Teilen

Chapter 03

last update Veröffentlichungsdatum: 02.10.2026 13:29:13

Gadis itu tersungkur begitu keras di aspal. Hujan lantas membasahi sekujur tubuhnya. Ia menangis dan menatap mobil itu yang cahayanya semakin jauh. Di tengah badai hujan dan petir seperti ini, ia dilempar begitu saja. Ia tak bisa berdiri, lututnya terasa begitu sakit. Melihat ke sana kemari, tapi begitu sepi. Ia hanya bisa pasrah, berbaring miring dengan menangis di bawah derasnya hujan.

Tiba-tiba ia mendengar suara yang mendekat, seperti suara ban mobil. Suara itu berhenti. Gadis itu mengangkat kepalanya seraya membuka matanya yang langsung menyipit karena silau cahaya di depannya. Benar dugaannya. Gadis tersebut mengambil posisi duduk, menatap mobil sport putih itu. Keluarlah seorang pria berpenampilan modis dan memegang payung hitam.

"What the fuck are you doing here?" tanya pria itu dengan nada ketus.

Suaranya seakan-akan menghipnotis gadis itu sampai ia menunggu suara pria itu yang kedua kalinya.

"Kenapa kau bersantai di sana? This is not a beach, silly girl. Minggir!" ucap Altherr Goncalve yang jengkel.

Gadis itu mencoba bangun. Meyakinkan diri bila ia bisa. Menahan sakitnya sekuat tenaga dan berhasil berdiri, tapi ia akan segera jatuh lagi. Tiba-tiba seseorang meraih tangannya dan menahannya agar tidak jatuh. Gadis itu mendongak dan mata abu-abunya menembus sorot mata Altherr yang sekali lagi mampu menghipnotis dirinya. Tajam, tetapi mengandung sihir. Gadis itu menatap setiap inci wajah Altherr yang lantas muncul pertanyaan, dia dewa atau manusia?

"I'm so sorry," ucapnya dan melihat ke kakinya. "Kakiku sakit jadi aku--"

Belum selesai bicara. Altherr menariknya, gadis itu mengikuti ke mana pria itu menariknya. Altherr membukakan pintu mobil sport, memintanya untuk masuk. Gadis itu sempat ragu, takut mengotori joknya. Altherr dengan kasar mendorongnya hingga gadis itu duduk. Setelahnya Altherr kembali ke dalam mobil dan masuk ke gerbang di depannya. Gadis itu jadi tahu kenapa Altherr memintanya minggir tadi, karena di depannya adalah rumahnya. Ralat, gadis itu menyesal menyebutnya rumah. Itu bukan sembarangan rumah, melainkan mansion. Seperti istana megah bak di negeri dongeng. Ia baru tahu ada mansion semegah ini di LA. Gadis itu melirik Altherr bertampang dingin dan mobil sport-nya, lalu ke arah mansion jauh di sana. Pertama kali ia bertemu pria kaya seperti dia.

Altherr menopang gadis itu dan membawanya ke dalam mansion. Melihat Altherr pulang bersama seorang gadis yang tampak kacau membuat Pius penasaran dan lebih cepat melangkah.

"Tn. Altherr, apa yang terjadi?" tanya Pius.

"Pegang gadis ini atau dia akan jatuh," ucap Altherr dengan dingin.

Pius segera mendekat untuk memegang tangannya, namun gadis itu menolak secara halus. Ia juga meminta Altherr melepas tangannya. Ia yakin bisa menahan kakinya sekarang. Altherr melepasnya dan segera mengelap tangannya ke jaketnya. Gadis itu melipat tangannya, dingin sekali. Kebetulan Ulrich muncul, dia bersama Moses.

"Oho, siapa gadis manis ini?" tanya Ulrich dengan nada menggoda ke arah Altherr.

Altherr membalas, "Hanya orang asing yang butuh bantuan. Seharusnya tadi aku panggil 911 saja. Jangan menggodaku, Ulrich!"

Ulrich terkekeh dan menatap gadis itu. "Godness! Dia basah kuyup dan kedinginan. Kenapa kalian.... Ssh, di mana Anne?"

Kemudian Ulrich dengan lantang memanggil Anne, kepala pelayan kedua di mansion ini. Anne datang dan segera menuruti perintah Ulrich yang menyuruhnya mengambil handuk. Ulrich menyuruh Pius membuka jasnya dan memberikannya pada gadis yang belum diketahui namanya itu.

"Pius, urus gadis ini. Aku mau istirahat," ucap Altherr dan melangkah pergi. "Moses ikut aku!"

Moses segera meluncur. Kemudian Ulrich mengajak gadis itu ke ruang tengah. Gadis itu diminta duduk di sofa yang berhadapan dengan perapian.

"Lututmu terluka, nak. Pius akan mengobatinya," ucap Ulrich.

Gadis itu hanya tersenyum, ia merasa tidak enak sekali. Anne datang dan menggantikan jas Pius dengan handuk tebal nan lembut ke tubuh gadis itu. Ulrich menyuruh pelayan lain untuk membawa kotak obat.

"Siapa namamu? Dan kau dari mana?" tanya Ulrich.

Gadis berwajah manis itu menjawab, "Dellza. Aku dari Walnut Creek."

Nama yang cantik, secantik dirinya. Parasnya yang manis membuat nama itu cocok untuknya. Dellza Leuzinger, gadis berusia dua puluh tiga tahun. Pemilik senyum yang indah.

"Oh, cukup jauh. Aku penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Tapi kita bicara nanti saja."

Dellza hanya tersenyum.

"Berikan apa pun yang gadis ini butuhkan!" Perintah Ulrich.

Anne sedikit membungkukkan badan. "Baik, Tn. Goncalve."

Mendengar nama Goncalve, Dellza mengerutkan dahinya. Ia tampak mengingat sesuatu. Ulrich melenggang pergi. Pikiran Dellza buyar ketika kakinya disentuh, Anne ingin mengobati luka terbukanya di lutut, namun ditahan Dellza. Ia akan melakukannya dengan tangannya sendiri, ia merasa tidak enak pada Anne. Ponsel Anne bergetar, Moses mengiriminya pesan untuk segera menghadap Altherr. Anne melangkah pergi.

"This is cool," gumam Pius.

Dellza menatapnya bingung. "What do you mean?"

Dengan berbisik-bisik, Pius mengatakan sesuatu pada Dellza. "Pertama kalinya Tn. Altherr membawa masuk seorang gadis ke mansion ini."

"Jadi nama pria beku itu... Altherr?" Dellza mengangkat satu alisnya.

"Sshh! Kalau Tuan dengar kau menyebutnya begitu, dia akan membekukan detak jantungmu." Pius mengepal satu tangannya kuat-kuat ke udara. "He's dangerous, for God's sake! Kau tidak bisa sembarangan mengatakan sesuatu tentang dirinya."

"Tapi memang benar. Dia sangat dingin dan cara dia berbicara sangat arogan."

"Jaga sikapmu di depannya kalau tak mau ada masalah." Suara Pius terdengar serius.

Dellza tercenung.

Pius berdeham dan bertanya, "Ngomong-ngomong, kau ini... kenapa bisa bersama Tuan?"

Dellza mengerjap dan bingung untuk menjawab pertanyaan itu. Anne muncul lagi, ia mengajak Dellza untuk ikut dengannya. Dellza pun menurut. Ia mengekori Anne yang mengajaknya ke kamar tamu yang terletak di lantai satu. Anne meminta Dellza untuk mandi.

Dellza menatap tubuhnya sendiri. "Tapi pakaianku ..."

Anne tersenyum. "Jangan khawatir. Semuanya akan kami tangani. Kau mandi saja."

Dellza agak bingung, tapi kemudian menganggukkan kepala. Dia pergi masuk ke kamar mandi. Dellza memandangi kamar mandi yang jauh lebih luas dari kamar mandi miliknya di rumah. Oh, entahlah apakah dia bisa kembali pulang atau Ibunya benar-benar membuangnya. Dellza menatap pantulan dirinya di cermin, betapa menyedihkannya dia. Tapi aneh, kejadian tidak menyenangkan itu membuatnya bisa sampai ke mansion ini. Seutas senyum terukir di wajah cantiknya mengingat ucapan-ucapan Altherr yang bernada ketus.

"Pra beku," celetuknya.

Beberapa menit kemudian...

Tubuh Dellza terbungkus jubah mandi dan handuk di rambutnya. Gadis itu melenggang dari kamar mandi dan melihat Anne masih di kamar. Arah mata Dellza tertuju ke atas ranjang berukuran king size, ada beberapa shopping bag dengan brand ternama.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 08

    Seperti bos pada umumnya, Altherr memerintahkan Moses untuk menangani Dellza selama dia tidak ada, sampai gadis itu meninggalkan mansion. Dellza menatap keluar jendela melihat Altherr yang melangkah mendekati mobilnya, nampaknya dia akan pergi. Aku belum sempat mengucapkan terima kasih secara langsung padanya, batin Dellza. Ia teringat ucapan si wanita kepala pelayan mansion. "Tuan tidak terbiasa menerima ucapan terima kasih, jika apa yang dia lakukan memang karena keinginannya sendiri." Senyuman kecil bergerak di bibirnya yang ranum. Itu artinya Altherr memang sungguh menolong dirinya. Kelihatannya pria itu bukan manusia yang punya simpati, sebab matanya yang tajam, auranya yang sedingin es, dan kadang dia berkata seenaknya. Dellza ingat bagaimana Altherr bicara kepada Ulrich dan Jarvis, ayahnya. Tidak ada sopan santun. Namun semuanya menjadi dominan dengan sifat Altherr pada Dellza; menolongnya, mengurusnya, dan yang paling berkesan saa

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 06

    "Tujuanku datang ke sini untuk—" Jarvis melirik Dellza, "—menikahinya." Bagai petir yang menyambar telinga, mereka sangat tersentak dengan kalimat itu. "Apa?!" Maeson membelalakkan mata kepada Jarvis. "Ya, aku ingin menikahi Dellza Leuzinger," tegas Jarvis. Dellza menatapnya marah. "Kegilaan apa ini?! Keinginan yang tidak masuk akal! I don't even know you!" "Keinginanku sangat masuk akal. Menikah itu sesuatu yang waras," ucapnya datar. "Dan kau yang tidak waras!" Dellza bangkit dari tempat duduknya, suaranya bergetar. "Maafkan aku, tapi memang benar kau gila. Menikah katamu?" Manka menyambung, "Tn. Jarvis, kau datang dengan membawa bencana untuk kami." Jarvis tersenyum kecut. "Menikah adalah bencana? Are you serious, Mrs. Leuzinger?" "Apa alasanmu ingin

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 09

    Pada siang hari... Sorot mata abu-abu miliknya menembus kaca mobil. Tak memperhatikan suasana di sepanjang jalan, pikirannya tenggelam dengan kebingungan. Kemana dia akan pergi? Dellza tidak tahu. Soal bibinya, dia berbohong. Dia tidak punya kerabat tinggal di Los Angeles. Kemudian Dellza menatap ponselnya yang mati. "Kau ingin menghubungi seseorang? You can use my phone." Suara Moses memecah keheningan. Dellza menoleh dan tersenyum kecil. "No, thanks." Gadis itu ada keinginan menghubungi Ibu atau Ayahnya, namun dia tak yakin. Moses masih saja memperhatikan Dellza, ia merasa gadis itu kebingungan. Ia pun menyarankan Dellza untuk kembali mansion karena Altherr sendiri tidak keberatan. Dellza juga bisa tinggal di apartemen milik Altherr. Uf, bila gadis lain di posisi Dellza saat ini pasti akan berpikir betapa enak hidupnya. Mendapat bantuan seserius itu. Namun De

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 07

    Kembali ke masa kini… "Siapa pun tidak boleh tahu jika kau adalah istriku." Kalimat barusan menyentuh otak Dellza. Sebenarnya ini bukan yang pertama pria setengah baya itu mengatakannya—ralat, tepatnya peringatan. Jarvis menarik kursi dan duduk tepat di samping Dellza, memperhatikannya. Dellza tetap menatap ke depan, tak sedikit pun menoleh padanya, pada sosok yang secara resmi menjadi suaminya. Hanya saja pernikahan yang terjadi di antara mereka sangat rahasia. Prosesi janji suci diadakan di rumah Leuzinger dan hanya dihadiri oleh Maeson, Manka, serta orang kepercayaan Jarvis sebagai saksi. Tak ada pesta; lepas begitu saja setelah pendeta menyatakan mereka suami istri. Sebelum membawa pergi Dellza, Jarvis memaparkan peringatan kepada orang tuanya untuk menutup rapat-rapat pernikahan itu sampai ia sendiri yang mengatakannya pada publik. Bila pernikahan mereka bocor, Jarvis akan memperlakukan Dellza dengan sangat buruk.

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 05

    Senyum Dellza memudar mengingat kecelakaan satu tahun lalu yang menimpa Ayahnya, sehingga Maeson harus kehilangan kemampuan berjalan atau biasa disebut lumpuh. Itu sangat mengacaukan perasaannya. Dellza tahu bukan cuma kecelakaan di persimpangan depan saja yang Maeson pikirkan, pasti dia juga trauma dengan kecelakaan yang dialami sendiri. Dellza sampai membawa Maeson ke meja makan, mereka sarapan bersama. Menit-menit telah berlalu. Waktu sarapan telah selesai, kini saatnya bagi Dellza untuk mengantar keranjang-keranjang berisi tomat yang sudah siap di mobil pick up-nya. Maeson melihat putrinya yang masuk ke dalam mobil untuk pergi. Dellza melambaikan tangannya dan melaju meninggalkan rumah. Ia menikmati perjalanannya, membiarkan jendelanya terbuka sehingga merasakan sensasi angin yang bertiup mengibaskan rambut panjangnya. Ia juga mendengarkan musik dari radio yang diputar, sesekali bernyanyi. Dellza dengan ramah menyapa para tetangga yang kebetulan berpapasan dengannya. Hal yan

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 04

    "Ini pakaian untukmu, Nona. Tuan Altherr yang memesannya untukmu," gumam Anne. Dellza terdiam sejenak. Ia menggigit bibir bawahnya, menatap shopping bag dan Anne secara bergantian. "Aku ... merasa begitu merepotkan. Hum, sampaikan terima kasihku padanya." "Tuan tidak terbiasa menerima ucapan terima kasih jika apa yang dia lakukan karena keinginannya sendiri," balas Anne dengan nada tegas. "Saya akan kembali." Tinggallah Dellza sendirian, ia mendekat ke ranjang tidur dan melihat pakaian apa yang pria itu berikan padanya. Pajama, casual, dan classy outfit. Ia mendadak bingung, bila ia memakai pajama, apakah mungkin? Bukankah seharusnya dia harus pergi dari sini? Dellza duduk di tepi ranjang, dia memutuskan menunggu Anne. Anne datang membawakan makanan hangat untuknya. Anne meletakkan bakinya di meja. "Nona, apa yang Anda pikirkan sampai belum memakai pajama? Anda butuh sesuatu?" "Pajama? Mungkin yang casual, karena aku seharusnya pergi," jawab Dellza. Anne diam. "Bisakah a

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status