เข้าสู่ระบบRianti bersedia menjadi ibu pengasuh bahkan mengadopsi anak yang di asuhnya. Bagaimana perasaannya kalau putra yang di sayangi sepenuh hati ternyata darah daging suaminya sendiri? Akankah Rianti memaafkan Syarif yang telah mengkhianatinya?
ดูเพิ่มเติม"No! Mom, stop! Please—!"
Raina flinched as her mother’s hands reached for her again.
Her face burned.
Glass shattered. Her scream echoed—She woke with a start, heart pounding.
Silence.
Only the low hum of the air conditioner filled the hotel room. Sweat clung to her back. Her hand shot to her cheek as if expecting blood or bruises.
It was dry. Smooth.
But the ache was still there.
She sat up, pushing off the heavy blanket and perching on the edge of the bed, elbows on her knees. Her breath came in shallow waves.
"Five years," she whispered. "And she’s still haunting me."
The nightmare was always the same.
Her mother. The screaming. That cold, twisted smile. And the baby—the one she never got to hold.She stood and walked into the bathroom, flicking on the light. Cold water. Splash. Again. Again.
She stared into the mirror.
Her reflection stared back—elegant, polished, but exhausted.
Her phone buzzed on the counter.
Unknown number.
[The truth you’re looking for lies in Elaris. Go back—if you dare to face it]
Her blood went cold.
She scrolled back. Dozens of similar messages.
Different numbers. No names.One had included a photo of her mother’s old research lab—burned down years ago.
Another had shown a baby bracelet.
A name tag she wasn’t supposed to have seen.
Elaris.
She hadn’t said that name aloud in years.
...
That morning, Raina packed all her belongings and rushed to the airport.
Jasper Hale—her ex-fiancé—had come in person to invite her to his engagement ceremony. She rejected him without hesitation.But after the text she received last night, everything changed.
It was time.
Time to uncover the truth buried five years ago.The plane hummed steadily through the clouds, but Raina’s mind was anything but still.
Her eyes stared out the window, blank and unfocused.
It had been five long years.
She hadn’t even been allowed to hold her baby after birth. Just one sound—that single, soft cry—and then... nothing. They took the child away before she could even see their face.
She was told the baby didn’t survive. But something deep in her soul had always said otherwise.
Later, a man claiming to be her uncle had whisked her out of Estravia after the scandal. Under his protection, she’d undergone treatment, reconstructed her face, and vanished from public view.
But she hadn’t come just for the child.
She was back to settle old debts.
She pulled out a slim folder from her bag. Inside were profiles and updates on the current elites in Elaris. If she was going to stir the hornet’s nest, she had to know who still held the power—and who would stand in her way.
She barely had time to flip the first page before a loud crack and an angry voice split through the cabin.
“What are you, blind? Do you know how much this suit cost? You better get on your knees and wipe this up before I have your job!”
Raina didn’t even need to look to know who it was.
Jasper Hale.
Of course.
She turned her head slowly. There he was, slouched in first class, radiating arrogance in a sickly green tailored suit that did his ego more favors than his figure.
The very same man who had demanded her mother’s research—LYNX-V—while she was hospitalized. The same man who cut off their engagement the moment she was no longer useful to him.
Now, just the sound of his voice made her stomach twist.
A flight attendant stood frozen, apologizing repeatedly while trying to clean up spilled champagne. Her hands shook. Jasper leaned back, clearly enjoying the discomfort.
“You’re lucky I’m in a good mood,” he sneered, his tone dripping with smugness. “But maybe if you’re sweet to me later, I’ll forget this little accident.”
Even speaking quietly, he wasn’t subtle.
Raina let out a soft, mocking laugh.
Some things never change.
Jasper’s ears perked up. He turned toward the sound and saw a woman sitting alone two rows back—slender, elegant, masked. But her eyes... her eyes were mesmerizing.
He stood and sauntered over like a wolf in designer shoes.
“Hey, gorgeous,” he said, flashing a practiced smile. “That laugh was something else. You got a name to go with it?”
Raina didn’t even blink. “No.”
Jasper froze, caught off guard. “Come on, don’t be like that. I’m just being friendly.”
She didn’t respond.
He hesitated, debating whether to pull out his full Hale charm set—until the announcement system crackled on.
“Ladies and gentlemen, we are now preparing to land at Elaris International Airport. Please return to your seats and fasten your seatbelts.”
He frowned but turned back reluctantly.
Not now, he thought. But soon.
As soon as the plane touched down, Raina moved.
She didn’t wait for the rest of the passengers to shuffle off. She moved quickly, slipping on a large hat and a long beige coat that concealed her figure.
At the terminal exit, she spotted them.
Three men in plain clothes—watching the arrivals too closely. Coordinated movements. Subtle earpieces.
Not police. But definitely trained.
She couldn’t be sure if they were watching for her… or someone else.
Either way, she wasn’t about to take chances.
Raina slipped past the crowd, adjusted her mask, and ducked into a side corridor leading to the VIP lounge. From there, she used a secondary security gate to exit through a restricted-access car lane.
***
Rianti sangat kaget saat tangannya di pegang oleh kakak iparnya. "Kamu menjatuhkan kuncimu, nih" Didin memberikan kunci itu pada Rianti. Rianti langsung merebut kuncinya dari tangan Didin."Makasih bang." Ia berlari ke kamarnya. Entah mengapa dia takut sekali pada suami iparnya itu. Takut di lecehkan, mungkin karna sekarang dia banyak baca novel drama rumah tangga jadi sedikit berhati-hati.'Aku akan berusaha mendekati Rianti, menawarkan diri sebagai kakak angkat dan sebagai tempat curhat, lalu membuat nyaman Rianti berada bersamaku, bila perlu ku ajak selingkuh balik buat balesin dendam ke Syarif. Sepertinya harus ganti istri apalagi kalo istrinya Rianti bakal bahagia seumur hidup kayaknya.' Batin Didin.Rianti sudah tau akal bulus kakak iparnya, membaca novel rumah tangga ternyata cukup membuatnya parno, apalagi sampai ada cerita mertua memperk*sa menantu, adik ipar di perk*sa kakak ipar. Sebenarnya tadi ia takut terjadi hal buruk padanya.'Sepertinya aku harus berpura-pura berbai
"Bu, bangun bu." Aku menggoyang-goyangkan tubuh ibu mertuaku, menyesal sekali sudah berucap kasar padanya. Mungkin ibu shok baru kali ini di bentak menantu, pasti dia sakit hari."Ria, Ria ibu kenapa Ri?" Tanya Mas Syarif yang datang tiba-tiba dia langsung memangku ibu ke kursi. Kemudian ia menempelkan minyak kayu putih di hidung ibu. Perlahan ibu membuka matanya. Ibu menangis memukul-mukul Mas Syarif."Anak sialan. Anak sialan. Aku sekolahkan, aku ngajikan aku didik kamu agar tak menjadi pezina, tapi kau malah zina. Anak sialan, huhu..." Ibu menangis histeris"Maafkan Syarif, Bu." Mas Syarif menangis di kaki ibunya"Minta maaflah pada istrimu karna dia yang paling terluka." Ibu memalingkan wajahnya dari Mas Syarif, kemudian Mas Syarif menatapku, buru-buru aku lari dan mengunci diri di kamar. Menyender di belakang pintu lalu berjongkok perlahan, mata ini tak henti-hentinya menangis.Sementara di luar, Mas Syarif terus menggedor-gedor pintu dan terus memanggil-manggil namaku. Tega, ka
Syarif dan Rianti bergegas ke dapur untuk menemui sumber suara. Ternyata itu bukan Bu Aas tapi Mirna."Apa gak salah denger, Si Rianti hamil?" ucap Mirna juga tak percaya."Iya, gak salah dengar aku tak mandul teh. Perasaanku sih mengatakan kalau bayi yang di kandungku berjenis kelamin laki-laki. Uh, ibu pasti senang, anak ini pasti jadi cucu kesayangan ibu." Rianti sengaja memanas-manasi kakak iparnya karna ingin membalas perlakuannya."Idih, kasian yah bunting nunggu ngadopsi anak dulu. Kasian deh nanti pasti anak pungutnya di buang lagi tuh." Ucap Mirna tak mau kalah."Udah-udah kaya anak kecil aja ribut. Maneh juga Mir, kenapa sih dari dulu syirik aja sama kehidupanku. Dan ingat, kami akan membesarkan Ammar bagaimanapun Ammar sudah menjadi anak kami." Tentu saja Syarif membela istrinya, dari dulu Syarif dan Mirna memang jarang akur."Maneh nu pilih kasih, ka anak si Teh Fitri jeng Teh Sarah maneh mere 5 juta, sementara ka anak aing maneh kur mere sajuta, padahal da sarua anak ain
Hari menginjak sore ke tiga kakak iparku memutuskan untuk pulang, padahal ku kira mereka akan menginap. Mereka berpamitan dan menyelipkan amplop untuk anakku katanya sebagai hadih. Aku jadi malu, alhamdulillah Ammar di kelilingi orang-orang baik."Nanti aja atuh Teh, kan belum ketemu sama Mas Syarif." Cegahku"Udah sore bibi Ria, gak apalah nanti juga ketemu lagi," jawab Teh Fitri."Makasih yah semuanya, maaf merepotkan kallian sekali, Ammar pasti senang punya uwa yang pada baik hati, terima kasih yah Teteh-teteh sudah menerima Ammar dengan baik walaupun Ammar bukan darah dagingku dan Mas Syarif.""Kita kan keluarga, mau darah dagingmu atau bukan keluar dari rahimmu atau bukan, saat kalian memasukan Ammar jadi anggota keluarga kita semua jadi keluarga Ria," ah, Teh Fitri memang bijak aku suka sekali sama kakak Mas Syarif yang satu ini.Mereka akhirnya pergi meninggalkan pekarangan rumah, akhirnya rumah ini sepi kembali. Kulihat wajah ibu mertuaku sepertinya enggan mereka pergi mencega
Aku beruntung sekali menikah dengan Mas Syarif. Selain tampan, Mas Syarif juga mapan. Keluarganya juga menerimaku dengan baik, tak ada lah mertua julid ipar julid, akupun betah tinggal di sini.Dia meminta izin padaku untuk mengonytak, karna akhir-akhir ini dia selalu pulang larut malam, jarak dari
Awalnya aku tak tahu kalau Bang Syarif mempunyai istri, karna temannya bilang kalau Bang Syarif itu jomlo, bodohnya aku percaya saja."Bang, Minta duit!""Kan kemarin sudah ku kasih, Rianti saja belum ku kasih.""Siapa, Rianti?" tanya ku penuh amarah"Istriku.""Apa? jadi kau bohong padaku, kau sud
"Kamu tahu dari mana, kalau anak ini berjenis kelamin laki-laki, Mas?" tanya Rianti padaku membuat jantungku hampir copot."ikkhhhh, kan dari postingannya kemarin. Kamu lupa yah?" jawabku, untung aku tak memperlihatkan ke gugupanku."Masa, sih? kok seingatku ibunya gak nyantumin jenis kelaminnya de
"Mas, kalau kita sampai tua gak punya anak bagaimana?" "Ya, gak apa-apa. Sekarang zamannya freechild, gak ada salahnya kan kalau kita freechid mengikuti zaman sekarang, gak usah terbebani oleh apapun Ria, aku cinta kamu apa adanya kok." Syarif pun memeluk erat sang istri.Rianti dan Syarif adalah


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.