Ada sesuatu yang memikat dari premis 'the main heroines are trying to kill me'—konflik emosional yang tajam dan dinamika karakter yang unpredictable. Ending favoritku justru ketika protagonis menyadari bahwa seluruh 'pembunuhan' itu adalah ujian dari sistem dunia mereka, semacam glitch dalam takdir. Heroines ternyata diprogram untuk menyerangnya, tapi melalui bonding yang dalam, mereka bersama-sama memutuskan untuk melawan sistem. Adegan klimaksnya adalah momen meta di mana mereka 'keluar' dari narasi cerita, menyadari diri sebagai fiksi, lalu memilih menulis ulang endingnya sendiri. Konsep breking the fourth wall ini jarang tapi selalu memuaskan ketika dieksekusi dengan baik.
Yang bikin gregetan adalah ketika penulis berani memberikan twist bahwa protagonis sebenarnya adalah antagonis yang memanipulasi memori mereka. Heroines baru menyadari kebenaran di detik-detik terakhir, tapi alih-alih membunuhnya, mereka justru menyelamatkannya dari kutukan yang lebih besar. Ending seperti ini meninggalkan aftertaste pahit-manis—kita dibuat bertanya-tanya siapa yang benar-benar salah dalam cerita ini.