Memar Termanis
“Di saat Auntie sibuk, Uncle selalu meluangkan waktu untuk mengurusku. Dia menjemputku, mengantarku pulang, dan bahkan menemaniku saat Auntie pergi keluar negeri. Waktu Auntie di rumah sakit, Uncle juga sangat khawatir. Bahkan kalau aku lagi bersamanya, Uncle selalu menanyakan keadaan Auntie.”
Paula mengerutkan kening, tapi senyumnya tetap terlukis.
“Jadi, aku pikir nggak ada salahnya kalau Auntie kasih ruang lebih untuk Uncle,” lanjut Dk dengan mantap. “Makan siang bareng Uncle atau sekadar minum kopi di kafe, itu juga kelihatannya seru.”
Paula menggelengkan kepala, setengah tertawa. “Kamu terlalu banyak berpikir, sayang.”
Hot Chapters