Selir Yang Terlupakan
Ia membawa sebuah kotak kayu kecil yang diukir dengan bunga melati, dan selembar surat yang ditulis dengan tinta yang sudah mulai memudar namun tulisannya tetap rapi dan lembut.
Aku membukanya perlahan, dan membaca dengan suara pelan agar Hongwu yang duduk di sampingku bisa mendengar:
"Untuk Lianhua, satu-satunya orang yang pernah memberiku kesempatan untuk berubah,
Musim gugur ini sudah keempat kalinya kulihat di sini, di antara gunung-gunung yang tenang. Bunga melati yang kau kirimkan setiap tahun tumbuh subur di halaman biara — putih, harum, dan tak pernah layu meski angin musim bertiup kencang.