Tersesat
Jelas dia berusaha menetralkan ketegangan di otaknya.
Beberapa saat kemudian terlihat Zimat datang membawa tikar. Di belakangnya Safawi mengikutinya membawa nampan. Lalu mereka menggelar tikar di bawah pohon mangga dan menghidangkan apa yang dibawanya. Kopi dan ketela rebus, aroma kopi masuk ke hidung Satyo, tapi ia hanya diam. Dia percaya penuh kepada bendoronya. Tidak mungkin orang yang telah menyelamatkan nyawanya dari penyakit gula yang telah menggerogoti tubuhnya, akan mengikatnya kalau tidak untuk keselamatan dirinya. Meski harus diakui, dia seperti sedang menyerahkan kematiannya pada bendoronya.
Saat waktu maghreeb tiba, secara bergantian mereka shalat di situ. Begitu pun dengan waktu
Hot Chapters