Mag-log in“Apa yang mau kau katakan?” balas Velian, terdengar tidak suka dengan arah pembicaraan itu.“Tadi aku juga mengajukan perceraian kepada Rhys. Tapi dia tidak setuju karena anak ini belum lahir.”Velian terdiam sejenak.Ia tidak tahu bahwa Leona juga ingin berpisah dari Rhys. Meski begitu, kabar tersebut tidak terlalu mengejutkannya. Bahkan sebelum alur cerita berubah, ia sudah mengetahui bahwa Rhys bertahan dalam hubungan itu terutama karena anak yang dikandung Leona, bukan karena perasaan terhadap wanita itu.Hanya saja, sikap Rhys memang membingungkan.Perhatian yang ia berikan, cara ia memperlakukan Leona, serta keputusan-keputusannya yang seolah selalu mempertimbangkan keadaan wanita itu membuat Leona perlahan terbuai. Mungkin, tanpa disadari, Leona mulai menganggap perhatian tersebut sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar tanggung jawab.Padahal, sejak awal, hati Rhys tidak pernah benar-benar berada di sana.“Semua orang di sini tahu bahwa cinta Rhys hanya untukmu dan Alverine, E
Garrick berhenti di depan ruang makan, sementara Velian dan Alverine terus melangkah masuk.“Selamat pagi semuanya!”Sapaan Alverine yang penuh semangat segera memenuhi ruangan.Velian ikut tersenyum kepada seluruh anggota keluarga yang sudah duduk menunggu. Rhys, Raven, dan Leona membalas senyumnya.Namun, Velian bisa langsung merasakan ada yang berbeda.Senyum mereka bukan senyum seperti biasanya. Lebih menyerupai senyum berat yang dipaksakan tetap hadir demi menjaga suasana di depan Alverine.Mereka kemudian menyantap sarapan dalam suasana yang relatif tenang. Tidak banyak percakapan yang terdengar. Alverine pun makan dengan tenang seperti biasanya.Begitu selesai, ia segera menatap Rhys.“Papa, aku mau ke taman belakang. Berlatih pernapasan lagi.”“Baik. Kalau lelah, jangan dipaksakan.”“Iya, Papa.”Alverine kemudian melirik Velian yang sedang meneguk segelas jus jeruk Morwenia—minuman berwarna jingga dengan rasa asam-manis yang menyegarkan.“Aku ke sana bersama Mami Eira, boleh t
“Bagaimana pendapat Alverine? Saya yakin kau sudah memberitahunya,” ucap Rhys, kembali menatap Raven. “Alvie mengerti.” Tangan Rhys perlahan mengepal di atas pahanya. Lagi-lagi, Alverine harus menyesuaikan diri dengan keadaan orang tuanya. Selama hampir enam tahun, Raven telah menjadi sosok yang selalu ada di sisinya. Wajar jika Rhys khawatir kepergian Raven akan membuat Alverine sulit menerima perubahan itu. Terlebih, gadis kecil itu sudah begitu terbiasa memiliki Raven di rumah, menemaninya setiap hari. Rhys tidak ingin Alverine kembali kehilangan sosok yang selama ini ia anggap sebagai ibunya. “Sekarang, kembalilah ke meja makan dan bersiap untuk sarapan,” titah Rhys sembari beranjak dari kursinya. Selama Rhys berbicara dengan Raven dan Leona, Garrick berada di lantai atas, tepatnya di kamar Alverine. Begitu tiba di depan kamar, ia mendapati gadis kecil itu sedang menggunakan kekuatannya untuk merapikan mainan dokter-dokteran. Kotak perlengkapan medis mainan yang bers
“Kau tidak kesal, jengkel, atau marah kepadaku karena sudah membohongimu?”“Semua sudah terjadi.” Rhys menatapnya tenang. “Apa lagi yang membuat saya harus kesal, selain karena saya tidak bisa mengembalikanmu ke duniamu?”Velian terdiam semakin dalam.Rhys melanjutkan dengan suara rendah, “Saya ingin Eira yang terus berada di sisi saya.”Velian menarik selimut hingga membalut tubuhnya, lalu membawanya sampai ke kamar mandi. Tubuhnya terasa lengket setelah berkeringat sepanjang malam, sehingga ia ingin segera membersihkan diri.Sementara itu, Rhys juga bersiap kembali ke kamarnya. Ia mengenakan kembali pakaian yang dipakainya semalam sebelum menggantinya dengan setelan yang lebih santai.Sehari sebelumnya, Rhys telah mengosongkan jadwalnya agar dapat memberikan waktu sepenuhnya untuk keluarganya. Namun, pagi ini beberapa urusan sudah menantinya.Begitu memasuki bangunan utama, pandangan Rhys langsung tertuju pada ruang pertemuan keluarga—ruangan yang biasa
“Jadi, pikirkan baik-baik. Apa pun pilihanmu, aku akan tetap berada di sisimu.”Rhys menundukkan kepala, lalu mengecup kening Eira dengan lembut. “Akan saya pikirkan malam ini."Eira mengangguk kecil. Kelopak matanya mulai terasa berat. Ia bersiap memejamkan mata ketika leher Rhys sedikit terangkat untuk melihat wajahnya. "Sudah mau tidur?” “Aku mengantuk.” “Jangan tidur dulu,” cegah Rhys. Eira mendongak dengan wajah bingung. “Kenapa?” “Nanti ketika kau bangun, yang hadir Velian. Suasananya pasti lebih canggung.” Rhys menghela napas pelan. “Tidurnya nanti saja.” “Kalian juga pernah bercin—” Eira belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika Rhys buru-buru membekap mulutnya. “Jangan dilanjutkan.” Eira terkikik di balik telapak tangannya. Rhys akhirnya melepaskannya. “Saya tidak tahu saat itu,” katanya membela diri. “Oh, ya?” Eira mengangkat alis, jelas sedang menggoda. Rhys menatapnya beberapa saat sebelum tersenyum nakal. “Bagaimanapun, saat itu saya tidur denganmu karena
Cara Rhys memandang Eira.Cara pria itu selalu mencarinya di tengah keramaian. Cara suaranya berubah ketika berbicara kepada Eira. Cara ia melindungi, mengkhawatirkan, bahkan kehilangan ketenangannya ketika Eira terluka.Raven tidak perlu bertanya kepada Rhys untuk mengetahui jawabannya.Hati pria itu memang tidak pernah berada di tempat lain.Hatinya hanya untuk Eira.Dan untuk pertama kalinya, Raven tidak merasa marah karena menyadarinya.Ia justru merasa lega.Sebab selama ini, tanpa sadar, ia masih hidup dengan kemungkinan bahwa mungkin suatu hari Rhys akan melihatnya sebagai seorang perempuan, bukan sekadar ibu bagi Alverine atau istri yang dibutuhkan untuk menjaga kestabilan keluarga.Kini Raven tahu bahwa kemungkinan itu tidak pernah ada.Ia tidak ingin merebut tempat Eira.Tidak ingin menunggu seseorang yang hatinya sudah memilih perempuan lain.Dan yang paling penting, ia tidak ingin Alverine kelak tumbuh dengan pemahaman bahwa cinta berarti bertahan di tempat yang tidak lagi
Ketika Rhys sudah berdiri di hadapannya, Velian justru bergeser menutupi sebagian tubuh Garrick dengan tubuhnya sendiri. Garrick mengerutkan dahi, tak mengerti dengan sikap aneh itu.Jika ada yang paling mengenal Rhys, maka itu adalah Velian—karena dialah pencipta tokoh pria ini dalam dunia asliny
Pundak Rhys tak setegang biasanya, seolah bersiap mendengar permintaan Eira. “Jika ingin bepergian, bawa saya atau Garrick untuk menemani.” Velian hampir mendengus. Bukankah sama saja? Rhys dan Garrick bagai pinang dibelah dua. “Kalau sendiri, tidak boleh?” tanyanya hati-hati. “Jika kamu ping
“Nona Eira.” Mata masih terpejam, Velian merasa seperti ada yang memanggil. “Nona Eira.” Suara itu terdengar lagi. Velian sudah terbiasa mimpi tokoh-tokoh dari novelnya. Biasanya pertanda sudah siang, seakan-akan mereka membangunkannya. Dengan malas, ia membuka mata. Seketika terkejut, buru
Sebuah negeri di ujung peta dunia berdiri dengan megah: Morwenia. Rakyatnya hidup tenteram di bawah naungan istana, tunduk sepenuhnya pada aturan kerajaan. Negeri itu dipimpin oleh Raja Aethelred IV dan Ratu Isolde VI, pasangan penguasa yang dikenal bijaksana sekaligus berwibawa. Di tangan mereka,







