Pernah Menyesal Menikah
“Semesta.”
Suara Mas Auriga membuyarkan lamunanku. Dia duduk di kursi sebelah, wajahnya serius tapi tetap tenang. Aku tahu dia orang yang baik. Selalu ada untukku dan Raya, tak pernah meminta apa pun sebagai balasan. Tapi kali ini, dia menawarkan sesuatu yang besar, sesuatu yang aku belum siap hadapi.
“Mas Buana sudah bilang, kan?” katanya pelan, seolah tidak ingin menambah bebanku. “Aku tau kamu pasti kaget. Tapi aku serius, Semesta.”