Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Jodoh di Tangan Mama

Jodoh di Tangan Mama

Benar saja, kanvas itu sudah tak memiliki ruang kosong dan berganti dengan lukisan pemandangan di sebuah bukit dengan langit senja yang indah. “Kamu sih kelamaan bengong,” ledek Aline yang segera puas begitu melihat rengutan sebal Athalia. “Ngapain coba ngelamunin Asa, toh hari ini atau besok kamu bisa ketemu lagi sama dia.” “Iya sihhh.” Athalia mengganti kuasnya dengan yang agak kecil karena ingin membuat gambar rerumputan di sudut kanvas.
4.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 184 kali sebagai sketsa gambar di kanvas
Baca
+Pustaka
Cinta Untuk Sang Pendosa

Cinta Untuk Sang Pendosa

Suara gesekan kuas pada kanvas terdengar di ruangan yang tenang itu.Tangan seorang pria begitu lihai memainkan warna di setiap sketsa dari gambar yang telah ia buat. Terkadang ia berpikir soal imajinasi yang ada di otaknya, entah karya apa yang ia buat ini, gambarnya terlihat berantakan namun tetap berkelas. Belum juga selesai namun ia menyimpan kuasnya dan membuka celemek yang sedari tadi menempel di tubuhnya.
105.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 104 kali sebagai sketsa gambar di kanvas
Baca
+Pustaka
Suamiku Duda Bisu

Suamiku Duda Bisu

Kanvas membuat setiap lukisan terasa nyata, layak dipajang, seolah punya napas sendiri. Ia menyiapkan kanvas, cat, dan kuas. Tak butuh waktu lama, garis-garis pertama mulai muncul. Tangannya bergerak luwes, tidak terburu-buru. Di rumah ini, ia tidak perlu bersaing dengan waktu atau hiruk pikuk seperti di atrium saat lomba dulu. Hanya ada suara kuas, napasnya sendiri, dan cahaya pagi yang masuk lewat jendela.
103.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 67 kali sebagai sketsa gambar di kanvas
Baca
+Pustaka
TANPA BA BI BU HEY NIKAH YU!!!

TANPA BA BI BU HEY NIKAH YU!!!

Tapi belakangan, kekonyolan itu justru jadi sesuatu yang ia tunggu. Sesampainya di rumah, lampu ruang tamu redup. Bara sedang duduk di lantai dengan kanvas besar di depannya, kuas di tangan, cat berceceran di mana-mana. Tapi bukan itu yang menarik perhatian Siska — melainkan gambar di kanvas itu. Sebuah sketsa kasar, dua orang berdiri di bawah hujan, satu payung di atas kepala mereka. “Itu siapa?” tanya Siska, melepas sepatu dan menatapnya.
806 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 20 kali sebagai sketsa gambar di kanvas
Baca
+Pustaka
Sketsa Hujan

Sketsa Hujan

Bukan karena marah yang meledak, melainkan karena ia merasa sedang menjaga sisa-sisa martabatnya yang masih ada. "Aksa, kamu terlihat... berbeda," ujar Pak Danu, pemilik galeri kecil tempat Aksara sering memamerkan karyanya. "Sketsamu belakangan ini kehilangan detailnya, tapi entah kenapa terasa lebih berat." Aksara menatap kanvas besar di hadapannya. "Mungkin karena saya berhenti mencoba menjelaskan semuanya melalui gambar, Pak. Saya hanya ingin merekam apa yang hilang."
103.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 93 kali sebagai sketsa gambar di kanvas
Baca
+Pustaka
Cinderella Milik CEO

Cinderella Milik CEO

Ella lalu mulai melukis di kanvas. Ella melukis seorang gadis yang berdarah-darah sedang terduduk. Lalu dikepala gadis itu terdapat benang-benang yang membentuk otak. Kemudian ada banyak orang yang menarik benang itu hingga benang itu semakin mengecil.
9.527.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 833 kali sebagai sketsa gambar di kanvas
Baca
+Pustaka
🇮🇩 A LOVE NAMED SUMMER

🇮🇩 A LOVE NAMED SUMMER

── ☀︎ ── Studio seni selalu berbau sama—minyak linen, kanvas, dan sesuatu yang tidak bisa Summer beri nama tapi selalu membuatnya bisa bernapas lebih lega. Ia meletakkan tasnya, menyalakan lampu meja, dan duduk. Kanvas di hadapannya masih putih. Summer menatapnya sebentar, lalu mengambil kuas. Sapuan pertama selalu yang paling jujur—tidak ada yang perlu ia pikirkan, tidak ada yang perlu ia buktikan. Tangannya bergerak, dan dunia di luar sana perlahan mengecil. Asesmen. Angka. Mata orang-orang yang selalu mengukur. Semuanya mundur ke tepi, kalah oleh ritme sederhana kuas yang menyentuh kanvas.
10773 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 28 kali sebagai sketsa gambar di kanvas
Baca
+Pustaka
Jangan Membenci Cinta

Jangan Membenci Cinta

tanyanya lagi sambil memiringkan kepala dengan senyum manis semanis senyum sang Mommy. Akbi menggendong Arsha lalu mengambil paku berkarat dari tangan mungil itu untuk ia buang jauh-jauh. “Lukisan kamu bagus, sayang ... tapi enggak ngelukis di mobil Daddy juga ... nanti pulang kerja Daddy beliin kanvas ya?” “Apa itu kanvas, Daddy?” “Tempat untuk melukis.” “Baaaiiikkk, Caca mau kanvas!” balita itu berseru riang.
1054.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.6K kali sebagai sketsa gambar di kanvas
Baca
+Pustaka
Warisan Sang Phoenix

Warisan Sang Phoenix

Zetta Mui berdoa di dalam hati. Dengan penuh semangat, Hua si gadis kembang itu mengibas kuas di tangannya. Titik-titik cat menodai kanvas. Gambar yang muncul terlihat mirip selembar kain beserta benang. Menyusul jarum perak juga muncul di permukaan kanvas. Hua merengut. "Bakat penjahit!" Zetta Mui berteriak, tak lagi lantang. Dia mulai khawatir.
9.626.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 556 kali sebagai sketsa gambar di kanvas
Tampilkan Ulasan (29)
Baca
+Pustaka
Jimmy Chuu
Halo semua. setelah autor melihat minat baca novel ini meningkat, maka autor JD semangat. saat ini akan update 3 bab seminggu. untuk penambah semangat, beri vote dan subscribe novel ini. banyak yg vote dan subscribe, itu tanda kamu suka kisah ini dan autor makin semangat update. terima kasih.
Ibnu H.s
izin promosi novel judul : terkuat dari yang terkuat sinopsis: Dalam dunia sihir yang dibagi oleh kasta dan penindasan, Lennos, seorang cucu dewa terkuat, terpaksa melarikan diri setelah dituduh membunuh seorang pangeran ambisius. Menghadapi pengkhianatan dan kehilangan semuanya. genre - fantasi
Baca Semua Ulasan
Terjebak Ambisi Sang Pewaris

Terjebak Ambisi Sang Pewaris

Ia hanya menatap kosong ke arah kanvas. "Ada apa denganmu, Eloise? Biasanya kau sangat bersemangat." Lucas bergerak ke arah sofa, duduk di sana sembari memandangi Eloise. "Aku sedang tidak berminat melukis." Eloise berkata lirih. Ia menunduk lama. "Aku ingin mengajarimu hal baru, ini mungkin sedikit bisa menyegarkan pikiran." Lucas bangkit berdiri dan menyerahkan sebuah sketchbook, ''ini milikku saat awal aku belajar menggambar.'
1014.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 462 kali sebagai sketsa gambar di kanvas
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
345678
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status