Insya Allah Ada Jalan, Nak!
kupenggal kalimatku sejenak, kuhela napas sambil berusaha menenangkan gemetar yang tersisa pada kakiku, “tentang dua orang yang melamar pekerjaan di perusahaan yang sama. Yang satu cerdas, pintar, sementara yang satunya biasa-biasa saja. Saat interview, si cerdas malah menunjukkan kesombongan akan kepintarannya. Sebaliknya, si biasa-biasa saja menunjukan sikap ramah, sopan serta rasa percaya diri sewajarnya, tak semata-mata karena ingin dipuji. Nah, siapa yang diterima oleh perusahaan?"
Hening. Tak ada yang berusaha menjawab, menyela atau bersuara apa pun.
Karenanya, aku kembali meninggikan suara. ”Ternyata yang diterima, yang biasa-biasa saja. Karena perusahaan lebih memilih orang yang memi
Hot Chapters