Teilen

Chapter 02

last update Veröffentlichungsdatum: 02.10.2026 13:29:03

"Anak itu." Ulrich menggeleng, "selalu dikejar oleh sesuatu. Sejak peristiwa katedral, matanya tak pernah sepenuhnya hangat padaku."

Selama perjalanan Altherr menikmati betapa sepinya ruangan. Well, bukan sesuatu yang besar baginya. Kesunyian sudah seperti sahabatnya. Belasan menit kemudian Altherr sampai di tujuan, ia menurunkan kecepatan laju dan menepi ke tepi jalan. Sisi kanan kiri jalan dipenuhi pepohonan tinggi. Altherr keluar dan menatap keramaian di depannya. Ada tiga mobil polisi, satu mobil ambulans, dan mobil pribadi lainnya.

Altherr melangkahkan kakinya memasuki area hutan. Di sana ada banyak polisi. Yang menjadi pusat perhatian adalah wilayah yang diberi garis kuning polisi. Altherr tak mendapat penolakan dari polisi ketika ia ingin melihatnya.

"What happened?" tanya Altherr pada salah satu sheriff.

Sheriff menghela napas. "Seseorang menemukan mayat yang terbungkus plastik, Tn. Goncalve."

"Ah, so scary." Altherr menatap mayat itu dengan senyum tipis, nada suaranya datar, seolah ketakutan hanyalah lelucon.

Altherr memperhatikan mayat di sana. Sheriff memberitahu tentang seorang wanita yang akan dimintai keterangan karena dia bisa datang ke hutan ini karena permintaan dari seorang pria bernama Scott dan justru menemukan mayat terbungkus plastik. Altherr tidak melepas pandangannya dari mayat tersebut. Sudut bibirnya membentuk senyuman kecil nan licik. Altherr Goncalve berada di balik keberadaan mayat terbungkus plastik itu, mayat itu adalah Scott yang tewas di tangan Altherr. Semalam ia menyayat lehernya dengan disaksikan Moses dan Black Gonca. Altherr akan memainkan kasus kematian Scott dengan menggiring wanita itu sebagai pelaku.

Di mansion Goncalve...

Bangunan berlantai dua berdiri megah di atas lahan ratusan hektare. Sebuah mansion dikelilingi pepohonan rindang dan hijau. Terdapat air mancur dan lampu-lampu benderang yang menambah kesan kemegahan mansion. Mobil sport yang dikendalikan Altherr melewati gerbang dan jalanan mendekat ke pelataran. Altherr menghentikan mobilnya dan keluar, melangkah menuju pintu utama.

Kedatangannya disambut oleh Pius, pria usia kepala empat selaku kepala pelayan mansion. Penampilannya formal dengan pin yang menunjukkan namanya dan pekerjaannya. Serta logo khas Goncalve. Lencana bersayap berwarna merah dan emas dengan gambar dua senapan dan tulisan G7 di bawah senjata tersebut, serta tertera nama Goncalve di bawahnya tepat di dasar pita.

"Good evening, Mr. Altherr!" sapa Pius dengan senyum.

Altherr melewatinya. "Bawakan aku segelas air dingin!"

Pius segera bergegas ke dapur. Sambil berjalan Altherr melepas jasnya, mengendurkan dasinya, dan membuka dua kancing kemejanya. Dia tampak seksi. Mansion tersebut tempat tinggalnya selama di Los Angeles. Tempat ia dibesarkan. Mansion ini atas nama Ayahnya, ia bisa saja mengganti namanya, namun ia takkan melakukannya. Menghormati posisi sang Ayah. Altherr menghempas tubuhnya di sofa yang empuk. Pius datang membawa baki kaca dengan segelas minuman yang Altherr inginkan. Pius memberikannya, Altherr meneguknya hingga setengah gelas. Kemudian menaruh gelasnya di meja.

"Di mana Ulrich?" tanya Altherr.

"Tuan besar ada di kamarnya, Tuan," jawab Pius.

Altherr tak mengatakan apa-apa lagi, ia beranjak begitu saja menuju lift. Pius menatap punggungnya yang berlalu, dia sudah terbiasa dengan karakter Tuannya. Bahkan air dingin itu bukan apa-apa dibandingkan dengan Altherr Goncalve.

Beberapa menit kemudian...

"Meskipun aku tidak suka betapa mudahnya dia mati. Aku tetap puas telah menarik nyawanya," gumam Altherr.

Penampilannya saat ini santai. Ia berdiri di dekat jendela kamarnya, menatap keluar. Moses bersamanya, berdiri tak jauh darinya. Menyimak penuh apa pun yang Tuannya katakan.

Moses tersenyum. "Permainan kematiannya akan sampai ke tangan wanita itu. Jebakan yang bagus."

"Siapa yang telah kau habisi, Altherr?" Suara berat dari mulut Ulrich Goncalve membuat mereka menoleh. Ulrich memasuki kamar dengan mengernyitkan dahi.

Altherr menjawab, "Scott. Aku membunuhnya kemarin malam di Redwels."

"Pemberontak, pengkhianat, atau musuhmu?" Ulrich melipat tangan di dada, menatapnya dengan tatapan tajam yang menuntut jawaban.

"Dia kaki tangan keluarga Burckhalter. Mencoba untuk menjebakku dengan menyelundupkan narkoba ke XOV, membuat skenario agar sindikat polisi menahanku."

Ulrich mengusap wajahnya lalu tertawa kecil, geli sekaligus sinis. "Oh, shit."

"Bodoh sekali, dia sangat lemah dan gagal. Dia salah dengan memilih untuk menjadi pelayan Burckhalter." Altherr kembali menatap keluar. "Bermain denganku sama saja bermain dengan api, akan kubakar setiap celahnya."

Altherr lebih memilih membalas perbuatan musuhnya dengan caranya sendiri, daripada melemparnya ke penjara. Dia akan merasa puas melampiaskan kemarahannya dengan tangannya sendiri. Altherr sangat membenci orang yang mencoba mempermainkan dirinya, mencari masalah dengannya adalah keputusan yang bodoh.

"Touching Goncalve red border, summoned the wolf's dark soul." Altherr menegaskan.

Ulrich tertawa mendengarnya, dia menertawakan kematian orang tersebut. Well, pria tua itu memang seseorang yang menyenangkan dan ramah. Tetapi dalam dirinya terdapat sifat yang keras dan berbahaya. Goncalve memang dominan. Marga keluarga satu ini akan membuatmu takjub akan reputasi dan kekayaannya. Namun setelah kau mengetahui seorang Goncalve bernama Altherr, jiwamu akan bergetar. Arti serigala di balik nama Goncalve mengalir deras dalam dirinya.

Ulrich mendesah. "Di mana Ayahmu? Aku sudah coba hubungi dia, tapi tidak menjawab."

"Aku tidak tahu. Mungkin sibuk berpesta seks dengan para jalangnya." Altherr mendekat ke nakas untuk mengambil ponselnya dan melenggang pergi.

Ulrich tertawa. "Anak itu sangat biadab. Dia ada masalah dengan Jarvis?"

Moses menggeleng. "Tidak, Tuan."

"Aku tidak menduga dia akan sampai mengatakan itu. Ah, yeah... Altherr adalah Altherr, biadab yang mempesona."

"Hari ini hari Rabu, Tuan. Mungkin kejadian di katedral itu membuat emosinya dua kali lipat lebih sensitif."

Ulrich tercenung dan raut wajahnya mendadak sedih. Ada kemarahan juga di matanya. Moses dengan hormat pamit untuk pergi. Sepasang mata abu-abu milik Ulrich berkelana mencari sesuatu. Ia mendekat ke kabinet dan mengambil bingkai foto yang terpajang. Setelah itu duduk di sofa, menatap bingkai foto dengan tersenyum tulus.

×××

Perdebatan pelik terjadi di antara dua orang wanita di dalam sebuah mobil yang melaju. Gadis berjaket cokelat menatap wanita di sampingnya dengan air mata bercucuran dan marah.

"K--kau sungguh akan membuangku?" tanya gadis di sela isaknya.

"Ya!" balas wanita itu dengan nada membentak. "Kau tidak mau mendengarkan aku! Tindakanmu yang konyol tadi sore membuatku gila! Sekarang lebih baik kau jauh dariku, cukup kau saja yang menanggung kemarahannya."

Gadis itu menggeleng. "No! No! Kau seharusnya membantuku. I'm your daughter!"

"Putri macam apa kau? Mengantar kematian pada Ibunya!"

"Ak--ku. Mom, kenapa kau tidak bisa memahami perasaanku!"

"Shut your mouth!" Wanita itu memelototinya, suaranya meninggi penuh kemarahan.

Gadis itu seketika terdiam. Tercetak jelas kekecewaan di wajahnya. Wanita yang disebut Ibunya itu memegang setir sementara tangan lainnya melepas sabuk pengaman gadis itu dengan paksa. Lalu membuka pintu di sisi putrinya.

"Semoga dia menemukanmu!" ucap wanita itu.

Gadis itu sudah mencoba menahan tubuhnya, namun dorongan tangan Ibunya lebih kuat. Tanpa hati, tubuh gadis itu didorong keluar ketika mobil masih melaju di tengah derasnya hujan.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 08

    Seperti bos pada umumnya, Altherr memerintahkan Moses untuk menangani Dellza selama dia tidak ada, sampai gadis itu meninggalkan mansion. Dellza menatap keluar jendela melihat Altherr yang melangkah mendekati mobilnya, nampaknya dia akan pergi. Aku belum sempat mengucapkan terima kasih secara langsung padanya, batin Dellza. Ia teringat ucapan si wanita kepala pelayan mansion. "Tuan tidak terbiasa menerima ucapan terima kasih, jika apa yang dia lakukan memang karena keinginannya sendiri." Senyuman kecil bergerak di bibirnya yang ranum. Itu artinya Altherr memang sungguh menolong dirinya. Kelihatannya pria itu bukan manusia yang punya simpati, sebab matanya yang tajam, auranya yang sedingin es, dan kadang dia berkata seenaknya. Dellza ingat bagaimana Altherr bicara kepada Ulrich dan Jarvis, ayahnya. Tidak ada sopan santun. Namun semuanya menjadi dominan dengan sifat Altherr pada Dellza; menolongnya, mengurusnya, dan yang paling berkesan saa

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 06

    "Tujuanku datang ke sini untuk—" Jarvis melirik Dellza, "—menikahinya." Bagai petir yang menyambar telinga, mereka sangat tersentak dengan kalimat itu. "Apa?!" Maeson membelalakkan mata kepada Jarvis. "Ya, aku ingin menikahi Dellza Leuzinger," tegas Jarvis. Dellza menatapnya marah. "Kegilaan apa ini?! Keinginan yang tidak masuk akal! I don't even know you!" "Keinginanku sangat masuk akal. Menikah itu sesuatu yang waras," ucapnya datar. "Dan kau yang tidak waras!" Dellza bangkit dari tempat duduknya, suaranya bergetar. "Maafkan aku, tapi memang benar kau gila. Menikah katamu?" Manka menyambung, "Tn. Jarvis, kau datang dengan membawa bencana untuk kami." Jarvis tersenyum kecut. "Menikah adalah bencana? Are you serious, Mrs. Leuzinger?" "Apa alasanmu ingin

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 09

    Pada siang hari... Sorot mata abu-abu miliknya menembus kaca mobil. Tak memperhatikan suasana di sepanjang jalan, pikirannya tenggelam dengan kebingungan. Kemana dia akan pergi? Dellza tidak tahu. Soal bibinya, dia berbohong. Dia tidak punya kerabat tinggal di Los Angeles. Kemudian Dellza menatap ponselnya yang mati. "Kau ingin menghubungi seseorang? You can use my phone." Suara Moses memecah keheningan. Dellza menoleh dan tersenyum kecil. "No, thanks." Gadis itu ada keinginan menghubungi Ibu atau Ayahnya, namun dia tak yakin. Moses masih saja memperhatikan Dellza, ia merasa gadis itu kebingungan. Ia pun menyarankan Dellza untuk kembali mansion karena Altherr sendiri tidak keberatan. Dellza juga bisa tinggal di apartemen milik Altherr. Uf, bila gadis lain di posisi Dellza saat ini pasti akan berpikir betapa enak hidupnya. Mendapat bantuan seserius itu. Namun De

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 07

    Kembali ke masa kini… "Siapa pun tidak boleh tahu jika kau adalah istriku." Kalimat barusan menyentuh otak Dellza. Sebenarnya ini bukan yang pertama pria setengah baya itu mengatakannya—ralat, tepatnya peringatan. Jarvis menarik kursi dan duduk tepat di samping Dellza, memperhatikannya. Dellza tetap menatap ke depan, tak sedikit pun menoleh padanya, pada sosok yang secara resmi menjadi suaminya. Hanya saja pernikahan yang terjadi di antara mereka sangat rahasia. Prosesi janji suci diadakan di rumah Leuzinger dan hanya dihadiri oleh Maeson, Manka, serta orang kepercayaan Jarvis sebagai saksi. Tak ada pesta; lepas begitu saja setelah pendeta menyatakan mereka suami istri. Sebelum membawa pergi Dellza, Jarvis memaparkan peringatan kepada orang tuanya untuk menutup rapat-rapat pernikahan itu sampai ia sendiri yang mengatakannya pada publik. Bila pernikahan mereka bocor, Jarvis akan memperlakukan Dellza dengan sangat buruk.

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 05

    Senyum Dellza memudar mengingat kecelakaan satu tahun lalu yang menimpa Ayahnya, sehingga Maeson harus kehilangan kemampuan berjalan atau biasa disebut lumpuh. Itu sangat mengacaukan perasaannya. Dellza tahu bukan cuma kecelakaan di persimpangan depan saja yang Maeson pikirkan, pasti dia juga trauma dengan kecelakaan yang dialami sendiri. Dellza sampai membawa Maeson ke meja makan, mereka sarapan bersama. Menit-menit telah berlalu. Waktu sarapan telah selesai, kini saatnya bagi Dellza untuk mengantar keranjang-keranjang berisi tomat yang sudah siap di mobil pick up-nya. Maeson melihat putrinya yang masuk ke dalam mobil untuk pergi. Dellza melambaikan tangannya dan melaju meninggalkan rumah. Ia menikmati perjalanannya, membiarkan jendelanya terbuka sehingga merasakan sensasi angin yang bertiup mengibaskan rambut panjangnya. Ia juga mendengarkan musik dari radio yang diputar, sesekali bernyanyi. Dellza dengan ramah menyapa para tetangga yang kebetulan berpapasan dengannya. Hal yan

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 04

    "Ini pakaian untukmu, Nona. Tuan Altherr yang memesannya untukmu," gumam Anne. Dellza terdiam sejenak. Ia menggigit bibir bawahnya, menatap shopping bag dan Anne secara bergantian. "Aku ... merasa begitu merepotkan. Hum, sampaikan terima kasihku padanya." "Tuan tidak terbiasa menerima ucapan terima kasih jika apa yang dia lakukan karena keinginannya sendiri," balas Anne dengan nada tegas. "Saya akan kembali." Tinggallah Dellza sendirian, ia mendekat ke ranjang tidur dan melihat pakaian apa yang pria itu berikan padanya. Pajama, casual, dan classy outfit. Ia mendadak bingung, bila ia memakai pajama, apakah mungkin? Bukankah seharusnya dia harus pergi dari sini? Dellza duduk di tepi ranjang, dia memutuskan menunggu Anne. Anne datang membawakan makanan hangat untuknya. Anne meletakkan bakinya di meja. "Nona, apa yang Anda pikirkan sampai belum memakai pajama? Anda butuh sesuatu?" "Pajama? Mungkin yang casual, karena aku seharusnya pergi," jawab Dellza. Anne diam. "Bisakah a

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status