Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Badai Telah Reda, Kau Pun Tiada

Badai Telah Reda, Kau Pun Tiada

Setelah makan malam, hujan mulai turun di luar. Julian bersikeras ingin tidur bersama Federik, jadi Susan mengizinkannya menginap. Namun, saat bangun untuk minum air di tengah malam, Susan malah bertabrakan dengan Federik. "Aduh." Susan menjerit dan jatuh ke samping. Federik meraih dan menariknya ke dalam pelukannya, lalu bertanya dengan gugup, "Ada apa? Apa kamu terluka?"
17.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 374 kali sebagai walau badai menerpa
Baca
+Pustaka
Nasi Bungkus untuk Laila

Nasi Bungkus untuk Laila

ucapnya dengan tatapan nanar. Bagai hujan badai di siang hari, angin puting beliung menerbangkan apa saja yang ditemuinya, kilatan petir menyambar-nyambar memekakkan telinga, seperti itulah perasaan Narti dan Rosma setelah mendengar ucapan Laila. Mampukah kaki mereka berpijak di atas bumi yang sudah mengecewakan hati mereka berkali-kali? Bisakah bertahan dalam terjangan badai ini? Mampukah melewati hari yang suram ini?
103.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 84 kali sebagai walau badai menerpa
Baca
+Pustaka
Istri Tebusan Paman Mantanku

Istri Tebusan Paman Mantanku

Laureta bisa menangis karena tidak menyangka akan mengalami semua kebaikan Tuhan dalam hidupnya. Terkadang, kita bisa melihat pelangi sehabis hujan. Namun, kita pun tidak akan pernah tahu kapan hujan lebat akan turun lagi. Setidaknya, Laureta sudah tidak merasa terkejut lagi jika ia sampai diterpa badai berikutnya.
1018.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 561 kali sebagai walau badai menerpa
Baca
+Pustaka
Raja Dunia Bela Diri!

Raja Dunia Bela Diri!

Dengan lambaian tangannya, sebuah fenomena surgawi tampak menyelimuti kehampaan, dan badai kehampaan yang mengerikan mulai berkobar dahsyat. “Whoosh!” Badai mengamuk, dan orang-orang di Paviliun Bintang Jatuh tampak hampir tidak mampu berdiri tegak. Merasakan arus udara yang mengerikan, jantung mereka berdebar kencang. Mereka hampir tidak dapat membayangkan betapa kuatnya orang perkasa itu. “Berdengung!”
9.549.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.9K kali sebagai walau badai menerpa
Baca
+Pustaka
Menikah Demi Hak Asuh

Menikah Demi Hak Asuh

umpat Athena. Hari itu Dorian sangat sibuk mengerjakan pekerjaannya hingga lupa waktu. Hari tiba-tiba dengan cepat berubah menjadi gelap. Bukan hanya karena hari sudah malam tapi sepertinya hujan badai akan turun mengguyur bumi. “Sepertinya akan hujan badai, menginap saja di sini. Sangat berbahaya jika kamu pulang menerobos badai,” bujuk Viola.
1.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 22 kali sebagai walau badai menerpa
Baca
+Pustaka
Jerat Obsesi Presdir Tampan

Jerat Obsesi Presdir Tampan

Yang mulanya hanya rinai, kini mulai datang badai hujan lebat. “Haruskah kita menepi?” tawar Danu. “Rumahku sudah dekat, lanjutkan saja Dan,” ujar Nila yang kelewat canggung karena ucapan Danu. “Baiklah, aku akan mencoba sebisaku, lagi pula benar katamu, rumahmu tidak jauh lagi.” Danu kembali memfokuskan pandangannya pada jalanan yang tampak buram karena badai.
1012.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 393 kali sebagai walau badai menerpa
Baca
+Pustaka
Rain do for you

Rain do for you

Meskipun begitu, mereka selalu menjadi incaran para pria. "Hujan!" gumamnya sambil memandang rintik air yang berjatuhan. Ia tersenyum sinis seraya mendengus pelan. Dia merapatkan jubah tidurnya, merasakan dinginnya hujan yang menerjang badan. Terra benci hujan, ia tidak suka. Hujan membuatnya selalu teringat pada sesuatu yang sangat menyakitkan baginya. Dor!
102.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 50 kali sebagai walau badai menerpa
Baca
+Pustaka
My Bad Wedding Day (Indonesia)

My Bad Wedding Day (Indonesia)

Ia nampak berhasil mengontrol dirinya dengan baik. “Hmm,” dehemku malas. Elena menatap ke arah jendela yang berada di samping kami, lalu mendesah dengan kesal. “Hujan,” katanya pendek. Aku melihat ke arah luar dan terdiam cukup lama. Hujan tiba-tiba deras dan mengguyur sekitar pemukiman Kafe Dangdang. Kulihat banyak orang berlalu lalang demi tidak terkena air hujan yang membasahi pakaian mereka.
1010.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 255 kali sebagai walau badai menerpa
Baca
+Pustaka
Mentari di Balik Awan

Mentari di Balik Awan

Jadi dia hanya memberikan mereka senyuman daripada harus bersusah payah membalas perkataan mereka. Kini yang terdengar hanyalah suara berisik ketika air hujan menimpa atap gedung dan juga daun-daun lebar yang ada di taman tepat di depan gedung jurusan tempat Lian dan Awan berdiri. Mereka diam menikmatinya seperti sedang mendengarkan alunan musik dari alam. “Mengeluh itu ... tidak cocok untuk seseorang seperti saya ....” Lian mulai menggumam. Suaranya memang kecil. Tapi sudah cukup untuk membuat Awan menatapnya heran.
103.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 119 kali sebagai walau badai menerpa
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
5678910
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status