Raina
“Cepetan periksa, Raina Jenong. Biar lo tahu berapa usia janinnya. Terus nanti dokternya kasih obat buat ngurangin rasa mual lo. Ayolah. Jangan bandel. Lo mau bayi lo baik-baik aja kan? Kalau lo gak berani sendiri, gue anterin deh. Pokoknya harus hari ini, mau jam berapapun gue usahain bisa nganter.”
Begitu katanya. Aku selalu terharu setiap kali Ghina memberiku perhatian. Aku teramat beruntung memilikinya sebagai sahabat, bahkan sudah kuanggap keluarga.
Badanku belum seratus persen membaik, tapi aku memaksakan diri untuk menjenguk Raka. Sampai di ruang inap Raka, aku melihatnya sedang sarapan.
“Sarapan sama apa?” tanyaku sembari menyimpan kantong kresek putih berisi buah-buahan yang sempat
인기 회차