Cinta yang Terkubur
"Permisi, kami sudah mau tutup. Anda sudah menunggu seharian, apa calon suami Anda belum datang juga?"
Jarum jam menunjukkan pukul lima sore. Suasana di dalam KUA sudah sangat sepi.
Seorang petugas melirik jam tangannya, lalu mengingatkan satu-satunya wanita yang masih bertahan di sana dengan sopan.
Rekan kerja di sebelahnya ikut mencuri pandang, lalu bergegas menarik petugas itu ke samping sembari berbisik, "Sudahlah, biarkan saja, ayo kita kunci pintunya. Selama tiga bulan ini, aku melihatnya datang ke sini setidaknya lima puluh kali. Setiap kali datang, calon suaminya selalu nggak datang. Sekarang, dia sudah resmi jadi calon pengantin paling malang nomor satu dalam daftar kita."
Beberapa saat kemudian, pintu besar KUA berdentum menutup.
Frida Maharani menundukkan matanya yang mulai mati rasa. Dia merobek nomor antrean pendaftaran pernikahan yang telah digenggamnya erat seharian itu hingga hancur berkeping-keping.