Mendadak Dinikahi Calon Papa Mertuaku
“Kak... aku beneran serius sama kata-kataku. Aku nggak akan ninggalin. Apa pun yang orang lain pikir tentang kita.”
Tatapan itu membuat dada Sinta kembali sesak. Ia menggenggam erat ujung bajunya, mencoba menahan perasaan yang meluap. “Fin...” hanya itu yang bisa keluar dari bibirnya.
Fino mendekat lagi, lalu mengecup singkat kening Sinta. “Aku pamit. Jangan dipaksa kerja dulu, istirahat aja.”
Sinta hanya bisa mengangguk, meski matanya berkaca-kaca. Saat pintu menutup, keheningan kembali menyelimuti ruangan. Ia menatap kosong ke arah pintu, lalu tersenyum pahit.