Ibu, Jangan Tinggalkan Kami
Lalu, menutupnya kembali.
Laki-laki yang ternyata sopir Pak Atma, membuka pintu bagian penumpang. Aku berjalan cepat, duduk dengan sungkan karena membawa payung dan kantung belanjaan yang basah. Juga sepatu yang basah.
"Dari mana, Sinar?" tanya Pak Atma bersamaan dengan mobil yang melaju membelah jalanan yang basah. Pak Atma
"Belanja sabun cuci, Pak," jawabku seraya mengelap pipi yang terkena air hujan. "Pak Atma, mau ke mana?"