แชร์

120. Gelas Terbang

ผู้เขียน: Leva Lorich
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-06 13:12:38

"Toni yang waktu itu minta sendiri supaya kami semua tidak mendekatinya, Master. Dia yang meminta kami agar tidak datang ke rumah kalian demi menjaga kedamaian dan ketenangan hidup keluarganya," terang Leo membeberkan alasan masa lalu mereka.

"Betul sekali, Master. Toni itu memang seorang ahli bela diri dan pengguna energi Qi yang sangat hebat, tapi dia aslinya sama sekali nggak suka dengan yang namanya pertarungan. Dia nggak mau terseret ke dalam pusaran konflik dunia bela diri yang nggak ada
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   230. Ramuan Pengasihan

    Kedua gadis itu mulai makan tanpa kata. Suasana di meja makan terasa kaku dan hening, hanya berhias denting halus antara sendok dan piring kaca yang saling beradu. Ketegangan di antara mereka berdua seolah memanaskan udara di dalam ruangan tersebut.Hanya Panda yang sesekali mengangguk dan tersenyum pada Toni dan Teja. Tatapan matanya yang teduh serta gesturnya yang sopan memancarkan ketenangan tiada tara, sangat berbanding terbalik dengan Linda yang terus menunduk menyantap makanannya dengan raut wajah cemberut.Begitu selesai makan, Panda segera bangkit. Jemari lentiknya bergegas meraih termos herbal dan menggeser piring kosong di depannya. "Biar aku yang bersihin mejanya, Ja," tawarnya halus sembari menyunggingkan senyuman manis ke arah Teja.Namun Linda justru mendahului berdiri!Gerakannya yang mendadak membuat kursi yang didudukinya terdorong cukup keras ke belakang. "Aku aja!" sergah Linda cepat, tak rela membiarkan Panda mengambil perhatian dan simpati dari penghuni rumah

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   229. Perang Petir

    Saat pintu terbuka, Linda terlihat berdiri di sana. Gadis itu mengenakan pakaian kasual yang rapi, memegang tas kecilnya dengan wajah yang memancarkan kecemasan mendalam."Linda?! Kok pagi gini udah ke sini?" tanya Teja heran. Pemuda itu menggeser posisi berdirinya di ambang pintu, menatap kekhawatiran yang terpancar dari paras cantik sang tamu."Aku denger kamu kalah dari Suko, Ja. Aku kepikiran terus sama kamu. Makanya aku buru-buru ke sini," aku Linda jujur. Suaranya agak bergetar, menatap langsung ke dalam mata Teja tanpa berusaha menyembunyikan rasa gelisah yang menyita pikirannya sepanjang malam."Kamu nggak kenapa-kenapa, kan? Ada yang parah nggak lukanya?" tanya Linda khawatir sembari memeriksa sekujur tubuh pemuda berambut gondrong idolanya tersebut. Tangannya bergerak cepat memegang kedua lengan Teja, meneliti dari pundak hingga pergelangan tangan untuk memastikan tidak ada tulang yang patah atau terluka."Santai. Nggak kenapa-kenapa kok. Eh masuk yuk, ikut sarapan," aja

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   228. Open Source

    Merasakan memiliki kebebasan penuh atas fisiknya sendiri, Teja membulatkan tekad untuk mengambil langkah berani. Pemuda itu paham betul bahwa jurus yang diwariskan secara turun temurun dari leluhurnya memerlukan perombakan agar bisa mencapai level yang lebih tinggi.Ia pun memejamkan mata sejenak di tengah pelataran halaman belakang rumahnya yang masih diselimuti embun fajar tersebut. Bayangan pertempurannya melawan Suko diputar kembali di dalam ingatan dengan sangat mendetail. Teja mengingat betul bagaimana serangan Suko mampu menerobos pertahanannya, serta bagaimana gerakan tebasan tangan Suko meluncur tanpa kendala. Dari titik pemahaman itulah, Teja mulai mengeksekusi rekonstruksi gerakannya.Jurus-jurus itu adalah jurus sebelumnya yang ia modifikasi di bagian tertentu untuk menyempurnakannya. Pada jurus pendorongan telapak tangan yang semula berfokus pada kekuatan lurus ke depan, Teja menambahkan sedikit putaran pergelangan tangan dan alihan tumpuan pinggul. Perubahan kecil

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   227. Masih Belum Cukup

    Jika orang biasa butuh waktu lama untuk menempa fisik, tubuh istimewa Teja yang disokong warisan lilitan kain leluhurnya mampu meningkat lebih cepat. Rekayasa biologis yang terpacu oleh aliran energi murni Qi memangkas proses pembentukan jaringan otot yang normalnya memakan waktu berbulan-bulan menjadi hitungan singkat saja. Setiap sel, urat, dan pembuluh darah beregenerasi dengan luar biasa tanpa meninggalkan kerusakan mikro pada struktur organ dalamnya.Malam hari usai berolahraga optimal, Teja bisa merasakan tubuhnya yang lebih kekar dan lebih ringan dalam melangkah. Otot-otot di lengan, dada, dan tungkai kakinya memadat sempurna, membungkus tulang-tulangnya dengan kerapatan yang tak membuat kaku, melainkan justru memberikan kelenturan serta daya ledak tenaga yang kian terasa.'Hmm. Kalau sehari saja bisa seperti ini berarti dalam dua minggu tentu akan semakin luar biasa,' gumam Teja. Pemuda itu menggepalkan telapak tangannya di tengah keremangan malam, merasakan getaran daya t

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   226. Jangan Terulang Lagi

    "Kamu harus memahami batasanmu sendiri, Ja. Memaksakan otot membesar maksimal justru bakal merusak fisikmu. Memacu kerja jantung berlebihan juga nggak baik. Intinya, jangan berlebihan. Segala sesuatu yang berlebihan itu nggak baik!" nasihat Toni. "Baik, Yah. Aku bakal perhatikan itu," jawab Teja patuh. Pemuda itu menganggukkan kepalanya perlahan, menanamkan baik-baik setiap kata petuah dari sang ayah ke dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Ia sadar betul bahwa pengoptimalan jalur fisik dan jaringan otot ibarat pisau bermata dua yang sanggup meremukkan pilar kehidupannya sendiri jika tidak berhati-hati.Usai berbincang, Teja segera berganti pakaian olahraga dan melangkah ke halaman belakang rumahnya yang dilengkapi kolam renang pribadi. Area terbuka bernuansa asri itu dipagari oleh tembok tinggi yang menjamin privasi penuh, menyajikan keheningan ideal yang ia butuhkan untuk mulai membedah serta merombak batas kemampuan fisiknya secara mandiri.Hembusan angin sore bertiup lembut m

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   225. Pemahaman Baru

    "Pria itu namanya Suko, Yah. Dia kakak seperguruan dari Denny," terang Teja pada sang ayah. Pemuda itu membenarkan posisi duduknya, bersandar pada sandaran sofa sembari memegang dadanya yang masih menyisakan rasa sesak akibat benturan pukulan tadi.Toni mengangguk dan menyimak. Raut wajahnya berubah semakin serius mendengarkan penuturan anak semata wayangnya tersebut. "Lanjutkan, Ja," pinta Toni perlahan."Dia berada di ranah bela diri tingkat tinggi tahap puncak dan penguasaan energi Qi tingkat dua," lanjut Teja. Suaranya terdengar agak berat saat mengakui keunggulan kapasitas bertarung lawan yang baru saja menghantamnya hingga luka dalam."Dan aku kalah, Yah. Aku tadi bisa saja habis di tangannya, tapi dia ngasih tantangan baru. Dia nyuruh aku meningkatkan kemampuan dan mengajakku bertanding ulang dua minggu lagi," ungkap Teja membeberkan kenyataan pahit yang dialaminya. Kepalan tangannya mengencang di atas lutut, menahan gejolak rasa malu dan kekecewaan yang merayapi batinnya.

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   49. Serangan Beruntun

    "Kamu bukan tandingan guru silat itu, Tang. Mereka memiliki keahlian bela diri dan terlatih, beda sama kamu yang cuma bisa tawuran," ujar Teja menolak tawaran Bintang dengan nada yang tetap tenang dan realistis.Bintang menunduk lesu dan segera mundur ke samping posisi berdiri Nana, merasa malu di

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   9. Sengaja Memperlambat

    “Nanti lengket semua kena gel pelicin pijat, Ja, kalau pakai baju,” jawab Septa santai—tanpa beban. Teja berusaha keras mengendalikan tatapannya, sekaligus mengendalikan detak jantungnya yang kian berdentum bertalu-talu. “Ba-baiklah, Bu Septa,” tangan Teja bergerak cepat meraih selimutnya yang ter

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   2. Warisan Sebagai Jalan Hidup

    Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   1. Terbesar se-Indonesia

    “Ohhhh, shhhh. Jangan kenceng-kenceng, Pakk!“ Teja Surya atau biasa dipanggil Tejo yang baru saja masuk kamar dan merebahkan diri di ranjang menjadi tersentak saat mendengar suara itu. Suasana siang yang panas sejak ia pulang dari kampus menjadi semakin panas karena suara desahan tersebut. “Taha

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status