Supir Perkasa dan Majikannya yang Menggoda
Sekarang aku bahkan tidak mampu menggerakkan tangan untuk menyambut juluran tangannya.
"Untuk apa membicarakan moral?" katanya juga, "lagipula, moral itu hanya hiasan bibir, sudah sedari awal terlupakan di bangku-bangku sekolah. Jika pun masih ada, itu hanya hiburan kantong-kantong sampah para pemulung."
Aku terhenyak, mendadak termangu. Cukup lama, dalam hatiku, orang ini kenapa?