Teilen

Chapter 04

last update Veröffentlichungsdatum: 02.10.2026 13:29:44

"Ini pakaian untukmu, Nona. Tuan Altherr yang memesannya untukmu," gumam Anne.

Dellza terdiam sejenak. Ia menggigit bibir bawahnya, menatap shopping bag dan Anne secara bergantian. "Aku ... merasa begitu merepotkan. Hum, sampaikan terima kasihku padanya."

"Tuan tidak terbiasa menerima ucapan terima kasih jika apa yang dia lakukan karena keinginannya sendiri," balas Anne dengan nada tegas. "Saya akan kembali."

Tinggallah Dellza sendirian, ia mendekat ke ranjang tidur dan melihat pakaian apa yang pria itu berikan padanya. Pajama, casual, dan classy outfit. Ia mendadak bingung, bila ia memakai pajama, apakah mungkin? Bukankah seharusnya dia harus pergi dari sini? Dellza duduk di tepi ranjang, dia memutuskan menunggu Anne. Anne datang membawakan makanan hangat untuknya.

Anne meletakkan bakinya di meja. "Nona, apa yang Anda pikirkan sampai belum memakai pajama? Anda butuh sesuatu?"

"Pajama? Mungkin yang casual, karena aku seharusnya pergi," jawab Dellza.

Anne diam.

"Bisakah aku bertemu Tuan ... Altherr?" tanya Dellza dengan hati-hati.

"Baiklah, tunggu. Saya akan bicara padanya." Anne kembali meninggalkan kamar.

Dellza merasa jantungnya berdetak kencang, membayangkan Altherr akan datang dan ia melihat wajah dingin itu lagi. Dellza lantas berdiri ketika pintunya terbuka. Ternyata Anne kembali bukan bersama Altherr, melainkan Moses.

Moses berkata, "Aku Moses Elwood. Orang kepercayaannya Tn. Altherr Goncalve. He wants you to spend the night here. Waktu sudah sangat larut malam, Nona. Di sana ada telepon, kau bisa hubungi keluargamu."

Dellza mengikuti arah tatapan Moses ke nakas yang terdapat telepon rumah. Lalu melihat Moses lagi. Dellza mengangguk, lagipula dia juga bingung akan pergi ke mana setelah apa yang Ibunya lakukan. Anne meminta Dellza untuk memakai pajamanya. Dellza bergegas ke kamar mandi dengan membawa pajamanya.

"Kau pergilah, Anne," ucap Moses.

Anne menurutinya. Moses duduk di sofa dan menunggu gadis itu selesai. Pajama sudah membalut di tubuhnya, ia merasa gugup karena Moses ada di kamarnya. Bahkan dia harus makan sup hangat di depan Moses. Pria itu seperti mengawasinya.

Moses tersenyum geli. "Kenapa kau begitu gugup, just chill. Maaf jika keberadaanku di sini membuatmu tidak nyaman. Aku hanya mengikuti apa yang Tn. Altherr perintahkan."

Dellza diam.

"Siapa namamu?" tanya Moses.

Dellza meletakkan sendoknya dan tersenyum. "Dellza Leuzinger."

"Okay, Dellza. Bagaimana bisa kau berada di depan gerbang mansion dalam keadaan seperti itu? Apa yang terjadi?"

Dellza kini mengerti mengapa Moses berada di kamarnya. Dellza dengan sambil mengingat, menceritakan pada Moses secara singkat. Terjadi masalah antara dirinya dan Ibunya, sehingga Ibunya marah besar dan melemparnya dari mobil.

Moses menatapnya iba. "Tragic."

Hening ....

Moses mengucapkan selamat malam dan melangkah pergi. Dellza tidak menghabiskan supnya, ia mendekat ke ranjang tidur dan memegang ponselnya yang mati. Tak ada rasa kantuk sama sekali di matanya, ia terlalu memikirkan apa yang Manka Leuzinger lakukan padanya. Moses datang ke kamar Altherr, si tampan itu berhadapan dengan laptop. Moses memberitahu informasi yang ia dapatkan dari gadis bernama Dellza. Altherr ingin Moses terus mengawasinya, bisa saja gadis itu dari keluarga Burckhalter atau musuhnya yang lain.

⚔ ▫️👑▫️ ⚔

Pagi ini suasana sarapan di mansion keluarga Goncalve tampak berbeda, Dellza akan bergabung. Altherr tampak menunggu di meja makan, mata elangnya yang tajam menembus dinding. Di meja makan juga sudah ada Ulrich dan Moses.

"Buenos dias, Dad!" Suara bariton itu membuat Altherr melirikkan matanya.

《Spain | Selamat pagi》

Jarvis Goncalve, seorang pebisnis yacht dan native speaker. Usianya berada di angka empat puluh tiga, namun dia terlihat awet muda. Jarvis tampak rapi dengan setelan suitnya.

"Buen dias, Jarvis!" balas Ulrich.

Jarvis melempar tatapannya pada Altherr. "Good morning."

Altherr memalingkan wajahnya. "Morning."

Saat ini semua pandangan tertuju ke pintu ruang makan. Anne akhirnya datang bersama Dellza, gadis itu tampak cantik dengan penampilan casualnya. Altherr memandangnya, ia agak terkesan dengan gaya sederhana Dellza. Altherr menepis pikirannya dan mengalihkan pandangannya. Di antara yang lain, Dellza lebih lama menaruh pandangannya pada Jarvis. Pria paruh baya itu terus saja menatapnya. Jarvis kemudian membuang pandangannya.

"Hi, gorgeous Dellza! Good morning," sapa Ulrich.

Dellza mengulas senyum dan membalas sapaannya dengan sopan pada pria tua itu, ia juga mengucapkan selamat pagi untuk yang lain tanpa menyebut nama. Namun tak ada yang membalas. Ulrich memuji sikap hormat yang Dellza tunjukkan, dia mengatakan pada semua orang seharusnya para wanita juga seperti dia. Dellza duduk di samping Moses, berhadapan dengan Altherr dan Jarvis.

Sekali lagi Jarvis menatapnya terus menerus. Membuat Dellza merasa tidak nyaman dan ingin beranjak. Tidak mungkin juga dia lakukan itu, mau tidak mau Dellza harus bertahan. Berbeda dengan Altherr yang tidak meliriknya. Dia tenang sekali melahap sarapannya. Dellza memutuskan untuk tidak melihat siapa pun juga.

"Kenapa kau terus menatapnya, Jarvis? Dia bukan wanita jalangmu," ucapan bernada kasar Altherr membuat semua orang melihatnya.

"Altherr, Jarvis mungkin sama seperti aku yang terpesona pada kecantikan gadis ini. Right, Jarvis?" Ulrich mengangkat satu alisnya pada Jarvis.

Jarvis hanya tersenyum. "It's okay, Dad. Altherr terlalu memperhatikan aku."

Altherr tersenyum kecut. Untuk mencairkan suasana, Ulrich memperkenalkan Jarvis Goncalve pada Dellza. Begitu pun sebaliknya. Jarvis adalah Ayahnya Altherr. Dellza lantas menoleh ke arah Jarvis, pandangan mata mereka bertemu lagi. Altherr beranjak pergi, disusul Moses.

"Ah, sweetie. Nanti temui aku di teras, aku ingin mengobrol denganmu. Okay?" Ulrich berdiri.

Dellza mengangguk pelan. Tinggallah ia berdua dengan Jarvis. Percayalah, jantung Dellza berlari marathon dan tubuhnya sulit untuk terangkat dari kursi. Jarvis berdiri dan berjalan setengah memutari meja, ia lewat tepat di belakang Dellza. Gadis itu menghela napas, namun detik kemudian tubuhnya mematung pada saat Jarvis menundukkan kepala di dekat telinganya.

Jarvis dengan pelan berkata, "Siapa pun tidak boleh tahu jika kau adalah istriku."

-----

Walnut Creek, California.

Tinggal jauh dari keramaian kota memang memberikan kenyamanan tersendiri. Rumah berlantai dua tersebut dihuni keluarga Leuzinger. Orang tua bernama Maeson dan Manka Leuzinger, mereka punya seorang putri bernama Dellza. Dia cantik dan gadis penuh semangat. Seperti biasa pagi ini Dellza membuktikan kalimat barusan, ia mengawali paginya dengan ceria dan gesit melakukan pekerjaan rumah.

"Mom, where is Dad?" Dellza meletakkan piring berisi american breakfast di meja makan.

Manka menuangkan susu ke dalam gelas. "He's outside."

Dellza keluar untuk menemui Ayahnya. Dia melihat pria itu, duduk di kursi roda sambil mengecek ban pick up-nya.

"Dad, aku bisa mengeceknya sendiri nanti. Ayo, sarapan!" Dellza menghampiri.

Maeson mendesah pelan. "Aku juga harus memeriksanya. Aku tidak mau apa pun terjadi pada putriku. Kau ingat kecelakaan kemarin di persimpangan depan?"

Dellza terkekeh dan menarik kursi rodanya. "I'll be fine!"

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 08

    Seperti bos pada umumnya, Altherr memerintahkan Moses untuk menangani Dellza selama dia tidak ada, sampai gadis itu meninggalkan mansion. Dellza menatap keluar jendela melihat Altherr yang melangkah mendekati mobilnya, nampaknya dia akan pergi. Aku belum sempat mengucapkan terima kasih secara langsung padanya, batin Dellza. Ia teringat ucapan si wanita kepala pelayan mansion. "Tuan tidak terbiasa menerima ucapan terima kasih, jika apa yang dia lakukan memang karena keinginannya sendiri." Senyuman kecil bergerak di bibirnya yang ranum. Itu artinya Altherr memang sungguh menolong dirinya. Kelihatannya pria itu bukan manusia yang punya simpati, sebab matanya yang tajam, auranya yang sedingin es, dan kadang dia berkata seenaknya. Dellza ingat bagaimana Altherr bicara kepada Ulrich dan Jarvis, ayahnya. Tidak ada sopan santun. Namun semuanya menjadi dominan dengan sifat Altherr pada Dellza; menolongnya, mengurusnya, dan yang paling berkesan saa

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 06

    "Tujuanku datang ke sini untuk—" Jarvis melirik Dellza, "—menikahinya." Bagai petir yang menyambar telinga, mereka sangat tersentak dengan kalimat itu. "Apa?!" Maeson membelalakkan mata kepada Jarvis. "Ya, aku ingin menikahi Dellza Leuzinger," tegas Jarvis. Dellza menatapnya marah. "Kegilaan apa ini?! Keinginan yang tidak masuk akal! I don't even know you!" "Keinginanku sangat masuk akal. Menikah itu sesuatu yang waras," ucapnya datar. "Dan kau yang tidak waras!" Dellza bangkit dari tempat duduknya, suaranya bergetar. "Maafkan aku, tapi memang benar kau gila. Menikah katamu?" Manka menyambung, "Tn. Jarvis, kau datang dengan membawa bencana untuk kami." Jarvis tersenyum kecut. "Menikah adalah bencana? Are you serious, Mrs. Leuzinger?" "Apa alasanmu ingin

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 09

    Pada siang hari... Sorot mata abu-abu miliknya menembus kaca mobil. Tak memperhatikan suasana di sepanjang jalan, pikirannya tenggelam dengan kebingungan. Kemana dia akan pergi? Dellza tidak tahu. Soal bibinya, dia berbohong. Dia tidak punya kerabat tinggal di Los Angeles. Kemudian Dellza menatap ponselnya yang mati. "Kau ingin menghubungi seseorang? You can use my phone." Suara Moses memecah keheningan. Dellza menoleh dan tersenyum kecil. "No, thanks." Gadis itu ada keinginan menghubungi Ibu atau Ayahnya, namun dia tak yakin. Moses masih saja memperhatikan Dellza, ia merasa gadis itu kebingungan. Ia pun menyarankan Dellza untuk kembali mansion karena Altherr sendiri tidak keberatan. Dellza juga bisa tinggal di apartemen milik Altherr. Uf, bila gadis lain di posisi Dellza saat ini pasti akan berpikir betapa enak hidupnya. Mendapat bantuan seserius itu. Namun De

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 07

    Kembali ke masa kini… "Siapa pun tidak boleh tahu jika kau adalah istriku." Kalimat barusan menyentuh otak Dellza. Sebenarnya ini bukan yang pertama pria setengah baya itu mengatakannya—ralat, tepatnya peringatan. Jarvis menarik kursi dan duduk tepat di samping Dellza, memperhatikannya. Dellza tetap menatap ke depan, tak sedikit pun menoleh padanya, pada sosok yang secara resmi menjadi suaminya. Hanya saja pernikahan yang terjadi di antara mereka sangat rahasia. Prosesi janji suci diadakan di rumah Leuzinger dan hanya dihadiri oleh Maeson, Manka, serta orang kepercayaan Jarvis sebagai saksi. Tak ada pesta; lepas begitu saja setelah pendeta menyatakan mereka suami istri. Sebelum membawa pergi Dellza, Jarvis memaparkan peringatan kepada orang tuanya untuk menutup rapat-rapat pernikahan itu sampai ia sendiri yang mengatakannya pada publik. Bila pernikahan mereka bocor, Jarvis akan memperlakukan Dellza dengan sangat buruk.

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 05

    Senyum Dellza memudar mengingat kecelakaan satu tahun lalu yang menimpa Ayahnya, sehingga Maeson harus kehilangan kemampuan berjalan atau biasa disebut lumpuh. Itu sangat mengacaukan perasaannya. Dellza tahu bukan cuma kecelakaan di persimpangan depan saja yang Maeson pikirkan, pasti dia juga trauma dengan kecelakaan yang dialami sendiri. Dellza sampai membawa Maeson ke meja makan, mereka sarapan bersama. Menit-menit telah berlalu. Waktu sarapan telah selesai, kini saatnya bagi Dellza untuk mengantar keranjang-keranjang berisi tomat yang sudah siap di mobil pick up-nya. Maeson melihat putrinya yang masuk ke dalam mobil untuk pergi. Dellza melambaikan tangannya dan melaju meninggalkan rumah. Ia menikmati perjalanannya, membiarkan jendelanya terbuka sehingga merasakan sensasi angin yang bertiup mengibaskan rambut panjangnya. Ia juga mendengarkan musik dari radio yang diputar, sesekali bernyanyi. Dellza dengan ramah menyapa para tetangga yang kebetulan berpapasan dengannya. Hal yan

  • Dalam Kekuasaan Bos Mafia   Chapter 04

    "Ini pakaian untukmu, Nona. Tuan Altherr yang memesannya untukmu," gumam Anne. Dellza terdiam sejenak. Ia menggigit bibir bawahnya, menatap shopping bag dan Anne secara bergantian. "Aku ... merasa begitu merepotkan. Hum, sampaikan terima kasihku padanya." "Tuan tidak terbiasa menerima ucapan terima kasih jika apa yang dia lakukan karena keinginannya sendiri," balas Anne dengan nada tegas. "Saya akan kembali." Tinggallah Dellza sendirian, ia mendekat ke ranjang tidur dan melihat pakaian apa yang pria itu berikan padanya. Pajama, casual, dan classy outfit. Ia mendadak bingung, bila ia memakai pajama, apakah mungkin? Bukankah seharusnya dia harus pergi dari sini? Dellza duduk di tepi ranjang, dia memutuskan menunggu Anne. Anne datang membawakan makanan hangat untuknya. Anne meletakkan bakinya di meja. "Nona, apa yang Anda pikirkan sampai belum memakai pajama? Anda butuh sesuatu?" "Pajama? Mungkin yang casual, karena aku seharusnya pergi," jawab Dellza. Anne diam. "Bisakah a

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status