara bingung dan khawatir.
103.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 121 kali sebagai dia berada jauh disana dan aku di rumah
Baca
+Pustaka
Di Talak Suami Melarat Di Pinang Konglomerat

Di Talak Suami Melarat Di Pinang Konglomerat

"Hallo," "Lang, kamu ada di mana? kenapa di rumah kamu hanya ada pembantu? kamu sama Tante ke mana?" "Memangnya kamu sekarang di mana?" "Yaelah, aku itu tanya kamu? kenapa kamu tanya balik ?" "Aku ada di kampung sekarang, besok baru pulang, memangnya kenapa?" "Duh, aku sudah ada di rumah kamu nih, di mana Tante, aku ingin bicara dengannya?"
1069.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 2.0K kali sebagai dia berada jauh disana dan aku di rumah
Baca
+Pustaka
Excite 17

Excite 17

Aku mengangguk-angguk pelan. Aku sudah berada di rumah, seharusnya malam ini aku bisa tidur dengan nyenyak. Namun, memikirkan ada Pak Daniel di sana, di kamarku, memikirkan keberadaan kami yang hanya terpisah sebuah tembok tipis, membuatku sama sekali tidak bisa memejamkan mata sedikit pun. Kira-kira apa yang sedang dia lakukan? Apa dia bisa tidur di dalam sana?
1016.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 535 kali sebagai dia berada jauh disana dan aku di rumah
Tampilkan Ulasan (20)
Baca
+Pustaka
Rhadeena Natasha
walaupun suda baca berulang2 kali debaran jantung ku masih sama . bab sedih , bab gembira . terasa sehingga ke jantung tiap kali menghayati setiap bab . seolah2 aku yang merasai keterpaksaan watak dlm cerita ni . mmg best .
KookiePinky
Ahey, nama Pak Guru seperti nama dosenku yang cukup, ehem, meresahkan ......... first ketemu dah nyosor aja si Bapake. Btw, semangat ya thor lanjutinnya. Terus ada sedikit krisar, perihal dialog tag, bisa dicari tahu lagi karena kulihat antara dialog tag dan action itu belum bisa author bedain Semangat
Baca Semua Ulasan
Masakanku Tak Lagi Dimakan

Masakanku Tak Lagi Dimakan

Tak apa harus menunggu lama di terminal, daripada aku diam di rumah ini. *** Aku sudah sampai terminal kota tujuan. Hari sudah sore, aku masih duduk di bangku terminal pinggiran ibu kota. Tak ada tujuan, di sini aku tidak punya kenalan apalagi sodara. Sebenarnya ada sodara jauh, tapi tempat tinggalnya masih dekat dengan rumahku yang dulu. Aku khawatir kalau pergi ke sana akan mudah ditemukan oleh Mas Topan.
105.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 130 kali sebagai dia berada jauh disana dan aku di rumah
Baca
+Pustaka
Yes, I Do

Yes, I Do

Tapi, aku tetap saja berdebar-debar seakan sesuatu yang buruk sedang terjadi. Kini pikiranku tertuju pada keluarga yang tinggal di Bali. Aku bergegas mengirimkan pesan pada Papa Mario, dan Kei, adikku, untuk menanyakan kabar mereka. Cukup lama aku menunggu hingga ponselku kembali berbunyi tanda pesan balasan masuk. “Kami baik-baik saja di sini. Bagaimana denganmu, Nak?” balas Papa.
105.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 128 kali sebagai dia berada jauh disana dan aku di rumah
Baca
+Pustaka
Pendekar Tangan Dewa

Pendekar Tangan Dewa

Rumah itu jaraknya cukup jauh dari rumah-rumah yang lain. "Kita sudah sampai," A San berkata cukup keras. Dia langsung turun dan berjalan menuju ke rumah tersebut. "Orang tua, orang tua Jie. Apakah kau ada di dalam?" tanyanya setengah berteriak. "Siapa di luar?" sebuah suara yang agak serak tiba-tiba terdengar dari dalam rumah. "Sahabat lama di Keluarga Li,"
73.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 96 kali sebagai dia berada jauh disana dan aku di rumah
Baca
+Pustaka
Kelakuan Aneh Mertua dan Suamiku Saat Aku Pulang Kampung

Kelakuan Aneh Mertua dan Suamiku Saat Aku Pulang Kampung

Sekarang aku sudah di depan rumahnya. Rumah Bi Ikah berjarak beberapa rumah dari kami. Aku mendatanginya dan bertanya mengenai hal yang akan diungkapkan saat aku baru datang kemarin. "Bi, coba teruskan ceritanya. Aku kan belum denger semua."
9.54.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 173 kali sebagai dia berada jauh disana dan aku di rumah
Baca
+Pustaka
KUBELI KESOMBONGAN KELUARGA SUAMIKU

KUBELI KESOMBONGAN KELUARGA SUAMIKU

Ingin rasanya aku tertawa lebar saat melihatnya pergi. "Oh, jadi kamu mau menjauh dariku, Ri? Kenapa nggak kamu putuskan saja aku sekalian?" gumamku sambil melangkah menuju mobil. Sakit kepalaku semakin menjadi. Mungkin sebaiknya aku langsung pulang dan tak ngantor dulu besok. Sampai rumah, ada Mas Bima yang tengah menonton televisi. "Loh, kok di rumah?" tanyaku.
1035.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 921 kali sebagai dia berada jauh disana dan aku di rumah
Baca
+Pustaka
Berpura-pura Miskin Demi Anak-Anakku

Berpura-pura Miskin Demi Anak-Anakku

pamitku terkocar-kacir menuju kepulangan. Ibu Marfiah di sampingku menjerit. “Eh, cepet amat sih?!” Aku bahkan tidak menoleh lagi. Kakiku dengan entengnya menjauhi mereka karena aku pasti akan dimarahi oleh suamiku. Jarak antara rumah mereka tidak terlalu jauh, walau rumah kami memang terselip di balik gang kecil.
3.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 95 kali sebagai dia berada jauh disana dan aku di rumah
Baca
+Pustaka
Rahasia Gubuk Belakang Rumah Mertua

Rahasia Gubuk Belakang Rumah Mertua

Dia pasti sudah dapat tujuan selanjutnya. “Udah Yah?” tanyaku. “Udah yuk. Bismillah … sebentar lagi kita sampai. Kita ambil kanan, rumah ibu nggak jauh dari sana. Jalannya sudah buntu soalnya.”
1032.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.2K kali sebagai dia berada jauh disana dan aku di rumah
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
10

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Ada sesuatu yang magis tentang menulis surat untuk seseorang yang jauh. Aku mulai dengan menggambarkan bagaimana aroma kopi pagi mengingatkanku pada kebiasaanmu yang selalu menyeduh secangkir untukku sebelum berangkat. Kemudian, aku bercerita tentang bantal di sisi ranjang yang masih kusimpan rapi, seolah-olah kau hanya pergi sebentar dan akan segera kembali. Aku menuliskan betapa sunyinya rumah tanpa tawamu yang keras, dan bagaimana anak-anak mulai menanyakan kapan ayah mereka pulang. Di antara baris-baris itu, aku menyelipkan harapan-harapan kecil, bahwa cuaca di tempatmu baik, bahwa pekerjaanmu lancar, dan bahwa kau juga merindukan kami separuh kami merindukanmu. Surat ini bukan hanya kata-kata, tapi pelukan dari jauh yang kubungkus dengan tinta dan kertas.

Terakhir, aku selalu menutup dengan janji untuk menjaga semuanya di sini sampai kau kembali. Aku menulis tentang taman kecil yang mulai kukerjakan, tentang resep baru yang ingin kucoba untukmu, tentang film-film yang sengaja kutunda karena ingin menontonnya bersamamu. Ini adalah cara sederhana untuk membuat jarak terasa lebih pendek, untuk membuat waktu berlalu lebih ringan. Dan meskipun surat-surat ini takkan pernah cukup untuk mengisi ruang yang kau tinggalkan, setidaknya mereka menjadi jembatan yang menghubungkan hati kami.

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status