Suami Miskinku Ternyata Konglomerat
Kuisi ember penampung berukuran sedang dengan separuh air, dan sebilah gayung, lalu kembali ke kamar dan kuletakan tepat di depan wajah pria pesakitan itu, yang tubuh dan wajahnya masih menempel di lantai.
"Ini Burhan, sudah aku bawakan air. Kamu mau minum sekarang?" tanyaku datar.
"Aku tidak ingin minum air dari kamar mandi, berikan aku air hangat, Dek," pintanya lagi.
Kudekati Burhan, kuambil segayung air dari dalam ember tersebut, kutengadahkan wajahnya yang tadi menempel di lantai. Kupencet pipinya, kupaksa supaya mulutnya mau terbuka, lalu mulai kutuangkan air dari dalam gayung tersebut. Seperti air terjun yang jatuh menimpa bebatuan, gelagapan si Burhan, tetapi tetap kupaksakan air itu
Bab Populer