แชร์

BAB 28 Permainan Api

ผู้เขียน: Pritca Ruby
last update วันที่เผยแพร่: 2026-09-10 11:26:12

Sentuhan keras namun berhati-hati dari jemari Antonio di dagunya membuat napas Aleta terhenti. Tatapan pria itu begitu pekat, mengurung Aleta dalam hening yang sarat akan ketegangan. Bibir Antonio yang begitu dekat seolah menebar ancaman nyata bahwa kata-katanya bukanlah gertakan semata.

Aleta mengepalkan jemarinya, mencoba mengumpulkan sisa keberanian yang ia miliki. Rasa takut itu masih ada, membayangi setiap jengkal kulitnya. Namun di bawah tekanan aura Antonio yang dominan, api perlawanan d
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 80 Keabadian Cinta Sang Penguasa

    Mentari pagi memancarkan pendar keemasan yang begitu hangat, menyinari hamparan ladang gandum emas yang meluas di belakang kediaman utama. Angin sejuk berhembus pelan, menari-nari di antara dedaunan dan membawa aroma tanah yang tenang serta kelopak mawar putih yang bermekaran sempurna di sepanjang pekarangan.Di atas teras kayu mahoni yang luas, sebuah meja bundar berlapis taplak putih menyajikan hidangan sarapan pagi. Alexander, yang kini melangkah makin lincah dengan tawa bahagianya, sibuk bermain dengan mainan kayu kecil di atas rumput tebal di bawah pengawasan lembut Bi Bikah dan Hans. Sosok penerus mungil itu tumbuh menjadi anak yang penuh kasih, kuat, dan diliputi kedamaian yang tak pernah tercemar oleh bayangan masa lalu.Aleta berdiri di tepi teras, mengamati putra kecilnya dengan senyuman anggun yang tak pernah luntur. Dalam balutan gaun sutra berwarna krem pastel yang jatuh indah menyapu lantai, Aleta memancarkan keindahan murni seorang ibu dan Nyonya rumah yang sempurna. Ta

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 79 Puncak Kejayaan Sang Mafia

    Langit malam menyelimuti kediaman megah Antonio dengan ribuan bintang yang berpendar terang. Di dalam gedung serbaguna kediaman yang telah diubah menjadi aula perjamuan privat, suasana begitu hangat dan penuh khidmat. Malam ini bukan sekadar perayaan rutin, melainkan momen bersejarah pengukuhan resmi masa depan keluarga Antonio.Para petinggi aliansi bisnis, tokoh-tokoh berpengaruh yang paling setia, serta seluruh anggota inti lingkaran dalam berkumpul dalam balutan busana formal. Namun, tidak seperti masa lalu yang selalu diliputi ketegangan politik atau intrik kekuasaan yang mengerikan, atmosfer perjamuan kali ini sepenuhnya dipenuhi rasa hormat mutlak dan pengakuan atas era baru yang damai di bawah kepemimpinan Antonio.Aleta berdiri di samping Antonio di atas podium utama. Dalam balutan gaun malam berwarna biru murni berlapis renda emas yang anggun, Aleta memancarkan pesona seorang Nyonya Muda yang tak tertandingi. Kecantikannya yang dulu tertutup oleh ketakutan kini mekar sempurn

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 78 Jejak-Jejak Kekuasaan dan Kasih

    Satu tahun telah berlalu sejak kehadiran Alexander Vance Antonio melengkapi kehidupan di kediaman utama. Waktu bergulir membawa kedewasaan baru bagi Aleta dan kedamaian yang makin mengakar kuat dalam setiap sudut kekuasaan Antonio. Rumah yang dulunya dingin dan penuh intrik kini dipenuhi gelak tawa renyah seorang balita yang mulai aktif mengeksplorasi dunianya.Sore itu, gurat jingga mentari terbenam membias indah di sepanjang selasar marmer yang menghadap langsung ke taman depan. Alexander, yang kini berusia satu tahun tiga bulan, berlari-lari kecil dengan langkah kakinya yang belum sepenuhnya stabil. Tawa mungilnya membahana setiap kali jemari kecilnya berusaha mengejar seekor kupu-kupu yang hinggap di antara semak mawar putih.Aleta berjalan pelan beberapa langkah di belakang putranya, mengenakan gaun sutra simpel berwarna terakota yang anggun. Senyuman hangat tak pernah lepas dari bibirnya saat memperhatikan Alexander yang tumbuh menjadi anak yang sangat sehat, cerdas, dan pembera

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 77 Kehangatan di Balik Benteng Penguasa

    Tiga bulan berlalu sejak tangisan pertama Alexander Vance Antonio menggema di ruang persalinan kediaman utama. Suasana di dalam benteng megah yang dulu terasa kaku kini benar-benar bertransformasi total. Taman rumah kaca tempat Aleta biasa merawat bunga mawar kini dilengkapi dengan area bersantai yang nyaman, di mana ayunan kayu beralas bantal sutra terpasang khusus untuk Aleta dan Alexander berjemur menikmati sinar mentari pagi.Pagi itu, Aleta duduk di ayunan kayu seraya menggendong Alexander. Bayi laki-laki berusia tiga bulan itu tampak makin menggemaskan dengan pipi gembul yang memerah alami dan mata hitam berbinar yang sangat mirip dengan mata Antonio. Alexander sibuk mengoceh pelan, jemari mungilnya berusaha meraih kalung emas halus yang melingkar di leher ibunya.Aleta tertawa kecil, mengecup gemas pipi gembul putranya. "Kamu ingin kalung Ibu, Alexander? Nanti kalau sudah besar, Ayah pasti memberimu yang jauh lebih bagus."Langkah kaki yang berat dan teratur terdengar mendekati

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 76 Penerus Takhta Sang Mafia

    Sinar mentari pagi menyusup hangat melalui celah tirai sutra krem kamar utama, membias lembut di atas peraduan luas yang kini terasa jauh lebih hidup. Keheningan megah yang dulu menyelimuti ruangan ini telah berganti dengan kehangatan sebuah keluarga yang utuh. Di tengah tempat tidur, Aleta bersandar nyaman pada tumpukan bantal empuk, memeluk lembut mungilnya sang buah hati yang sedang terlelap tenang dalam dekapan hangatnya.Pintu kamar mandi terbuka perlahan. Antonio melangkah keluar dengan celana panjang kain hitam dan kemeja santai berwarna abu-abu yang lengannya digulung hingga siku. Rambut hitam tebalnya yang sedikit basah memberi kesan hangat yang amat kontras dengan aura dominan yang biasa ia tampilkan di luar rumah. Tatapan mata hitamnya seketika terkunci pada dua sosok paling berharga di atas peraduan.Sebuah senyuman tipis dan amat menawan terukir spontan di wajah tampan Antonio—sebuah ekspresi kebahagiaan murni yang kini tak pernah lagi ia sembunyikan dari istrinya.Antoni

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 75 Tangisan di Ujung Perjuangan

    Suara monitor detak jantung berbunyi teratur di dalam ruang persalinan steril, beradu dengan deru napas Aleta yang makin memburu. Udara dingin ruangan tak mampu mengikis hawa panas yang membakar pertarungan hidup dan mati di atas peraduan medis. Peluh membasahi helai-helai rambut Aleta yang menempel di dahi, sementara wajah cantiknya memucat akibat rasa sakit yang kian mencengkeram rahimnya tanpa ampun."Satu dorongan kuat lagi, Nyonya Aleta! Kepala bayinya sudah terlihat!" seru dokter senior dengan intonasi mantap yang memberi dorongan semangat.Aleta mencengkeram jemari Antonio sekuat tenaganya. Buku-buku jarinya memutih, meremas telapak tangan kokoh sang suami yang tak sedikit pun bergeser dari samping kepalanya. Suara erangan penuh perjuangan keluar dari tenggorokan Aleta saat ia mengerahkan seluruh sisa tenaga yang dimilikinya."Antonio... aku... aku tidak kuat lagi..." bisik Aleta terengah-engah, matanya berkaca-kaca menatap Antonio dengan kerapuhan yang mendalam.Antonio merend

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 6 Malam Panjang

    "Kamu tahu alasan kamu ada di sini?" Suara berat itu kemudian memecah hening kamar dingin di sudut ruangan setelah beberapa saat tak ada tanggapan atas ucapan Aleta."Aku minta maaf kalau mungkin aku ada sal --""Mungkin?" Antonio mengernyit. "Memang!"Lantas Antonio beranjak dari tempat duduknya

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 5 Kesalahan

    Byur!!Satu gelas berisi air disiramkan pada wajah Aleta sampai terhenyak bangun karena terkejut."Bagaimana tidurmu semalam, Jalang?"Sepasang mata Aleta membola saat mendengar sebutan itu untuknya. Padahal dia adalah wanita baik-baik. Ia tidak ingat apa yang terjadi semalam sampai akhirnya bisa t

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 4 Tawanan

    Roy menghentikan langkahnya dan berbalik setelah mendengar pembelaan Mirah untuk istrinya. Namun dengan sigap Aleta menahan dan meminta maaf pada semua orang yang terganggu, terutama pada Mirah karena ia merasa bersalah sudah menumpang semalam dan menyeret Mirah dalam permasalahan yang dialaminya.

  • Dalam Genggaman sang Mafia Dingin   BAB 3 Playing Victim

    "Tolong .... Tolong ...."Aleta berhasil keluar dari rumah lewat jendela kamarnya. Baju yang ia pakai sudah compang-camping karena pria itu mencoba membuka dengan merobek paksa. Untunglah Aleta bisa kabur setelah vas keramik di kamarnya ia hantam ke kepala pria itu hingga berdarah. Di momen itulah

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status