GOODBYE JULIET [INDONESIA]
GOODBYE JULIET [INDONESIA]
Author: Rain
1

1. Perekrutan Anggota Opera

"Yuna! Lo jadi Juliet ya," ucap sang ketua opera.

Yuna yang tadinya asik mendekor ruangan sedikit tersentak. Selain kaget karena Adit —ketua opera— berteriak, ajakannya juga cukup mengejutkan. Pasalnya, Yuna bukan anggota inti. Bahkan biasanya gadis itu hanya bertugas sebagai tim official yang membantu mendekor dan menyiapkan properti.

"Kenapa?" tanya Yuna.

"Pak Joko yang minta. Lagian, gue juga yakin pasti acting lo ga kalah bagus sama Bella," jawab Adit.

Katakanlah, Bella adalah gadis populer di sekolahnya. Cantik, pintar, kesayangan guru, hampir tidak ada kata 'cacat' yang tepat untuk semua yang ada di dirinya. Pastilah berbanding jauh dengan Yuna. Meskipun Yuna tidak kalah cantik dan pintar dari Bella, gadis itu tidak suka mencari perhatian di depan banyak orang. Atau, katakanlah munafik. Ia lebih senang berdiam diri dan tidak mengumbar apa yang dia miliki.

Itu buruk kan, dia tidak akan berkembang jika terus terusan bungkam. Ada saatnya dimana kita harus 'pamer' agar orang lain tidak menganggap lemah dan tidak menarik.

Setelah menimang nimang pergelutan di otaknya, Yuna menatap Adit ragu, "Terus, yang jadi Romeo siapa?"

"Mas Jeffrey kelas 12-B jurusan bahasa,"

Mata Yuna melotot, "Serius? Aduh dit, lo pikir ulang deh. Gimana jadinya kalo kak Jeffrey urung jadi Romeo gara gara tau Julietnya gue?"

Ucapan Yuna barusan mengundang gelak tawa Adit. Tidak heran kalau Yuna minder. Jeffrey kakak kelas paling banyak digemari dari mulai kelas 10 - 12, bahkan guru guru. Banyak rumor mengatakan, Jeffrey orang yang pilih pilih. Baik itu teman, gebetan, atau apapun. Bahkan mereka dengar, Jeffrey saat ini tengah dekat dengan Bella, teman seangkatan Yuna dan Adit.

Gadis itu satu satunya kelas 10 yang berhasil mendekati Jeffrey. Tidak heran mengingat Bella adalah salah satu kebanggaan sekolah. Yuna mengira mereka lebih dari sekedar teman dekat mengingat keduanya sama sama idaman kebanyakan siswa.

"Pemeran Romeo sama Julietnya tanggung jawab pak Joko, yun. Kalo mau protes jangan ke gue. Lagian lo ga capek jadi tim official? Harusnya lo tunjukin, ini waktu lo buat bersinar," ucap Adit.

"Gue undur diri dari club opera aja deh dit," ucap Yuna yang mendapat pelototan Adit.

"Heh! Licin banget tu mulut. Nggak nggak nggak. Siapin diri lo buat nanti kumpul tiga angkatan 10 menit lagi,"

Yuna berdecak sebal, "Lo ikut kumpul kan dit?"

"Iya, cepet siapin tas lo sekalian. Habis kumpul langsung pulang," ucap Adit melenggang pergi menyiapkan beberapa rentetan acara nanti.

Tepat setelah Adit pergi, Bella datang, menepuk pundak Yuna pelan.

"Eh? Bella? Kenapa?" tanya Yuna heran.

"Tadi gue denger, lo jadi pemeran Juliet?" ucap Bella dengan tatapan tidak menyenangkan.

Yuna menggaruk tengkuknya, "Ya gitu deh. Kata Adit, pak Joko yang milih,"

Biasa ia lakukan ketika merasa canggung. Terlebih, ini adalah kali pertama Bella mengajaknya berbicara. Benar, selama hampir 5 bulan bergabung di club opera, mereka tidak pernah sekalipun bercakap cakap. Yuna sendiri selalu minder melihat bagaimana keadaan teman teman Bella yang begitu terlihat seperti seleberitis.

Bella sendiri sepertinya kurang bersahabat dengan tampang biasa biasa saja seperti Yuna dan teman temannya. Tanpa polesan make up, tanpa tas dan sepatu brandid, dan tanpa followers instagram yang jumlahnya ribuan. Seperti itulah kira kira circle Yuna. Circle? Membicarakan masalah circle, Jeffrey sendiri lebih sering terlihat bersama teman temannya yang juga tidak jauh berbeda dengan circle Bella. Terlihat dari kalangan orang atas, tidak pernah melakukan kesalahan, dan serba perfeksionis.

"Heran, pak Joko mikir apaan sih pas buat list perekrutan," celoteh Bella.

Dia terlihat tidak terima dengan kenyataan yang 'bukan dirinya sebagai pemeran utama'. Wajahnya mendadak suram dan melirik Yuna dengan sinis.

"Siapa nama lo?" tanyanya ketus.

"Yuna. Dari kelas—"

"Gak penting," sela Bella sebelum Yuna sempat menyelesaikan ucapannya.

Gadis itu dengan angkuhnya berjalan melalui Yuna yang sedari tadi menunduk dalam. Tidak biasanya ia mendapat perlakuan semacam ini tadi. Perlu diketahui, meskipun Yuna bukan gadis seterkenal Bella, sebisa mungkin ia menjaga imagenya. Bukan untuk apa apa, tapi nyalinya ciut saat berhadapan dengan orang berbeda 'kasta' seperti Bella dan antek anteknya.

Ia masih terus menunduk dan memilih untuk mengikuti Adit yang sudah duduk di kursi menunggu yang lainnya berkumpul.

"Kenapa lo?" tanya Adit fokus dengan selembar kertas berisi susunan acaranya.

Yuna menggeleng lemah, "Gue ga enak sama Bella, dit,"

"Yuna Yuna Yuna! Please hilangin rasa gak enakan lo. Dikit dikit ga enak, dikit dikit ga enak. Giliran lo yang tersakiti lo juga ga enak buat ngeluh gitu?" marah Adit.

Pria itu sudah hafal betul bagaimana sifat sahabatnya. Pemalu, lemah, rendah diri, dan mudah tersinggung. Berulang kali ia mengatakan bahwa Yuna sama seperti mereka. Namun gadis itu selalu mengatakan 'mana mungkin, mereka kaya aku kurang kaya'.

Bukannya Yuna miskin, tapi banyak dari siswa di sekolah ini berasal dari kalangan berada. Sedangkan Yuna adalah gadis yang berkecukupan. Meski begitu, ia selalu bersyukur dengan apa yang dia miliki.

Yuna mendengus, "Gatau ah dit. Coba kalo lo diposisi gue,"

"Gue bakal marah dan jelasin ke Bella kalo yang milih pak Joko. Kalo dia ngeyel, gue juga bakal ngeyel. Ga lemah kaya lo gue mah," tukas Adit.

Meladeni ucapan Adit hanya akan membuat Yuna semakin gentar. Ia memilih menungkupkan kepalanya di meja. Menunggu Adit, atau bahkan pak Joko sekalipun untuk membangunkannya. Hanya masalah sepele seperti ini saja, otak Yuna sudah kalang kabut.

"Dit, berduaan mulu lo bocil,"

"Weh, mas Jeffrey. Ini, temen gue kayanya lagi PMS. Mood nya ancur banget daritadi," jawab Adit.

Benar, Jeffrey baru saja datang dan menyapa Adit. Tidak lupa ia juga bersama dengan teman teman satu circlenya yang menurut Yuna seperti seleberitis. 

"Yun, bangun ih. Ada Romeo tuh," bisik Adit menggoyang goyangkan tubuh Yuna pelan.

"Berisik sih Dit," gumam Yuna.

Padahal Yuna sendiri tidak tidur. Ia dengar sapaan Jeffrey, dan tuduhan Adit yang mengatakan dirinya sedang PMS. Ia tidak siap melihat reaksi Jeffrey saat tau dirinyalah yang menjadi Juliet. Padahal, selama ini selalu saja Bella yang mengambil peran utama. Rasanya ia ingin membenarkan kalimat Bella yang mengatakan 'pak Joko mikir apaan sih'.

"Eh Dit, gue denger lo deket sama pemeran Juliet. Dia bukan sih?" tanya Jeffrey menunjuk Yuna dengan dagunya.

"Iya mas. Yuna! Bangun, dicariin Romeo," goda Adit.

Jeffrey hanya tersenyum sejenak sedang Yuna bangkit, mencak mencak karena Adit mengganggu tidurnya. Jujur saja, itu juga untuk menutupi rasa gugupnya dengan Jeffrey.

"Gue capek Dit. Ga boong," ucap Yuna masih pura pura marah. Matanya enggan menatap Jeffrey. Ia tentu peka ketika Jeffrey tersenyum menatapnya.

"Bangunin gue kalo udah mulai," lanjutnya kembali menelungkupkan kepalanya.

Belum ada lima menit Yuna kembali merenung, Pak Joko sudah memasuki ruang opera dan mengumpulkan yang lainnya.

"Kasian masih ngantuk," ucap Jeffrey yang sudah duduk di sampingnya.

Yuna sendiri heran. Dari banyaknya kursi, Jeff malah memilih duduk di sampingnya. Sedang Adit berpindah tempat di depan pak Joko.

"Selamat sore. Langsung saja kita mulai acaranya,"

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status