Gagal Menjadi Bulanmu
Nadine mendongak menatap langit biru yang cerah di luar, lalu berkata dengan nada datar, "Ayah, berikan teleponnya ke dia."
"Aku mau bicara baik-baik sama dia."
Dito terdiam cukup lama, tetapi pada akhirnya dia tetap mengoperkan ponselnya. Setelah suara hiruk-pikuk sesaat, terdengar kembali suara penuh emosi dari seberang sana.
"Nadine!"
"Arsen, apa sih yang sebenarnya ingin kamu sampaikan padaku?"
Berbeda dengan Arsen yang begitu emosional, nada suara Nadine terdengar sangat tenang.