MasukPagi itu, Adrian terbangun dengan rasa pegal yang teramat pekat menjalar di seluruh bodi tubuhnya.Pria itu baru bisa menutup matanya hanya selama beberapa jam saja, sementara sisa malamnya habis ia gunakan untuk merenungi segala perbuatan dan ucapan gegabahnya yang telah membuat orang-orang terdekat memilih untuk menjauhinya.Tringgg! Tringgg!Ponsel Adrian berdering nyaring di atas nakas, memecah kesunyian kamar. Layar digitalnya menampakkan nomor resmi dari kantor pusat Utama Group."Halo Pak, selamat pagi. Saya menghubungi Anda hanya untuk mengingatkan kembali bahwa hari ini akan ada agenda rapat direksi," ucap suara sekretaris di seberang telepon dengan intonasi formal yang kaku.Adrian memejamkan sepasang matanya sekilas, mengembuskan napas panjang demi meredam gejolak batin."Iya, saya ke kantor sekarang," ucap Adrian dengan nada suara yang teramat datar.Rumor mengenai Arkana yang mendadak dilarikan ke rumah sakit akibat kondisi kritis rupanya sudah mulai menyebar luas di kala
Sore itu, di dalam kamar suite hotel bintang lima, Andien bersiap untuk mandi. Pintu geser berbahan kaca patri tebal itu terbuka tanpa suara, mengeksiskan kemewahan ruang basah tempat dirinya dan Bima menginap.Ruangan itu begitu luas, didominasi oleh hamparan lantai marmer hitam berurat emas yang berkilau mewah tertimpa cahaya lampu dinding yang temaram.Di sisi kanan, sebuah jacuzzi indoor berbentuk persegi panjang yang sangat lapang tertanam anggun, tampak seperti kolam oasis pribadi. Permukaan airnya yang jernih beriak tenang, memantulkan pendar kemewahan arsitektur di sekelilingnya.Andien melepas jubah mandi sutra hitamnya, membiarkannya tersampir di atas bangku sofa di sudut ruangan.Sebelum mendekati kolam luas itu, ia melangkah menuju bilik shower berteknologi mutakhir di sisi kiri.Di bawah pancuran air hangat yang memancar seperti air hujan, Andien membasuh seluruh tubuhnya menggunakan sabun cair beraroma bergamot dan *cedarwood*.Ia menggosok kulit mulusnya perlahan, memas
Pagi itu, Adrian melangkah kembali ke dalam unit apartemen pribadinya dengan tujuan beristirahat demi memulihkan stamina jiwanya yang terkuras habis.Sebaris perasaan lega sempat merayapi dinding hatinya setelah tim dokter spesialis menyatakan bahwa kondisi kesehatan sang kakek kini telah berada dalam fase stabil, walaupun pria tua itu masih belum sadar dari komanya.Adrian mengembuskan napas panjang yang sarat akan beban pikiran sebelum jemari tangannya menyentuh knop pintu apartemen.Di dalam lubuk hatinya yang terdalam, ia berharap bahwa Saifanny masih setia berada di dalam sana; ia memantapkan batin untuk segera berlutut meminta maaf atas kalimat kejam yang telah ia lontarkan di rumah sakit.Penyesalan yang teramat dahsyat kini mulai merongrong kewarasan Adrian. Ia merutuki isi otaknya sendiri; mengapa bisa ia dengan begitu naifnya menuduh Saifanny mengeksekusi kekejian ngeri seperti meracuni kakek kandungnya sendiri?Adrian meraih knop pintu, mendorongnya perlahan membelah keheni
Siang itu, Saifanny duduk bersandar di dalam taksi biru yang melau menuju gedung Holy Entertainment.Labirin pikirannya masih tertinggal pada hantaman rasa ketidakpercayaan yang mendalam tentang Adrian—pria yang tega melayangkan tuduhan keji bahwa dirinyalah yang telah meracuni sang kakek.Saifanny mengembuskan napas pendek, merasai bahwa mungkin dirinya dan Adrian memang ditakdirkan untuk tidak akan pernah bisa kembali bersama.Di masa lalu, ia sempat memiliki pemikiran bahwa setelah melewati rentetan badai yang meremukkan jiwa, keluarga kecil mereka akhirnya akan dapat hidup bersatu di bawah satu atap yang hangat.Namun, sebaris senyuman sinis yang dingin perlahan terukir di bibir Saifanny saat menyadari bahwa seluruh harapan itu tak lebih dari sekadar khayalan semu.Logikanya berputar; jika Adrian memang memercayai integritasnya sejak awal, maka pria itu pasti akan langsung bergerak mencarinya bahkan setelah ia terpaksa menikah dengan Zain sembilan tahun lalu.Realitasnya tidak dem
Saifanny mendobrak pintu apartemen Adrian dengan luapan emosi yang telah memuncak hingga ke ubun-ubun.Jantungnya berdegup brutal dipicu oleh rasa sakit hati yang teramat pekat.Sembilan tahun berlalu, dan dari semua manusia yang bernapas di atas bumi ini, ia sama sekali tidak pernah menyangka bahwa Adrian akan kembali melayangkan tuduhan sekeji itu, menstigmanya sebagai pembunuh berdarah dingin yang meracuni kakeknya sendiri.Saifanny melangkah lebar dengan entakan kaki yang sarat akan amarah menuju ke arah lemari pakaian.Tempat di mana ia menyimpan seluruh helai pakaian miliknya sejak sembilan tahun silam. Dulu, ia sengaja meninggalkan beberapa potong pakaian di dalam lemari ini dengan sebaris harapan puitis; bahwa suatu hari nanti takdir akan membawa mereka kembali bersatu di tempat ini.Namun, seluruh harapan itu telah menjelma menjadi lelucon yang tak berarti sekarang.Bagaimana mungkin ia bisa mempertahankan hubungan dengan seorang pria naif yang dengan mudah meragukan integrit
Pagi itu, atmosfer di dalam kediaman keluarga Utama mendadak dilingkupi hawa dingin yang mencekam.Seorang asisten rumah tangga melangkah menyusuri koridor sunyi sembari membawa nampan berisi hidangan sarapan untuk sang penguasa tertinggi, Arkana Jaya Utama.Tok! Tok! Tok!Asisten rumah tangga itu mengetuk pintu jati ruang kerja Arkana secara teratur."Tuan Besar, saya mau membawakan sarapan Anda," ucapnya singkat, menanti sahutan dari dalam.Namun, tidak ada satu pun gelombang suara yang membalas. Wanita itu didera rasa heran yang teramat sangat; Arkana dikenal sebagai sosok disiplin yang selalu terbangun jauh lebih pagi.Namun, hingga detik ini, kakek tua itu belum juga keluar dari ruang kerjanya sejak semalam suntuk.Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia kembali mengetuk pintu tersebut."Tuan... saya buka pintunya, ya?"Begitu daun pintu terayun terbuka, pemandangan di dalam ruangan seketika meremukkan seluruh kesadaran sang asisten.Di atas lantai semen yang dingin, tubuh renta







