เข้าสู่ระบบLexi mematung di kursinya, menatap nanar pintu ruang rapat yang baru saja tertutup rapat.Keheningan yang ditinggalkan oleh Bramantya dan Kevin terasa begitu pekat, seolah mencekik seluruh pasokan oksigen di dalam dadanya. Urat-urat di pelipisnya menegang hebat seiring dengan rasa pening yang kembali menghantam kepalanya dengan brutal.Lagi-lagi dia gagal. Selisih waktu, benteng hukum, dan barikade proteksi Bramantya selalu berhasil memotong jalurnya tepat sebelum dia bisa menjangkau Angel."Lex." Tasya menyentuh lengan adiknya dengan lembut, matanya memancarkan rasa khawatir yang mendalam melihat tubuh Lexi yang perlahan bergetar menahan gejolak emosi."Kita balik ke Dharmahusada dulu, ya? Kamu butuh istirahat.""Nggak, Mbak," desis Lexi, suaranya terdengar begitu parau, serak, dan pecah akibat keputusasaan yang sudah berada di ambang batas. Ia menepis tangan Tasya perlahan, lalu mencengkeram tepi meja oval mahoni itu dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih sempurna.Tiba
Malam itu, di dalam ruang tengah rumah singgah Dharmahusada, suasana terasa begitu sunyi dan dingin.Jam digital di dinding sudah menunjukkan pukul dua dini hari, namun Lexi masih duduk tegak di depan laptopnya. Berkas-berkas legalitas Permana Infrastructure berserakan di atas meja, menjadi satu-satunya senjata hukum yang ia miliki untuk memaksa Angel keluar besok pagi.Di kursi seberang, Tasya menatap adiknya dengan tatapan iba. Dia bisa melihat dengan jelas bagaimana gurat kelelahan dan frustrasi yang amat mendalam mencengkeram wajah tampan Lexi. Pria itu berulang kali memijat pangkal hidungnya, menahan denyut nyeri di kepala yang kian menyiksa setiap kali dia mencoba menggali ingatan masa lalunya yang kosong."Lex, mending kamu tidur dua jam," tegur Tasya lembut, menggeser segelas air putih hangat ke dekat Lexi. "Kalau besok kamu tumbang di meja pleno, Bramantya bakal dengan mudah menguliti kamu hidup-hidup di depan umum."Lexi mengepalkan tangannya di atas meja, napasnya keluar
Lexi memutar tubuhnya, berjalan keluar dari restoran dengan langkah lebar yang dipenuhi kemurkaan. Rasa frustrasi karena selalu berselisih waktu beberapa menit dari Angel mulai membakar habis sisa-sisa kesabarannya. Di dalam mobil sewaan, Tasya hanya bisa diam, memperhatikan adiknya yang kini menatap lurus ke depan dengan rahang yang mengatup rapat. "Mbak, kita nggak bisa main kucing-tikus kayak gini terus," desis Lexi, suaranya terdengar begitu rendah dan berbahaya. "Bramantya punya jaringan perimeter yang terlalu rapi di kota ini. Setiap kali gue mengendus keberadaan Angel, cowok itu pasti langsung memindahkan dia lewat pintu belakang." Tasya memundurkan sandaran kursinya, menatap Lexi dengan sebelah alis terangkat. "Terus rencana kamu apa, Lex? Waktu kamu sisa dua hari sebelum pemecatan dan pencabutan hak waris kamu di Jakarta resmi ditandatangani Bapak." Lexi tersenyum sinis, sebuah kilatan taktik bisnis yang kejam mendadak muncul di sepasang mata kelamnya. "Kalau Angel teru
Tasya tertegun, lalu perlahan mengulas senyum tipis melihat binar liar di sepasang mata adiknya. Karakter asli Lexi yang keras kepala dan tak tertundukkan akhirnya kembali, persis seperti sebelum kecelakaan terkutuk itu merenggut kepingan jiwanya. "Oke. Kalau itu mau kamu, Mbak dukung penuh," sahut Tasya, ikut menyambar tasnya. "Informan Mbak bilang, hari ini Angel dijadwalkan meninjau lokasi pembersihan lahan di Surabaya Barat jam sepuluh pagi. Kita ke sana sekarang sebelum Bramantya memperketat barikade pengawalan." Namun, takdir tampaknya gemar mempermainkan garis hidup mereka. Tepat pukul 10.15 WIB, mobil sewaan Lexi dan Tasya tiba di perimeter luar area proyek Surabaya Barat. Gerbang proyek tampak dijaga ketat oleh dua baris pengawal berbadan tegap dengan rompi hitam. Lexi menurunkan kaca mobil, matanya menatap tajam ke arah tenda utama di dalam area sterilisasi. "Maaf, Pak. Area ini tertutup untuk umum atas perintah Bramantya Group," hadang seorang kepala keamanan dengan
Pukul sebelas malam lewat, roda pesawat komersial yang membawa Lexi dan Tasya akhirnya menyentuh aspal landasan pacu Bandara Internasional Juanda. Begitu melangkah keluar dari garbarata, hawa Surabaya yang cenderung hangat menyergap mereka, namun bagi Lexi, atmosfer kota ini terasa begitu dingin semenjak penolakan keras Angel tempo hari. Tasya bergerak gesit. Berbeda dengan Lexi yang berjalan dalam diam dengan topi hitamnya yang diturunkan rendah, Tasya sibuk memeriksa ponselnya.Dia sengaja tidak memesan hotel berbintang atas nama mereka atau menggunakan fasilitas korporasi yang biasa diakses oleh keluarga Permana. "Kita tidur di rumah singgah milik sahabatku di daerah Dharmahusada, Lex," bisik Tasya seraya menuntun adiknya menuju ke mobil sewaan yang sudah terparkir di area drop-off. "Tempatnya privat, aman dari endusan intel-intelnya Mbak Vio, dan yang paling penting... Bramantya nggak akan tahu kita ada di sana." Lexi hanya mengangguk samar, langsung masuk ke dalam mobil. S
Dari balik pembatas kaca steril, Lexi membalikkan tubuhnya sesaat. Ia menurunkan topinya sedikit, menatap lurus ke arah Hendra yang sedang berdebat kusir dengan petugas dengan sorot mata yang penuh kemenangan dan determinasi mutlak."Bilang sama Mbak Vio dan Bapak, Hendra," desis Lexi dari kejauhan, meski suaranya tidak terdengar, namun gerakan bibirnya terbaca jelas oleh Hendra, "aku kembali ke Surabaya."Lexi memutar tubuhnya kembali, melangkah lebar berdampingan dengan Tasya menuju gate keberangkatan pesawat mereka. Langkah kakinya kini terasa jauh lebih mantap. Malam ini, dia akan kembali ke Jawa Timur, siap menembus dinding es milik Angel.....Sementara itu, di waktu yang bersamaan di Jakarta.Atmosfer di dalam salah satu restoran mewah di kawasan mentereng Menteng, Jakarta Pusat, terasa begitu pekat dan mencekam. Di dalam ruangan VIP yang kedap suara, Viona Permana duduk dengan keanggunan yang dingin. Di hadapannya, Clarissa Kensington tampak mengaduk-aduk makanan di piringnya
Mobil Mercedes-Benz hitam itu akhirnya masuk ke area parkir sebuah butik mewah di kawasan elit pusat kota. Begitu mobil berhenti mulus, Angel tidak langsung turun. Dia melirik Lexi lewat spion tengah, merapikan rambutnya sebentar, lalu berdehem pelan."Lexi," panggil Angel. Nadanya sedikit canggung
Sementara Mercedes-Benz hitam yang membawa Angel dan Lexi melaju pergi meninggalkan rumah, di belahan kota yang lain, suasana di dalam ruangan kerja Direktur Utama Van Holden Group justru terasa sangat sunyi seperti berada di area kuburan.Ruangan luas itu dilapisi dinding kaca besar yang langsung
Setelah keluar dari ruang kerja Baron, Lexi berjalan menuju area belakang yang sepi, di dekat garasi mobil mewah.Dia merogoh kantong celananya, mengeluarkan ponsel yang layarnya sudah sedikit retak, lalu menekan sebuah nomor yang sengaja dia simpan untuk keadaan darurat tertentu terkait masa lalun
"Lexi, kalau kau bisa menghamili istriku, aku akan memberikan sejumlah uang yang cukup untuk biaya hidupmu seumur hidup!” Sesuara yang familier tiba-tiba saja berteriak ke arah Lexi, supir pribadi yang tampan milik Keluarga Van Holden.Lexi yang sedang mencuci mobil di halaman, langsung menoleh ke







