LOGIN[Sungguh kasihan ibu ini ditinggal merantau suaminya tapi tidak pernah dikirimi nafkah hingga mengharuskannya bekerja sebagai pemulung padahal suaminya bekerja di pertambangan. Naasnya lagi, saat ini anaknya sedang mengidap penyakit TB. Bagi yang mau membantu Ibu ini dan anaknya bisa kirimkan donasinya ke nomor rekening yang tertera di caption] Bayu terkejut saat melihat berita viral di sebuah akun di sosial media. Pasalnya yang sedang diberitakan itu adalah istri dan juga anaknya yang sedang memulung. Bagaimana bisa keduanya kekurangan hingga harus menjadi pemulung? Sedangkan setiap bulannya Bayu selalu mentransfer uang yang cukup banyak untuk istri dan anaknya ke rekening kakaknya yang bernama Sita. Apa yang akan dilakukan Bayu? Apakah Bayu bisa mengungkap apa yang dirahasiakan kakak dan juga ibunya selama dia bekerja? Apakah pernikahan Bayu bisa diselamatkan?
View MoreUREKAI:
In the days of old, the Urekai stood out as the strongest and most powerful beings in the world.
The ancient tongue called them ‘fearsome beasts’ for:
Like werewolves, they could transform into beasts.
Like vampires, they consumed blood.
And walked among humans with no one the wiser.
The ageless, peaceful, selfless beings preferred to keep to themselves. Despite being feared and distrusted, they never responded with aggression.
They granted passage to any species wishing to enter their lands beyond the great mountain and welcomed everyone.
But five centuries ago, an unexpected species attacked the Urekais during their one night of weakness. The humans.
While protecting his people, Grand King Daemonikai lost control of his mind, going feral.
Becoming a danger to the same people whom he had given everything to protect.
Although it seemed impossible, the Urekais managed to capture their king’s beast form, imprisoning him in a secure cage, ensuring he could never escape.
But, consumed by hatred for humans, the Urekai plunged themselves into darkness.
Becoming the fearsome beasts others had always feared them to be.
Wearing their monstrosity with pride.
HUMANS:
After invading the Urekais, a mysterious virus outbreak struck.
No one knew where it came from, but many speculated their attack on the Urekais brought it on.
While most males eventually recovered after a long struggle, the virus proved fatal for the majority of females.
Survivors rarely gave birth to female children. Those left or born became scarce and sought-after commodities.
In many kingdoms, greedy fathers sold their daughters to breeding houses. Some were forced into pleasure houses, existing solely for men's enjoyment. Some faced terrible abuse in exchange for protection.
Even the wealthy and the privileged could not guarantee the safety of the females in their lives, as the mere sight of a female—be it an infant, a young girl, or an elderly woman—drew unwanted attention.
Female children faced constant danger.
They are not safe in the society.
.
.
.
PROLOGUE
HUMAN LAND: THE KINGDOM OF NAVIA.
"It's a g-girl, your highness,"
Prince Garret froze.
As he turned, looking at the palace healer, his hands resting on his exhausted wife's body, shook uncontrollably.
He had secretly arranged the delivery months ago, and now they were hidden in one of the underground rooms in the palace, where his beloved wife, Pandora, was giving birth.
"What did you just say to me?" Prince Garret hoped he heard wrong. Perhaps it had been a mistake.
Please, gods, let it be a mistake!
But the pity in the older man's face couldn't be disguised. The palace healer turned the little bundle. "The baby is a girl."
Terror crossed Pandora's face as she adjusted herself to get a closer look at her baby.
"No. Oh, the gods, please no..." She shook her head vigorously fresh tears gathering in her eyes.
Tears welled in the healer's eyes. "I'm so sorry, your highness."
"No!!!" Pandora cried out burying her face into her husband's waiting arms, sobs after sobs ripping from her throat.
Garret felt numb as he held his wife.
His first daughter, Aekeira, wasn't even four yet, and the king was already negotiating with the kingdom of Cavar to sell her to the highest bidder.
Because, apparently, Navia 'could use more funds.'
King Orestus might be Garret's brother, but he was a tyrant, and his word was law.
Now, another girl child? Two daughters?
Tears filled Garrett's eyes as he looked upon the crying bundle wiggling around in healer's arms.
The world was not safe for either of his daughters.
“I’ll raise her like a boy,” Pandora declared suddenly.
The healer's eyes widened. “Are you suggesting we keep her identity a secret?”
“Yes," Pandora affirmed, her resolve strengthening. "This child will never be seen as a girl. No one will ever find out!”
“B-but, it’s impossible to hide something like this, your majesty." The healer panicked. "The king will order our execution!"
“Then, we take the secret to our grave." Pandora's voice was fierce. "I was unable to protect my first daughter, but by the Light-gods, I will protect my second."
Too dangerous, but Garret was all for it too. This was their best chance to keep their daughter safe, and they would take it.
"As far as we are concerned, the child I bore today was a male." Pandora looked at the baby. "His name is Emeriel. Emeriel Galilea Evenstone."
Emeriel.
It's a neutral name, and also means 'Sky's Protection' in the old tongue. Garret liked it.
Fitting too, for their daughter would need all the luck and protection in the world.
"I agree," Garret spoke aloud.
With the plan fully in his mind, Garret swore the two other men in the room to secrecy.
*********
That night, Garrett and his wife, stood by the baby’s small cradle, watching their newborn sleep. Across the room, their three-year-old daughter, Aekeira, lay curled under a blanket, her tiny chest rising and falling in peaceful rhythm.
"In all my years on this earth, I’ve never seen anyone bear two female children, Garrett," Pandora whispered, voice cracking.
She glanced up at him, eyes glistening with tears. "I don’t know what this means for us... or for them."
Garrett placed a reassuring hand on her shoulder. "Maybe it means they have a great destiny to fulfill."
"Or a great sorrow in their future," Pandora's eyes drifted to their eldest, worriedly. "I’m so scared for them. How could something like this happen?"
“Perhaps you’ve been touched by the gods, my darling," Garrett said in comfort.
"I really doubt that. Why me? Why us?"
He had no answer to that.
"If that’s true," Pandora sniffled, brushing her fingers over the baby’s soft cheek, "may that god always protect my babies. We won’t always be here to do that."
Garrett pulled his wife into his arms, holding her close, fighting to hide his own worry.
Because, she was right.
What were the odds of a couple in these times bearing not just one, but two daughters?
None. Absolutely none.
As he gazed at their sleeping children, prayer rose in his heart. Whatever god you are, please... protect our angels.
“Siapa mereka? Kok tiba-tiba ada di depan rumahku? Apa jangan-jangan … ah tidak mungkin, bukankah tidak ada satu pun yang tahu tentang aku dan anakku? Dan tidak mungkin mas Fahmi yang mengadukan aku ke polisi.” Pikiran Sita menjadi kacau seketika. Sita belum mau membukakan pintu sebab dia masih ragu akan keselamatannya di mana dia juga seorang diri, tidak ada orang lain di rumahnya. “Permisi, Ibu Sita!” Kembali Sita mendengar suara pintu rumah diketuk dan namanya juga disebut oleh salah satu dari mereka. “Duh gimana ini, aku belum siap menghadapi mereka. Dan nggak mungkin mas Fahmi mengadukan semuanya ke polisi, aku ini kan ibunya Rifki aku juga berhak atas anakku.” Tubuh Sita seperti gemetaran. Dia tidak bisa berpikir dengan tenang. Di sekeliling rumahnya pun sudah banyak orang yang memperhatikan seakan ingin tau apa lagi yang terjadi dengan Sita. Karena tidak kunjung dibuka, kedua orang itu menanyakan ke tetangga Sita yang bernama Reni.“Apa Ibu Sita ada di rumahnya?” “Seper
Di perjalanan pulang, Fahmi berniat untuk mendatangi Sita di rumahnya sebab dia tidak menemukan mantan istrinya itu saat menjemput anaknya di jalan tadi. Namun, Bu Tini melarangnya.“Sebaiknya kita langsung pulang saja, percuma kalau kamu ribut dengannya sudah pasti kamu yang kalah. Ibu tau persis watak dan kelicikan mantan istrimu itu. Dia nggak akan semudah itu untuk mengakui kesalahannya,” titah Bu Tini pada Fahmi yang tengah fokus mengendarai sepeda motornya.“Tapi, Bu, aku harus membuat perhitungan dengannya. aku ini juga ayahnya Rifku, aku jelas nggak akan terima kalau anakku disakiti dengan cara seperti ini, Bu.” “Ibu mengerti perasaanmu, tapi kita harus cari waktu yang tepat untuk melawannya, percayalah akan tiba saatnya untuk kita bisa menang melawan Sita. Tapi yang pasti tidak sekarang” Mendengar perkataan sang Ibu, Fahmi akhirnya mengurungkan niatnya untuk melabrak Sita, dan terus melajukan sepeda motornya menuju rumah.Bu Tini sebenarnya tidak ingin terjadi sesuatu pada
Kesabaran Bu Tini akhirnya membuahkan hasil, apa yang dia pikirkan terjawab sudah. Semua jawabannya sudah di depan mata, hanya saja dia tidak habis pikir anak seusia Rifki kok ada di tempat keramaian seperti ini. Entah di mana Sita, karena wanita itu tidak tampak batang hidungnya. Bu Tini merasakan shock saat anak yang dia lihat ternyata benar Rifki meski awalnya dia sudah mengantisipasi. Tanpa berpikir lagi, wanita tua itu langsung memeluk cucunya dengan erat. Fahmi yang melihat dari kejauhan mulai melangkah dan mendekati sang anak. Alangkah terkejutnya dia sebab anaknya yang seharusnya berada di rumah bersama Ibunya, tetapi sekarang justru berada di tempat seperti itu. Rasa bersalah bercampur dengan emosi menyatu dalam diri Fahmi, karena dia seorang ayah seharusnya melindungi, tetapi malah seperti menelantarkan anaknya. Tentu saja luapan kemarahannya tertuju pada Sita.“Rifki, kenapa kamu ada di sini, Nak?” tanya Bu Tini pada Rifki.“Nenek, aku … hmm … aku di sini sama Ibu,”
Tak sabar rasanya, Bu Tini ingin sekali kembali ke tempat itu, di mana dia melihat sosok Rifki yang tengah digandeng oleh seseorang dengan pakaian yang sangat lusuh. Tidurnya pun menjadi tidak nyenyak dan tidak tenang selalu dibayang-bayangi kehadiran cucunya. Entah kenapa, Bu Tini tidak ada menaruh rasa percaya pada Sita sedikit pun. ***Keesokan harinya, Bu Tini kembali mengajak dan mendesak Fahmi untuk diantarkan kembali ke simpang lampu merah tempat dia melihat sosok Rifki pertama kali. keyakinan serta rasa penasarannya pada sosok anak kecil itu begitu kuat. “Ibu yakin mau ke situ lagi? Apa nggak kita ke rumah Sita aja terlebih dahulu?” Fahmi sengaja mengalihkan apa yang ada di pikiran Ibunya, setidaknya keinginan Ibunya itu hanya mau bertemu dengan Rifki.“Enggak! Ibu mau kamu juga ikut cari tau apa yang terjadi pada anakmu, memangnya kamu tidak penasaran apa? Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Rifki kamu juga tidak akan Ibu maafkan, ngerti kamu!?” sentak Bu Tini pada Fahmi.












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore