تسجيل الدخولKarena miskin dan hanya menumpang hidup, aku disingkirkan dari rumah anakku sendiri oleh menantuku. Hidup terlunta-lunta di jalanan tanpa sanak saudara membuat hatiku terasa perih .... Meskipun begitu, aku tak pernah sedikitpun membenci anakku. Hanya doa yang senantiasa kupanjatkan kepada sang kuasa agar aku selalu mendapatkan perlindunganNya. Hingga suatu hari, Allah menjawab doa-doa ku. Aku dipertemukan dengan seorang Duda pengusaha yang kaya raya. Atas ridho-nya, aku menikah lagi dengannya. Hidupku berubah. Derajadku diangkat sama Allah. Lalu bagaimana dengan anak dan menantuku setelah mengetahui aku telah menjadi istri seorang Raja jalan tol yang tajir melintir?
عرض المزيدCHAPTER ONE
Irina's POV
The music downstairs was loud enough to rattle the windows.
I pressed my pillows over my ears and tried to block out the chaos below. The laugher. The shouting. The occasional crash of breaking glass.
The Volkov Bratva celebrated victories like the world was ending, and tonight they had reason to celebrate. Dimitri had secured the eastern docks, expanded his territory, and crushed his rivals without losing a single man.
I should have been happy for him. I was happy for him. But I was also bone tired.
Earlier, I had planned the party with the other house workers. Made sure everything was ready and well prepared to Dmitri's taste.
Four years as his personal maid had taught me to read his moods better than I could read words on a page. I knew how he liked his tea. How he wanted his suits pressed. How he needed silence after violence.
And tonight, he had ordered me to stay in the bedroom, away from the party, away from his men.
“Stay in my room,” he had said, his ocean blue eyes serious in a way that made my stomach twist. “Lock the door. Do not come out until morning.”
I had not not bothered to ask why. You don't question Dimitri Volkov.
So here I am. Curled up in his massive bed that smelled like expensive cologne and his uniqueness. The sheets were too soft against my skin. Everything in his world was too beautiful, too perfect, and I did not belong in any of it.
But I loved him anyway.
I had not meant to. You don’t fall in love with your master. That was the kind of foolishness that got girls like me hurt. But Dimitri was gentle with me in ways he was not gentle with anyone else. He said please and thank you. He asked about my day. He looked at me like I was a person instead of property.
And I was property. Sold to the Volkov clan four years ago to settle a debt that was not even mine. This was all I had ever known.
I was drifting off to sleep when I heard the rattling of the door handle.
My heart jumped into my throat. I had locked it. I was sure I had locked it.
But the door opened anyway.
And a figure stumbled into the darkness. Tall, with broad shoulders, and that silhouette I would have recognized even when blind.
"Dimitri?" I whispered.
He did not answer. He just swayed there like the floor was tilting beneath him. He wore his robe. The black silk, one I had laid out yesterday. His hair fell into his face, looking messy and wild.
Relief washed through me as I stared at him. He must have come to check on me.
"Are you alright?" I asked softly.
He moved towards the bed. His steps were heavy, and clumsy. It felt wong. Dimitri never moved like that. He was always controlled, and always aware of every inch of his body.
"Dimitri?" I said again.
He collapsed onto the bed beside me. The mattress dipped under his weight.
He smelled like vodka and smoke and something sharp that made my nose wrinkle.
He was terribly drunk.
I had never seen Dimitri drunk. He drank, but never like this. Never enough to lose control.
"You should rest," I said gently. "You drank too much."
His hand found my face in the dim light, and cupped my cheek. His thumb brushed across my lips with surprising tenderness.
My breath caught in my throat.
"Dimitri," I whispered.
He kissed me.
I froze. This was wrong. This crossed every careful boundary we had built over four years. But his lips were warm and desperate, and I had dreamed of this moment so many times that my body moved before my mind could stop it.
I kissed him back.
He pulled me closer, his hands sliding into my hair. The kiss deepened, became urgent, and almost frantic. Like he had been holding back forever and could not hold back anymore.
"I have wanted this," he murmured against my lips, his voice rough and slurred. "Wanted you."
Those words broke me.
I let him pull my nightgown over my head. Let him lay me back against the pillows. Let him kiss my neck, my shoulders, everywhere. His hands claimed me like I was something precious instead of something bought and paid for.
When he pushed inside me, I gasped. There was pain, sharp and bright, but underneath it was something else. Something that felt like finally being chosen.
We moved together in the dark. His breathing was harsh in my ear. My fingers dug into his shoulders. The pleasure rose and rose until I thought I might shatter from it.
I cried out his name as I rose to my peak. "Dimitri."
He buried his face in my neck and shuddered against me, his whole body went rigid before collapsing.
Afterwards, he pulled me close, his arm was heavy across my waist. I curled into him, my heart raced, like it might come out.
This had really happened. Dimitri had finally chosen me.
I blushed as I listened to his breathing slow and steady. He had fallen into a deep sleep. My eyes grew heavy. I let myself drift off to sleep, happy for the first time in longer than I could remember.
When I woke, the room was still mostly dark. But thin gray light crept around the edges of the curtains. Dawn was coming.
The arm around my waist was gone.
I sat up slowly, my body aching in different places. I looked around for him, expecting to see Dimitri getting ready for the day like he always did.
The bathroom door opened.
He stepped out fully dressed in a black shirt, and black pants. His hair was still messy but his movements were steady now, and controlled again.
Then, he looked at me.
And my smile died on my lips.
His eyes were green.
Not ocean blue. Not the color I knew better than my
own face in a mirror. It was forest green.
My heart stopped.
It wasn't Dimitri.
I had slept with Alexei.
Dibuang Anak Dinikahi Pengusaha Jalan Tol bab 85Secangkir kopi bikin syok Sore harinya, saat adzan Maghrib berkumandang, aku melihat Bu Sofi sedang sibuk di meja makan. Di hadapannya ada beberapa hidangan enak dan es kolak. Langkahku perlahan. Mata ini tanpa sadar menatap Bu Sofi yang seperti rakus menyantap makanan. Dia sedang berbuka puasa. “Tumben, Bu, makan saat adzan Maghrib seperti orang puasa saja,” ujarku berpura-pura. “Ah, iya memang saya puasa hari ini,” sahutnya menoleh. “Puasa apa hari Rabu, perasaan puasa sunah Arafah sudah lewat,” ujarku lagi. “Emang napa Bu Ainun? Kayanya ngga suka ya, lihat saya puasa, berbuat baik, ngumpulin pahala?” Bu Sofi membalas sewot. Aku tersenyum saja. Ngumpulin pahala gimana orang niatnya saja sudah busuk. “Oh, gitu? Bagus dong kalau Bu Sofi sekarang sudah rajin berpuasa. Tapi, lebih baik lagi kalau puasanya Senin Kamis, Bu, InshaAllah berkah,” jawabku menyungging senyum. Bu Sofi melirik tajam. Biar saja, aku segera kembali ke ka
Saat Anakku Kaya 84Bab 84Apakah suamiku terkena pelet? Rutinitas pagiku agak lain hari ini. Mas Johan sudah keluar dari jam setengah enam pagi tadi. Suamiku ke Counter club, mau main golf bersama teman teman sehobby. Meskipun demikian, aku tetap ke dapur untuk membuatkan kopi. Kemarin, aku sudah berpesan pada Mbak Woro untuk tidak beraktivitas pagi dulu di dapur. Hari ini, aku akan menjalankan rencanaku menjebak Bu Sofi. Orang jahat mesti diberi pelajaran. Aku tidak merasa berdosa jika mempermalukan Bu Sofi. Itu akibat ulahnya sendiri. Mas Johan pergi tanpa diketahui Bu Sofi, Lina maupun Yuda. Suamiku nggak ngopi di rumah sebab di country club ada cafetaria. Pernah juga aku diajak ke sana. Wuih, fasilitasnya kelas atas, mewah dan mahal. Keren memang country club tempat suamiku menjadi member. Selesai mengaduk kopi dalam cangkir, aku meninggalkan dapur begitu saja. Sampai kamar segera memantau CCTV. Rasanya menggebu untuk melihat apa yang terjadi selanjutnya. Mbak Woro muncul be
Saat Anakku Kaya 83Bab 83Menjebak Bu Sofi Huh, huh, huh!Nafasku rasanya bekejaran usai mendengar sendiri rencana busuk Bu Sofi. Benar-benar perempuan j4h4n4m dia itu. Tubuhku bergetar dan tanganku juga gemetaran. Seumur umur, aku tak pernah tau ada orang sejahat ini. “Duduk dulu, Bu,” kata Pak Margono menunjuk sofa. Aku mengangguk. Pak Margono memasuki rumah, aku masih terdiam dengan dada yang berdebar. Ya Allah … segitunya Bu Sofi. Aku sudah menolongnya, memberinya tumpangan di rumah mewah, meminjamkan mobilku untuknya bepergian, memberinya makanan gratis, menyekolahkan Nungki juga, tetapi apa balasannya? Dia malah mengincar suamiku! Astaghfirullahaladziim. Menarik nafas dengan mata terpejam, aku mengurut dada sendiri. Apakah ini yang disebut air susu dibalas air tuba? “Minum air putih dulu, Bu.” Pak Margono datang dengan segelas air di tangannya. Bagai kerbau dicucuk, akupun menurut dan segera meneguk air tersebut. Ya Allah, aku benar-benar syok. Pak Margono kemudian terl
Saat Anakku Kaya 78Bab 78Segala cara POV Bu Sofi Semakin lama tinggal di sini semakin membuatku gusar saja. Bagaimana tidak? Rumah ini begitu besar seperti istana. Dipenuhi dengan barang dan perabot antik yang nilainya bisa diduga fantastis. Garasi mobilnya juga isinya nggak kaleng-kaleng. Dan yang membuat hatiku hangus karena terbakar api cemburu adalah, pemilik semua ini adalah Bu Ainun! Perempuan dekil yang dulu miskin, gembel dan aku hinakan. Tidak habis pikir kenapa nasib baik berpaling padanya. Perempuan kampung itu berhasil memikat hati seorang konglomerat dan sialnya, mereka menikah! Aku tidak terima. Bu Ainun tidak boleh melebihi aku. Meskipun usiaku dengan Bu Ainun hampir sebaya tetapi, penampilan kami jauh berbeda. Bumi dan langit jauhnya. Lihatlah aku. Di usiaku yang menginjak 55 tahun, aku masih cantik. Kulitku masih putih dan kesat, tidak kendor. Wajahku terlihat glowing dan licin seperti porselen. Body ku tinggi dan proporsional. Berbeda dengan Bu Ainun yang kun
Saat Anakku Kaya 81Bab 81Pasang CCTV untuk memantau “Mas, aku minta tolong untuk dipasangkan CCTV di area dapur,” kataku pada Mas Johan malam hari saat hanya berdua saja di kamar. “CCTV buat apa, dek? Bukannya sudah ada di dapur?” Mas Johan memalingkan wajah. Matanya memicing menatapku. “Maksudnya y
Saat Anakku Kaya 80Bab 80Target Pelet “Lumayan, lah, Mas … nggak jelek-jelek amat,” ujar Lina seusai melihat ruko yang disewa Yuda untuk usaha jasa cleaning service. “Iya, Lin, nggak terlalu sempit jugae,” timpalku mengangguk. Setuju dengan pendapat Lina. “Lantai tiga ini, nanti rencananya buat para
Saat Anakku Kaya 72Bab 72Perempuan Penghasut “Lho, Pak Johan mana, Bu Ainun? Kenapa nggak ikut makan malam?” Tanya Bu Sofi saat tidak melihat suamiku bergabung di acara makan malam keluarga. “Mas Johan sudah memberitahu kalau pulang terlambat. Kita makan duluan saja. Yuk,” ujarku hangat. Sudah ada B
Saat Anakku Kaya 71Bab 71Dituduh pakai ilmu hitam Sambil menemani cucuku bermain di rumah, aku berharap cemas menanti Yuda dan Lina yang sedang menjemput Bu Sofi dan Nungki. Sungguh, tak ada sama sekali rasa dendam atau benci yang menyelimuti hatiku. Aku hanya ingin menolong. Dulu aku pernah tinggal












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
المراجعاتأكثر