Sistem Aura (Infinity)
“... sial nian diriku, sial nian!”
Tubuhnya menggelinjang. Kekiri, kekanan. Mengeluh lagi. Sedari tadi sedapat mungkin melelapkan diri dalam tidur, siapa tahu rasa sakitnya menguap begitu saja. Lebih lanjut gelapnya ruangan yang dibersamai dinginnya atmosfer, ruang gerak yang terbatas, penyakitnya yang memarasit, termasuk tuntutan hidup yang membebani sudah dengan sedemikian rupa memperburuk suasana hatinya. Meskipun lambat laun berhasil menghanyutkannya pada ambang sadar dan ketidaksadaran, dia lalu mengigau.
“... yahhh ....”