แชร์

Tuduhan di Jam Makan Siang

ผู้เขียน: NaoMiura
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-31 20:00:13

Hari berikutnya berjalan biasa. Naomi menghabiskan pagi dengan revisi laporan dan dua kali meeting internal yang membuat kepalanya mulai pening sejak pagi. Sampai jam makan siang dimulai. Naomi baru saja keluar dari lift menuju lobby kantor sambil memeriksa pesan di ponselnya ketika ia melihat seorang wanita berdiri tepat di dekat sofa tunggu.

Wanita itu mengenakan blouse biru. Ekspresinya tajam sejak pertama kali melihat Naomi keluar dari lift. Naomi melambat. Perasaannya langsung tid

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Bilur Bulir Bertaut   Langkah Selanjutnya

    Mareeq sempat berusaha menopang tubuhnya dengan satu tangan, tetapi gerakan Naomi yang begitu mendadak membuat mereka tetap terguling ke atas karpet. Beberapa kepingan puzzle terlempar dari meja. Ada yang meluncur ke bawah sofa, ada pula yang berserakan di sekitar mereka. Kotak puzzle terbalik. Gambar rumah kecil dengan taman bunga yang hampir selesai kini kehilangan susunannya, kepingan-kepingannya bertebaran di lantai.Untuk beberapa saat, tidak ada yang bergerak. Mareeq terbaring telentang dengan Naomi memeluknya erat. Satu lengannya masih menyangga tubuh agar Naomi tidak terbentur meja. Sedangkan tangan lainnya secara refleks melingkari punggung perempuan itu."Aku menginginkanmu."Mareeq terdiam. Ia menunduk, mencoba melihat wajah Naomi yang tersembunyi di dekat bahunya. Naomi justru semakin erat memeluknya. Kemudian ia tersenyum kecil mendengar hal yang selama ini dia tunggu.Beberapa detik berlalu sebelum Naomi akhirnya mengangkat wajah. Rambutnya

  • Bilur Bulir Bertaut   Keputusan

    Mareeq menggeser tubuhnya sedikit lebih dekat. Tidak banyak, hanya cukup untuk membuat jarak di antara mereka terasa berbeda.“Aku tidak merasa bersalah karena ingin menyentuh rambutmu,” lanjutnya. “Aku tidak merasa bersalah karena ingin duduk lebih lama di sini. Dan aku tidak merasa bersalah karena setiap kali melihatmu, aku ingin lebih dekat.”Naomi merasakan jantungnya mulai berdebar lebih cepat. Naomi membuka mulut, tetapi tidak segera menemukan jawaban. Ia bisa saja meminta Mareeq menjauh. Bisa saja mengakhiri percakapan ini sebelum dirinya semakin kehilangan kendali. Namun, ia tidak ingin Mareeq menjauh. Yang ia inginkan justru bertentangan dengan peringatannya sendiri.Naomi menunduk, memainkan ujung jarinya. Dia tidak bisa membairkan ini terlalu jauh. Dia juga menginginkannya, tapi dia juga takut."Kita tidak bisa melewati batas lagi." ujar Naomi kemudian.Mareeq terdiam beberapa saat. Kemudian ia berkata, "Aku suka

  • Bilur Bulir Bertaut   Keberanian

    “Aku bahkan tidak melakukan apa-apa.” ujar Mareeq dengan tenang.Kali ini, Naomi membeku sesaat. Mareeq memperhatikan perubahan sikapnya, tetapi tidak berkomentar. Ia hanya kembali menyusun puzzle, membiarkan keheningan di antara mereka terasa nyaman.Mareeq kemudian menyandarkan satu tangan di atas meja dan menatap Naomi dengan ekspresi yang sulit dibaca. “Baiklah, apa yang harus aku lakukan?”Naomi langsung menyesali kalimatnya sendiri. Dia kembali menghadap meja. Ia meraih beberapa kepingan sekaligus, berharap Mareeq akan membiarkannya menyelesaikan puzzle dengan tenang. Namun, pria itu tampaknya belum berniat mengalah.“Naomi.” panggil Mareeq.“Apa?”“Bisakah kamu melihatku?” pinta Mareeq.Dengan enggan, Naomi menoleh. Mareeq menatapnya tanpa senyum kali ini. Tatapannya tenang, tetapi ada sesuatu yang berbeda di sana. Sesuatu yang membuat Naomi mendadak lupa bahwa beberap

  • Bilur Bulir Bertaut   Konsentrasi

    Naomi masih duduk di lantai dengan kaki terlipat, rambut panjang bob-nya sedikit berantakan karena beberapa kali ia menyelipkannya ke belakang telinga. Di sebelahnya ada gelas minum, bungkus makanan, dan kotak puzzle yang tutupnya sudah miring. Televisi menyala dengan volume rendah, menampilkan acara yang tidak benar-benar mereka tonton.Apartemen itu kecil. Tidak ada taman. Tidak ada teras dengan lampu kuning hangat. Tidak ada pintu melengkung atau pagar kayu yang tertutup tanaman merambat.Hanya sebuah ruang tamu sederhana, karpet, meja rendah, dan seorang perempuan yang sedang berdebat dengannya tentang kepingan puzzle. Anehnya, Mareeq tidak merasa kekurangan apa pun. Kontras dengan rumah impian yang dia ceritakan.Mareeq sudah terbiasa pulang ke tempat yang lebih luas, dengan perabot yang tertata rapi dan segala sesuatu berada di tempatnya. Namun, di tempat ini, ia tidak merasa harus memikirkan pekerjaan yang belum selesai, rapat besok pagi, atau keputusan orang lain yang harus ia

  • Bilur Bulir Bertaut   Kepingan Puzzle Di Malam Hari

    Naomi masih memiliki banyak ketakutan. Ia belum tahu bagaimana perpisahan Mareeq dan Raya akan berlangsung. Bagaimana Freya akan menerima perubahan itu. Apakah dirinya benar-benar siap memasuki kehidupan yang selama ini hanya berani ia bayangkan.Namun, malam itu, setidaknya ia mulai memahami satu hal. Mareeq tidak sedang memintanya menghancurkan kehidupan yang pernah ia bangun. Ia sedang berusaha menyelesaikan kehidupan itu dengan bertanggung jawab, sebelum memulai sesuatu yang baru bersama Naomi.Mareeq membiarkan Naomi mengambil bagian dari rumah masa depannya. Merencanakan masa depan bersama. Meskipun dia belum berani menyebutnya rumah mereka.Naomi masih bersandar di sisi Mareeq ketika percakapan mereka perlahan mereda. Tangisnya sudah berhenti, meskipun matanya masih sedikit basah. Ia mengambil tisu dari meja, mengusap sudut matanya, lalu berusaha mengalihkan perhatian pada sisa makanan pasar malam yang mulai dingin.Mareeq tidak mengatakan apa-apa

  • Bilur Bulir Bertaut   Ketakutan

    Mareeq melirik meja di hadapan mereka, tempat sisa makanan pasar malam dan kotak puzzle masih tergeletak. Memperlihatkan sisa-sisa kebersamaan mereka malam ini. Tidak. Seharian ini karena di tempat kerja mereka juga bersama.“Aku membayangkan rumah itu ketika aku memikirkanmu.” ujarnya.Mareeq menatap Naomi lurus-lurus.“Aku sudah menghabiskan cukup banyak waktu menjalani hidup dengan keputusan yang tidak sepenuhnya kuinginkan. Sekarang, ketika aku tahu apa yang kuinginkan, aku tidak ingin terus menundanya.” Ia berhenti sebentar.Mareeq mengusap punggung tangan Naomi dengan ibu jari.“Aku tahu kita tidak bisa menyelesaikan semuanya dalam satu malam. Aku juga tahu masih ada banyak hal yang harus kuurus sebelum aku bisa mengajakmu memikirkan rumah itu dengan serius.”Naomi menunduk. Ada bagian dari dirinya yang ingin mempercayai semua itu begitu saja. Ingin membiarkan dirinya membayangkan rumah yang suatu ha

  • Bilur Bulir Bertaut   Tantangan Pertama

    "Siapa ayah anak itu?"Naomi tidak menatap pria di hadapannya. Dia membuang muka ke arah lain dan menggigit bibirnya sendiri menahan mengatakan sepatah kata pun. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia sangat bingung. Ini di luar kendalinya."Tolong jawab jujur." Pintanya dengan lembut."Ini anakmu.

  • Bilur Bulir Bertaut   Samar

    Sudah 30menit tidak ada satu pun yang menyampaikan ide. Sepertinya mereka tidak bisa memikirkan apapun. Bahkan beberapa dari mereka terdengar menggerutu.Naomi mengangkat tangannya. Seluruh orang yang ada di ruangan memandangnya. Termasuk Mareeq, dia menatap Naomi lekat-lekat."Baga

  • Bilur Bulir Bertaut   Semakin Dekat

    Naomi menghampiri teman-temannya, meninggalkan Mareeq sendirian di tempatnya. Ah! Dia lupa untuk berpamitan. Dia pun berbalik.Oh! Dia melihat ke arah Naomi. Naomi menunjukkan senyumnya, lalu menganggukkan kepala pelan dan bermakna. Sebuah ucapan tak langsung "Aku pergi dulu". Lalu segera berlalu.

  • Bilur Bulir Bertaut   Mendekat

    Naomi pergi ke acara konferensi sesuai dengan undangan yang dia terima. Sebenarnya dia malas ketika weekend harus menghadari acara kantor. Tapi, karena di rumah tidak ada siapapun, jadi dia memilih pergi.Naomi masuk ke ruangan dan menyapu pandangan ke dalam ruangan. Dia ingin tahu apakah ada orang

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status