Library
Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
Dua Sisi

Dua Sisi

Lupakan Embun ya, Bang? Embun menatap Anak Dewa dari balik tirai air mata. Tidak mudah untuk mengucapkan kata-kata berpisah di saat sedang cinta- cintanya. Dada rasanya mau meledak dan air mata ingin mengalir sendiri saking sesak dan sedihnya perasaan.
1030.0K viewsCompletedAdded to Library 960 Times as tetesan embun
Read
+Library
Kaisar Iblis Gila Kembali Ke Kota

Kaisar Iblis Gila Kembali Ke Kota

Sepuluh benang tipis seperti kapas mengambang keluar dari ujung-ujung jarinya, warnanya lebih putih dari salju, lebih tipis dari helai rambut manusia. Begitu benang-benang itu muncul di udara, suhu di seluruh area itu turun drastis. Bukan pelan-pelan. Tiba-tiba. Seperti seseorang membuka pintu ruang beku di tengah siang terik. Embun beku muncul di permukaan batu-batu di bawah. Napas beberapa anggota Aliansi yang paling dekat mengepul menjadi uap putih.
1066.2K viewsOngoingAdded to Library 1.7K Times as tetesan embun
Show Reviews (15)
Read
+Library
ARYA_RELOAD
aneh cerita lelang nya masa iya si Rian nawar barang 4 00M sampai 1,6 triliun dia sendiri yg naikin wkwkwk normal nya kan harus nya ada lawan yg naikin harga baru Riyan lawan naikin harga, lah ini Riyan sendiri yg naikin harga kan koplak wkwkwkwk
Adelia
Ijin promosi novel judul: Amnesti Sang Eksekutor Aku hanya ingin satu malam pelarian untuk melupakan pengkhianatan mantan kekasihku. Sialnya, pria yang kutemui di bar dan hampir tidur denganku semalam adalah Arkana Wijaya, eksekutor perusahaan yang dikirim untuk memecat seluruh departemenku
Read All Reviews
Dicampakkan Setelah Melahirkan

Dicampakkan Setelah Melahirkan

Masalahnya Sagara butuh waktu lama dalam menyusu. Gerak gerik Embun tak luput dari tatapan penuh selidik Maya. Ia melihat jilbab Embun yang basàh. Embun memang sempat keramas tadi dan tak segera mengeringkan rambutnya. “Mbak, keramas malam-malam? Apa gak dingin?” tanya Maya merasa heran saja. Yang benar saja, keramas larut malam. Apakah tidak merasa kedinginan dan nanti sakit kepala.
1036.5K viewsCompletedAdded to Library 840 Times as tetesan embun
Read
+Library
Tebusan Sang Don Kejam

Tebusan Sang Don Kejam

gumamnya pelan sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, punggungnya bergetar hebat karena tangisannya. Gwensa mengusap lembut pundak sahabatnya. “Kae, tenanglah, kita akan mencari solusinya bersama. Kau bisa menggunakan tabunganku, meskipun tidak banyak, tetapi lumayan untuk menambah kekurangannya.” Kaera menggelengkan kepalanya. Gwensa sama seperti dirinya, hidup masih serba kekurangan, tentu saja dia tidak ingin membebani sahabatnya.
202 viewsOngoingAdded to Library 7 Times as tetesan embun
Read
+Library
Lembah Awan Berkabut

Lembah Awan Berkabut

Bab Ekstra: Badai di Dalam Surga – Bagian 2: Retakan di Dinding Surga Hari-hari berikutnya di Lembah Awan Berkabut terasa seperti memegang segelas air yang terlalu penuh, di ambang tumpah. Di permukaan, semuanya tenang. Para pengungsi tinggal di paviliun tamu mereka, menerima makanan dan perawatan dari tim An-Mei. Para murid melanjutkan rutinitas mereka. Namun di bawah permukaan, riak-riak ketidakpercayaan terus menyebar, menciptakan retakan tak kasat mata di dinding lembah
1.3K viewsCompletedAdded to Library 36 Times as tetesan embun
Read
+Library
Tumbal Purnama

Tumbal Purnama

tanyanya panik. Bima mengeluarkan kertas tua yang diberikan oleh Pak Surya sebelum mereka pergi. Gambar lingkaran dengan simbol-simbol aneh tergores di sana, bersama sebuah kalimat: "Di tempat akar pertama tertanam, di sana perjanjian ditulis." “Tempat akar pertama...” gumam Bima. “Mungkin pohon tua di ujung hutan ini. Kakek sering menyebutnya sebagai tempat asal keluarga kita.”
1.3K viewsOngoingAdded to Library 37 Times as tetesan embun
Read
+Library
Jeritan yang Tak Terdengar

Jeritan yang Tak Terdengar

Sinar matahari masuk dan menyinari tubuh tak bernyawa itu. Udara dipenuhi oleh bau busuk yang sulit digambarkan, begitu menyengat hingga membuat orang sesak. Kulitku sudah berwarna hijau keabu-abuan yang tampak tidak sehat, membengkak sampai sulit dikenali bentuk aslinya. Jaringan otot di sekitar lukaku telah terurai menjadi cairan nanah yang kental.
8.5K viewsCompletedAdded to Library 187 Times as tetesan embun
Read
+Library
CINTA TERSEMBUNYI TUAN TANAH

CINTA TERSEMBUNYI TUAN TANAH

Mengenang semua itu kembali menimbulkan perasaan sesak dalam dadanya. Pusing menerpa Citra, walaupun ia tak tahu apakah itu karena panas matahari atau hanya kesedihan. Hanya ketika ia tersadar Andine menatapnya lekat-lekatlah yang membuat Citra menyadari pipinya terasa basah. Oh, tidak... Dengan susah payah ia berusaha mencari tahu bagaimana air mata itu muncul tanpa ia sadari, lalu melihat tatapan bermusuhan Andine berubah menjadi kernyit bingung.
1.7K viewsOngoingAdded to Library 44 Times as tetesan embun
Read
+Library
Sebelum Hujan Membasahi

Sebelum Hujan Membasahi

Chelsi hanya memalingkan wajah, dan kulihat pipinya basah oleh air mata. "Beb!" Dia sama sekali tak mengubris panggilanku. Dia hanya tersedu sedu menahan tangis, tanpa berucap sepatah kata. Aku lanjutkan saja membuka kertas itu. Dan boom, rasa seperti tersayat seribu pedang tumpul, bagai tersambar petir yang menggelegar menyambar. Aku terdiam, gemetar tak karuan. Demikian pula dengan Chelsi, sesekali tatapan matanya kepadaku menambah duka yang tak terencana.
102.9K viewsOngoingAdded to Library 75 Times as tetesan embun
Read
+Library
Kejahatan Termanis

Kejahatan Termanis

ujar Vena dengan suara khas anak kecil yang bisa membuat siapa saja gemas mendengarnya. Serena melirik pada Nevilla yang terdiam, ia lalu menyenggol bahunya. Nevilla memberi isyarat seperti menanyakan ada apa, Serena hanya menghela napas lalu menatap ke arah Vena yang sibuk memainkan jarinya karena tidak ditanggapi. “Iya, sayang. Tante Villa sama Kak Serena baru saja selesai belanja. Vena habis belanja apa? Vincent juga ikut belanja kan?”
2.6K viewsOngoingAdded to Library 73 Times as tetesan embun
Read
+Library
PREV
123456
...
8
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status