แชร์

644. Rasa Cemas

ผู้เขียน: Leva Lorich
last update วันที่เผยแพร่: 2026-10-26 10:29:26

"Lincan, aku kasih kamu tugas rutin ya sekarang, mau?" tanya Teja seraya memandangi pemuda berambut cepak di hadapannya itu dengan tatapan penuh kehangatan.

"Jelas mau dong, Bos! Mana mungkin saya nolak?! Dikasih tugas sama Bos Teja itu sama saja saya mendapat perhatian khusus dari Bos Teja!" sahut Lincan cepat dengan wajahnnya yang berseri-seri gembira.

Bagi anggota geng tingkat menengah seperti dirinya, dipercaya menjalankan tugas langsung dari sang penguasa tertinggi adalah sebuah kehormata
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   648. Lakukan Yang Terbaik

    Papa Panda melangkah maju lebih dekat. Wajah tuanya yang semula dihiasi keraguan kini berganti dengan raut kepasrahan nldan penuh penghormatan terhadap Teja. Pria tua yang dihormati di kalangan tabib Tionghoa kota Surabaya itu menghembuskan napas panjang, menatap lurus ke sepasang mata keemasan Teja."Cobalah, Nak. Jika kamu bisa menyembuhkan istriku, maka aku, Liong To, akan menganggapmu sebagai guru besarku. Dan aku serahkan Panda sepenuhnya padamu," ucap Liong To dengan suara bariton berat yang bergetar penuh kesungguhan.Liong To yang terkenal sangat teguh dan menjunjung tinggi tradisi kehormatan pengobatan Tionghoa itu menundukkan kepalanya sedikit. Bagi pria tua sekelasnya, menyerahkan putri tunggalnya serta mempertaruhkan sebutan guru besar bukanlah perkara yang main-main.Teja menatap pria tua di hadapannya dengan penuh takzim. Binar mata keemasannya memancar teduh, membawakan aura keteduhan yang amat bijaksana."Pak Liong To, tidak baik jika orang senior seperti Bapak meren

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   647. Diabetic Retinopathy

    "Hasil tes laboratorium resmi dari rumah sakit besar saja menyatakan kadar gula darah istriku normal! Sudah lima kali diperiksa dalam tiga bulan terakhir dan angkanya selalu stabil di bawah batas bahaya!" bantah Papa Panda dengan nada suara yang meninggi dan penuh kepedulian yang tinggi atas kondisi istrinya.Pria tua itu melangkah setengah depa mendekati Teja, mengarahkan telunjuknya yang gemetar ke dada bidang pemuda tersebut dengan tatapan mata sipit yang memancar amarah."Kamu ini anak muda bau kencur yang baru belajar memijat sudah berani-beraninya membuat diagnosa sembarangan! Jangan cuma karena kamu ingin terlihat hebat di depan anakku, kamu asal menuduh istriku kena diabetes! Tabib-tabib senior dengan pengalaman puluhan tahun saja tidak ada yang berani berkata sembarangan seperti itu. Kamu pikir hanya dengan menempelkan tangan di udara tanpa menyentuh sama sekali, kamu bisa lebih tahu dari peralatan medis modern dan laboratorium?!" cerar Papa Panda merendahkan keahlian Teja.P

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   646. Omomg Kosong!

    Papa Panda menghela napas panjang, menatap wajah istrinya yang terbaring sayu di atas tempat tidur ukir tersebut dengan raut keprihatinan yang teramat mendalam."Sudah hampir lima bulan kondisinya makin memburuk," tutur Papa Panda membuka suara. "Kaki dan tangannya sering mengalami sensasi kesemutan yang parah hingga rasa terbakar yang membakar saraf. Berat badannya merosot drastis padahal porsi makannya tetap sama, kulitnya menjadi sangat kering dan bersisik, serta staminanya sangat lemah hingga untuk duduk saja dia merasa kepalanya berkunang-kunang. Bahkan belakangan ini, penglihatannya mulai kabur dan membayang seperti ada kabut tebal yang menutupi kornea matanya."Pria tua itu mengelus jenggot putihnya seraya menggelengkan kepala penuh kebingungan."Ada tabib yang bilang ini cuma masalah asam urat tinggi, ada juga ahli herbal senior yang bilang kalau ini sekadar efek kondisi penuaan alami. Tapi tak ada satupun dari mereka yang bisa menyembuhkan. Gula darah sewaktu dan puasa sudah

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   645. Tumbuh Keraguan

    Deru mesin diesel bertubuh gagah itu membelah kawasan pemukiman tenang di wilayah timur Surabaya. Teja mengemudikan kendaraan dengan fokus penuh, membelah jajaran ruko dan perumahan lama bertema klasik.Pajero Sport putih itu berhenti perlahan di depan sebuah bangunan megah berlantai dua dengan arsitektur oriental klasik yang amat anggun. Gerbang kayu jati berukir naga, pilar-pilar merah kokoh, serta lampion kain merah yang menggantung di sudut teras menegaskan aura kebudayaan Tionghoa yang terawat sangat kuat di rumah keluarga Panda tersebut.Pintu utama terbuka lebar begitu roda mobil Teja berhenti sempurna. Panda melangkah keluar dengan raut wajah cemas dan mata yang sedikit sembap. Gadis keturunan Tionghoa berparas jelita itu mengenakan gaun santai berpotongan sederhana yang tetap memancarkan pesona anggunnya. Tanpa membuang kata, Panda menggamit erat lengan tegap Teja, menuntun langkah sang pemuda menyusuri koridor rumah beraroma ramuan herbal yang menenangkan."Terima kasih

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   644. Rasa Cemas

    "Lincan, aku kasih kamu tugas rutin ya sekarang, mau?" tanya Teja seraya memandangi pemuda berambut cepak di hadapannya itu dengan tatapan penuh kehangatan."Jelas mau dong, Bos! Mana mungkin saya nolak?! Dikasih tugas sama Bos Teja itu sama saja saya mendapat perhatian khusus dari Bos Teja!" sahut Lincan cepat dengan wajahnnya yang berseri-seri gembira. Bagi anggota geng tingkat menengah seperti dirinya, dipercaya menjalankan tugas langsung dari sang penguasa tertinggi adalah sebuah kehormatan yang sangat besar."Kamu antar dan jemput Desan sekolah ya setiap harinya. Desan itu adiknya Desy," ujar Teja memberikan instruksi."Ah, saya tahu anak itu! Dulu sering sakit di rumah kardus!" pekik Lincan menepuk jidatnya tatkala ingatannya melayang pada sosok bocah kurus yang dulu sering terbaring lemas di area pemukiman kumuh kolong jembatan."Jadi dia sekarang sudah sekolah, Bos?" imbuh Lincan menatap Teja dan Desy secara bergantian dengan mata berbinar takjub.Desy yang duduk di samping T

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   643. Pendukung Utama

    Teja lalu menatap Bintang dan Pedro lebih dalam."Tang, Dro… aku mau ngomong hal lain," ujar Teja dengan nada bariton rendahnya yang mendalam.Bintang meletakkan cangkir kopinya perlahan di atas tatakan, sementara Pedro menegakkan posisi duduknya. Lincan yang duduk di samping Pedro ikut memasang raut wajah sangat serius, tidak berani menyela sepatah kata pun tatkala pimpinan tertinggi organisasi mereka mulai berbicara kembali."Apa itu, Bos?" tanya Pedro penasaran."Iya, Bos Teja. Kelihatannya ada hal besar yang lagi Bos rencanakan," timpal Bintang dengan tatapan mata yang penuh fokus.Teja menyandarkan punggung tegapnya pada sandaran kursi kayu. Jemari kekarnya merengkuh pelan jemari halus Desy yang duduk setia di sampingnya, memberikan rasa tenang pada gadis muda yang sedang menyimak percakapan tingkat tinggi tersebut."Sebentar lagi aku lulus kuliah. Orang-orang kepercayaanku ada kamu berdua, ditambah Pak Buan dan Pak Budi yang mengelola Surya Pengamanan Nusantara di Jakarta, ser

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   2. Warisan Sebagai Jalan Hidup

    Teja melangkah menaiki tangga kampus dan berpapasan dengan Nana. Memori tentang desahan aneh Nana kemarin sore kembali menyumpal di benaknya. Ia hanya mampu menunduk canggung tanpa berani menatap mata si cantik Nana. Nana memang bukan idola kampus. Dia adalah penyanyi terkenal namun jarang diliri

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   5. Gundukan Besar

    “Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   4. Kelinci Percobaan

    “Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.

  • Ampun, Jo, Ini Kegedean!   3. Bulan Purnama

    Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status