Pembalasan Sang Dokter Jenius
“Mengerti, Pak. Terima kasih banyak atas pengertiannya.”
Di tengah keheningan yang nyaman itu, Andrea, yang sedari tadi lebih banyak diam mengamati, tiba-tiba angkat bicara. Ia menoleh pada ayahnya, matanya yang cerdas berbinar dengan sebuah ide.
“Ayah,” panggilnya lembut.
Pak Sanusi menoleh pada putrinya. “Ya, Nduk?”