เข้าสู่ระบบDi dalam kamar presidential suite yang kini terasa kosong, tangis Clarissa langsung mereda begitu pintu tertutup.Rasa tersinggungnya kini mengkristal menjadi kepanikan yang luar biasa. Ia tahu, jika Lexi sudah mulai menjaga jarak secara fisik dan menolak kendalinya, itu adalah alarm bahaya bahwa ingatan pria itu sedang berada di ambang pintu untuk kembali.Dengan tangan gemetar, Clarissa mengabaikan Viona yang sedang sibuk di luar, dan memilih untuk langsung menghubungi sang otoritas tertinggi, Abraham Permana.Telepon berdering tiga kali sebelum suara berat dan berwibawa milik Abraham menyahut di seberang sana."Halo, Clarissa. Bagaimana situasi di Surabaya? Viona sudah mendarat, bukan?""Om Abraham...," Clarissa terisak, sengaja mendramatisasi suaranya agar terdengar sebagai pihak yang paling tidak berdaya. "Lexi, Om..., Lexi sudah benar-benar tidak bisa dikontrol lagi!"Mendengar nada suara Clarissa yang histeris, Abraham di ruang kerjanya di Jakarta langsung menegakkan punggung.
Setelah pintu kamar suite tertutup rapat mengiringi kepergian Viona dan Hendra, keheningan yang canggung kembali menyelimuti ruangan mewah itu. Clarissa menarik napas dalam-dalam, mencoba mengulas senyum termanisnya demi mencairkan suasana. Ia melangkah mendekati sofa, lalu perlahan mengulurkan tangannya untuk memeluk lengan Lexi. Namun, belum sempat jemarinya menyentuh kain kemeja pria itu, Lexi sudah lebih dulu berdiri. Ia melangkah menjauh menuju meja kerja di sudut ruangan, menghindari kontak fisik dari Clarissa untuk kesekian kalinya. Penolakan yang begitu terang-terangan itu membuat senyum di wajah Clarissa langsung lenyap. Rasa cemas yang sejak semalam ia tahan kini berubah menjadi rasa tersinggung yang membakar egonya. "Sampai kapan, Lexi?" tanya Clarissa, suaranya melengking tajam, tidak mampu lagi menahan kekesalannya. "Mbak Viona sudah menjelaskan semuanya! Wanita itu penipu, dia masa lalu yang buruk untukmu! Tapi kenapa setelah mendengar itu semua, sikapmu padaku
Bramantya tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun.Sorot matanya yang tajam kini melunak, dipenuhi kesabaran dan ketulusan yang belum pernah Angel lihat dari pria mana pun sebelumnya. Pria itu menurunkan sedikit tubuhnya, menyamakan tinggi dengan Angel yang masih duduk terpaku."Bagaimana, Angel?" tanya Bramantya perlahan, suaranya yang berat terdengar begitu menenangkan di tengah gemerisik daun-daun taman."Saya tidak meminta jawabanmu detik ini juga. Saya hanya ingin kamu tahu, bahwa di dunia yang kejam ini, kamu tidak perlu lagi menanggung semuanya sendirian."Angel meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan. Dadanya bergemuruh hebat. Penawaran Bramantya adalah sebuah perlindungan mutlak yang bisa menyelamatkannya dari cakar Keluarga Permana, sekaligus memberikan masa depan yang aman bagi janin di rahimnya. Namun, luka masa lalu dari Baron dan rasa sakit akibat takdir Alexis masih menyisakan trauma yang mendalam.Angel menarik napas panjang, mencoba menstabilkan suaranya yang me
Acara seremoni groundbreaking akhirnya ditutup dengan sukses, meskipun ketegangan tak kasat mata masih menggelayuti udara.Para investor dan tamu VIP perlahan meninggalkan lokasi, menyisakan deru alat berat yang mulai bekerja meratakan tanah.Bramantya tidak membiarkan Angel berjalan sendirian, bahkan hanya untuk menuju ke mobil. Dengan protektif, telapak tangan Bram yang lebar berada di belakang punggung Angel, menjaga jarak yang sangat sopan namun tegas, memastikan wanita itu tetap berada dalam jangkauannya."Kevin, kamu bawa mobil Kakakmu. Biar Angel ikut di mobil saya. Kita jalan beriringan sampai ke safe house," perintah Bramantya saat mereka tiba di area parkir khusus.Kevin mengangguk paham. "Siap, Pak Bram. Aku di belakang mobil Pak Bram pas."Bramantya membukakan pintu depan mobil Range Rover Velar hitam miliknya untuk Angel. Sebelum Angel masuk, Bram sempat melirik ke arah pakaian kerja Angel yang sedikit terkena debu proyek. "Masuklah, di dalam AC-nya sudah saya nyalakan s
Bramantya yang berdiri di samping Angel hampir saja tersenyum bangga melihat bagaimana Angel mengesekusi dinding pertahanannya dengan begitu sempurna. Bram langsung melangkah maju kembali, memotong jarak antara Alexis dan Angel."Anda sudah mendengar jawaban dari mitra bisnis saya, Pak Alexis Permana," ucap Bramantya dengan suara baritonnya yang penuh wibawa dan intimidasi."Area ini adalah area steril proyek Wijaya Land dan Bramantya Group. Anda datang tanpa undangan dan telah mengganggu jalannya acara kami. Saya harap Anda bisa meninggalkan tempat ini dengan terhormat, sebelum tim keamanan saya memaksa Anda keluar dengan cara yang tidak menyenangkan."Alexis mengepalkan tangannya di dalam saku jas. Matanya menatap Angel untuk terakhir kalinya, mencoba mencari celah kebohongan di mata wanita itu. Namun, Angel tetap berdiri tegak dengan dagu terangkat dan tatapan mata yang kosong serta dingin, mengabaikan keberadaan Alexis seolah pria itu hanyalah hembusan angin lalu.Merasa tidak a
"Tenangkan dirimu, Clarissa! Tarik napas dan katakan dengan jelas, apa yang sebenarnya terjadi pada Alexis?!" perintah Viona. Matanya memberi isyarat kepada Abraham yang kini sudah berdiri dari kursi kebesarannya, menatap putri sulungnya dengan ketegangan yang memuncak. Di seberang telepon, suara tangis Clarissa akhirnya pecah, memecah keheningan malam yang mencekam. "Tadi malam... Lexi tidak bisa tidur, Mbak. Aku berpura-pura terlelap, tapi aku melihatnya berdiri di balkon dengan gelisah. Lalu pagi-pagi sekali, dia pergi begitu saja meninggalkan hotel tanpa memberi tahu papaku ataupun aku. Dia membatalkan semua agenda hari ini!" Clarissa terisak, napasnya memburu karena kepanikan yang luar biasa. "Hanya karena itu kamu meneleponku sambil menangis seperti orang histeris?" potong Viona dingin, mencoba meredam kepanikan Clarissa meskipun jantungnya sendiri mulai berdegup tidak karuan. "Bisa saja dia hanya pergi memeriksa aset hotel atau menemui kolega bisnis lokal, Clarissa." "B
"Kamu—" Kalimat Angel menggantung begitu saja di udara.Kata-kata makian yang sudah mengantre di ujung lidahnya mendadak menguar tanpa sisa. Lexi sendiri tidak mundur selangkah pun.Sebaliknya, pria itu justru sengaja memajukan tubuhnya satu senti lagi, lalu sedikit menunduk, membuat dada bidangnya
Baron tertegun mendengar pertanyaan Lexi. Pria kekar itu mengerjapkan matanya beberapa kali, seolah baru saja disadarkan dari lamunan panjang oleh pertanyaan polos dari supir pribadinya. Dia melirik dokumen di tangannya, lalu menatap Angel yang wajahnya kini makin merah padam menahan dongkol."Ya su
Malam harinya, kediaman megah Keluarga Van Holden tampak sunyi. Sinar lampu kristal berpendar temaram, menyinari koridor-koridor sepi rumah mewah berarsitektur kolonial modern tersebut.Lexi, yang baru saja selesai membersihkan diri di paviliun belakang khusus kacung macam dirinya, berjalan santai
Wajah Clara langsung merah padam. Kalimat Lexi tepat menghantam titik paling memalukan dalam sejarah hidupnya. Dia melirik cemas ke arah pria gempal yang menunggunya di dekat lobi, takut kalau pria kaya yang sedang menjadi target dompetnya itu mendengar ucapan Lexi."Jaga mulut kamu ya, Lexi! Itu m







