Mag-log inRachel Estella, perempuan cantik berstatus Mama muda ini sedang bingung memilih pasangan sekaligus Ayah untuk anaknya. Ia dibingungkan dengan dua pilihan, antara bosnya sendiri atau mantan kekasihnya yang tak lain adalah Ayah biologis dari anaknya. Lantas, bagaimana keputusan Rachel? Apakah masa lalu tetap menjadi pemenangnya? Ataukah ia memilih untuk melupakan mantan kekasihnya dan memulai kehidupan baru dengan seseorang yang selama ini menemaninya?
view more“Ma, Pa. Maaf, Rachel hamil.”
“Pergi dari rumah! Papa nggak mau ada aib di keluarga kita.”
“Jangan muncul di depan Mama sama Papa lagi. Mama malu, punya anak kayak kamu.”
“Kalau pengen menghilang dari bumi, bilang ke gue. Nanti gue siapin tali buat bunuh diri.”
***
“Gue bakal tanggung jawab, tapi cukup sampai lo melahirkan aja. Setelah itu, kita harus cerai.”
“T-tapi?”
“Nggak usah banyak mau. Masih mending, gue mau tanggung jawab. Lagian orang tua gue juga nggak bakal mau, punya menantu kotor kayak lo.”
Rachel menundukkan kepala, sembari mengusap air matanya yang sedari tadi mengalir dengan deras.
“Terima kasih. Tapi maaf, tawarannya saya tolak. Saya nggak butuh tanggung jawab dari orang brengsek seperti anda.”
***
“Aku aja yang tanggung jawab. Gimana?”
“Nggak perlu, Za. Aku bisa berdiri sendiri kok.”
“Tapi kamu butuh pasangan, Chel. Punya anak di luar nikah itu nggak mudah.”
“Aku mau gugurin aja.”
***
“Maaf, Mbak. Kita nggak bisa menerima pekerja yang sedang hamil.”
“Saya bisa cuci piring kok, Mas.”
“Nggak bisa, Mbak! Jadi tukang cuci piring itu susah. Apalagi dengan kondisi perut Mbak yang udah besar.”
“Kasih saya kesempatan selama satu bulan, Mas. Saya janji, saya akan berusaha semaksimal mungkin.”
***
“Saya bersedia membayar semua biaya persalinan anda. Tapi setelah itu, anda harus bekerja dengan saya.”
“Apapun itu, akan saya lakuin, Pak. Asalkan anak saya bisa lahir dengan selamat.”
***
Begitulah cuplikan kisah hidup yang ku alami selama ini.
Namaku Rachel Estella. Aku pernah mengalami cobaan hidup yang sangat berat, hingga menjadikanku sebagai manusia paling terpuruk di dunia. Namun itu hanya sementara. Karena setelah anakku terlahir ke dunia, semua kesedihan yang pernah ku alami langsung tergantikan dengan sebuah kebahagiaan yang tiada tara.
Aku memang bukanlah Ibu yang sempurna. Tapi aku selalu berusaha untuk menyempurnakan hidup Putra semata wayangku. Aku tidak menyesal atas kehadirannya di dunia. Dan aku bahagia, dengan takdir hidup yang sedang ku jalani saat ini.
“Bunda sama Papa mau pelgi lagi?”
Aku menatap malaikat kecilku yang sedang duduk di kursi makan. Kemudian aku menghampirinya, dan memberi kecupan singkat di kepalanya, sebelum ikut duduk di sampingnya.
“Nggak boleh sedih gitu dong, mukanya. Bunda kan kerja buat kebutuhan Noah. Katanya Noah pengen mainan baru? Nanti Bunda beliin motor remote kalau pulang kerja. Ya?” ucapku. Berusaha untuk menghiburnya yang sedang terlihat murung saat ini.
Aku tahu, dia selalu keberatan jika ku tinggal pergi bekerja. Karena dia harus kutitipkan di rumah tetangga selama sehari penuh, atau bahkan bisa sampai berhari- hari, lantaran pekerjaan yang menuntutku untuk menjadi orang sesibuk ini.
Beruntungnya, aku memiliki tetangga yang sangat baik. Bahkan dia sudah ku anggap seperti Ibu kandungku sendiri, karena dialah yang membantuku merawat Noah sejak lahir sampai saat ini.
“Noah cape, ditinggal telus. Noah kangen Bunda. Tapi Bunda nggak pelnah ada di lumah. Bunda pulangnya cuma sebental.”
Astaga... bisa- bisa aku menangis, jika melihatnya mengeluh seperti ini. Orang tua mana yang tega, menitipkan anaknya di rumah tetangga sampai berhari- hari. Tapi ini semua ku lakukan juga untuk dirinya, aku tidak mau dia hidup serba kekurangan. Aku ingin masa depannya terjamin, dan hidup bahagia dengan seluruh harta yang ku miliki.
Kemudian aku menangkup wajahnya, sambil menatapnya dengan tatapan yang begitu tulus.
“Noah, dengerin Bunda ya! Bunda janji sama Noah. Tiga tahun lagi, Bunda akan selalu di rumah. Nemenin Noah main, nemenin Noah tidur, nemenin Noah belajar, nganterin Noah sekolah. Ya Sayang ya? Bunda janji. Pegang omongan Bunda,” ucapku dengan sungguh- sungguh.
“Bunda nggak bohong kan? Kalau Bunda bohong, Noah malah sama Bunda.”
Aku tersenyum. Kemudian aku mengangkat tubuhnya dan ku dudukkan di atas meja makan, dengan posisi menghadap ke arahku.
“Emang Noah bisa marah ke Bunda? Bunda aja nggak bisa marah ke Noah,” ucapku, seraya tersenyum menggodanya.
Karena dia tak kunjung tertawa, akhirnya aku menggelitiki perut dan lehernya, sampai akhirnya dia tertawa juga.
“Bunda, ih. Geli,” rengeknya.
“Cium Bunda,” pintaku.
Kemudian dia langsung menyerangku dengan ciuman bertubi- tubi di pipiku, dahiku, hidungku, dan juga bibirku. Hingga membuatku sampai tertawa cekikikan.
Anakku memang baru berumur lima tahun, tapi pemikirannya sudah sangat dewasa. Terkadang, aku sampai kesulitan sendiri menjawab pertanyaannya yang di luar nalar.
Drrt.
Aku melirik ponselku yang sedang berdering. Ada panggilan masuk dari Bosku. Pasti dia akan menyuruhku untuk segera berangkat, karena jam sudah menunjukkan pukul tujuh lebih.
“Selamat pagi, Pak. Ada yang bisa saya bantu?” tanyaku, membuka pembicaraan setelah panggilan tersambung.
“Ada Noah?”
“Ini, lagi makan.”
“Boleh saya ngomong sebentar?”
Akupun langsung mendekatkan ponselku ke mulut Noah. Dan dengan pintarnya, bocah itu langsung menyahutinya.
“Kenapa, Pa?”
“Noah, Papa sama Bunda mau ada kerjaan di Hong Kong. Noah nggak papa kan, kalau ditinggal sama Bunda? Sebentar doang kok, Sayang. Nanti Papa beliin mainan kalau pulang kerja.”
Seperti biasa, Noah tidak akan menanggapi apa- apa jika dipamiti seperti ini. Bocah itu hanya akan diam saja, seolah tidak mendengar apapun.
“Nanti saya coba bujuk pelan- pelan. Bapak tenang aja. Setengah jam lagi, saya akan berangkat ke rumah Bapak,” ucapku.
“Yasudah, kalau begitu. Saya tunggu kehadirannya di rumah.”
Setelah sambungan teleponnya sudah terputus, aku langsung meletakkan ponselku di atas meja kembali. Lalu beranjak ke dapur untuk mencuci piring bekas makan Noah.
Orang yang meneleponku tadi adalah Bosku. Namanya Alan, dia adalah seorang Konsultan bisnis yang sangat sukses, dan sudah memiliki jam terbang yang sangat tinggi. Aku bertemu dengannya sekitar lima tahun yang lalu, ketika aku akan melahirkan Noah ke dunia.
Bisa dibilang, dia adalah orang yang menyelamatkanku dan Noah dari keterpurukan. Karena selain membantuku, dia juga mempekerjakanku sebagai Asisten pribadinya selama empat tahun belakangan ini.
Aku sangat bersyukur, bisa dipertemukan dengan orang sebaik Alan. Meskipun dia selalu bersikap kaku dan judes kepadaku, tapi dia sangat menyayangi Noah. Bahkan dia bersedia untuk dipanggil Papa, dan memperlakukan Noah selayaknya anaknya sendiri.
Seperti yang ku katakan tadi. Karena dia adalah seorang Konsultan bisnis dengan jam terbang yang sangat tinggi, maka jadwal setiap harinya selalu padat. Bahkan dalam satu tahun belakangan ini, terhitung sudah sembilan kali ia bolak- balik ke Luar Negeri. Dan hal itulah, yang membuatku jarang di rumah dan jarang bertemu dengan Noah. Karena aku harus mendampinginya, kemanapun dia pergi.
Namun meski begitu, aku sangat mencintai pekerjaanku. Meskipun sedikit berat, bagi seorang single Mom seperti diriku ini.
Sudah ada lima polisi yang melakukan pemeriksaan di taman belakang rumah Santi. Menurut Polisi, terjadinya ledakan tersebut dikarenakan ada sebuah bom kecil yang dilempar ke taman tersebut. Dan setelah di cek di CCTV, ternyata benar. Ada sebuah benda bulat kecil yang dilempar dari arah luar. Akan tetapi, orang yang melempar tersebut tidak terlihat di kamera CCTV. Jadi mereka semua belum tahu, siapa pelaku pelemparan bom tersebut.“Tante, masuk dulu yuk. Ada yang mau aku omongin. Itu biar diatur sama Pak Polisi.” Alan mengajak Cindy untuk masuk ke dalam rumah, diikuti oleh Rachel dan Santi yang ikut berjalan di belakang mereka.Mereka duduk di ruang keluarga. Rachel berdampingan dengan Alan, dan Cindy berdampingan dengan Santi. Sementara itu, Noah asik bermain sendiri.Sebelum berbicara, Alan menghela napasnya terlebih dahulu. “Dalang dari pelaku yang memukul Rachel udah tertangkap,” ucapnya.“SIAPA?” tanya mereka berbarengan.Alan kembali menghela napasnya lagi. Melihat wajah Santi, i
Alan mengepalkan tangannya kuat dengan wajah yang memerah menahan amarah. Kemudian tanpa basa- basi, ia langsung keluar dari ruangan tersebut dan berjalan menuju tempat di mana mobil sewanya terparkir.Alan mengendarai mobilnya seperti orang kesurupan. Ia sudah tidak peduli lagi, jika dirinya akan ditangkap oleh Polisi ataupun dimarahi orang lain. Lagi pula jalanan juga sedang sepi, hanya ada beberapa kendaraan saja yang lewat.“Vid, lo ke Bali ya, sekarang. Gue pesenin tiket.” Alan berbicara dengan temannya lewat telepon sambil terus menyetir.“Ngapain?” tanya orang itu, yang tak lain adalah David. “Ada urusan penting. Gue butuh bantuan lo.”“Ck. Gue males. Lagi nggak mood ke mana- mana.” “Gue kasih uang saku sejuta.”“Kurang.” “Dua juta.”“Tambahin dikit.” Alan berdecak kesal. “Sialan lo! Lama- lama jadi ngelunjak.”“Yaudah, kalau nggak mau nambahin ya gue ogah ke sana.” “Dua juta setengah.”“Nanggung amat. Tiga juta kek.”Alan mendesis kesal. Karena malas bernegoisasi lama-
Rachel merintih kesakitan sambil memegangi punggungnya. Ia bahkan sampai tidak sanggup berdiri karena saking sakitnya. Ia tidak tahu, siapa orang jahat yang baru saja memukulnya, karena wajah kedua orang itu ditutupi oleh topeng berwarna hitam.“To- long ...” rintih Rachel dengan suara yang terputus- putus. Berharap ada orang yang melihatnya lalu menolongnya.Ia menoleh ke belakang dan melihat kedua orang itu mulai mengangkat tongkat yang dipegangnya lagi. Seolah bersiap untuk kembali menghajar Rachel. Melihat itu, Rachel sontak mengeluarkan semua energinya untuk berteriak.“AAAAA!” teriaknya kencang dengan mata yang terpejam erat.Bersamaan dengan itu, terdengar suara gebukan berkali- kali yang begitu kencang. Namun anehnya, ia tak merasakan sakit sama sekali. Karena penasaran, Rachel pun akhirnya membuka matanya dengan perlahan. Tongkat tersebut tidak mendarat di tubuhnya, melainkan tergeletak di bawah bersama sang pemiliknya. Entah apa yang sudah terjadi, sampai kedua penjahat itu
Aku tentu saja terkejut mendengar perkataan Nena. Ah tidak, bukan aku saja. Semua orang yang berada di dalam ruangan ini juga terkejut mendengarnya. Bahkan Airin saat ini sudah menatapku dengan tatapan yang sangat tajam.“Maksud Nena?” tanyaku. Aku ingin memastikan, apakah ia salah berbicara atau tidak.“Nena nggak mau harta benda Nena jatuh ke tangan orang yang salah. Cukup mereka bertiga aja yang membuat Nena hampir jatuh miskin,” ucapnya sambil melirik Mama, Papa dan juga Airin yang sedang menundukkan kepala.“Tapi─” Aku ingin memprotes, tapi Nena langsung memotong ucapanku.“Cuma kamu, satu- satunya orang yang Nena percaya. Nena tau, kamu bukan orang yang gila harta. Maka dari itu, Nena percayakan semuanya ke kamu. Tolong dijaga dengan baik, karena itu hasil dari kerja keras Kakek kamu dulu.”Aku menundukkan kepala. Diberi tanggung jawab sebesar ini tentu saja membuatku merasa sangat terbebani. Apalagi masih ada pewaris yang lebih layak mendapatkannya, yaitu Mama. Kalau Om Radit s












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.