Dua Kakak Tiriku Yang Posesif
Tawa yang sangat kukenali, tawa yang selalu terdengar seperti perayaan kecil atas penderitaan orang lain.
“Mungkin Little Sister kita ini butuh lebih dari sekadar pemanas ruangan, Kak,” katanya ringan, namun penuh racun. Ia menopang dagunya dengan satu tangan, menatapku seperti menilai barang antik.
“Atau mungkin… dia hanya ingin menyembunyikan sesuatu yang berharga di balik sweater itu?”
Aku merapatkan sweaterku refleks. Jari-jariku mencengkeram kain wol itu hingga buku jariku memutih.