LOGINDibeli. Dikurung. Dicintai. Evelyne Mireille, hanya gadis desa biasa. Saat pesta kerajaan besar digelar untuk merayakan kemenangan sang Raja, seluruh rakyat diundang, termasuk dia. Di tengah keramaian, gaunnya sederhana.. tapi cukup untuk menarik perhatian pria paling ditakuti di kerajaan, Duke Leonhart Valezair. Acara dansa dimulai. Tatapan yang terlalu dalam, dan obsesi yang dimulai malam itu. Beberapa hari kemudian, keluarga Evelyne mendapatkan surat tagihan hutang dari kerajaan. Jumlahnya tidak seberapa. tapi Duke punya rencana lain. ''Serahkan gadis itu. Maka semua lunas'' Tanpa bisa menolak, Evelyne dikirim ke utara, ke kastil milik sang Duke. Di sana, dia bukan tamu. Bukan juga pelayan. Tapi milik pribadi seorang pria yang tidak pernah tau cara mencintai tanpa menguasai. ''Aku membayarmu dengan kebebasan keluargamu. Maka kau harus membayarku dengan hatimu''
View MoreAmara, seorang wanita muda yang penuh harapan, menikah dengan Athar lima tahun yang lalu. Hubungan mereka diuji oleh kenyataan pahit bahwa mereka belum dikaruniai anak. Mega, ibu mertua Amara, semakin hari semakin menunjukkan ketidaksukaannya terhadap Amara. Di satu hari yang tenang di rumah keluarga besar Athar, percakapan yang memecah kesunyian itu terjadi.
Di ruang tamu, Mega duduk dengan raut wajah serius, sementara Amara duduk di seberangnya dengan wajah tegang. Athar berdiri di dekat jendela, terlihat cemas. "Amara, sudah lima tahun kamu menikah dengan Athar dan belum juga ada tanda-tanda kehamilan. Apa kamu tahu betapa pentingnya penerus dalam keluarga ini?" tanya Mega dengan netra menatap tajam ke arah sang Menantu. Amara tertunduk, berbicara dengan nada gemetar. "Saya... saya paham, Bu. Saya dan Athar sudah mencoba segala cara...," ucapnya, tapi ucapannya dipotong begitu saja oleh Mega dengan nada merendahkan. "Mencoba? Berapa lama lagi kamu mau 'mencoba'? Waktu terus berjalan. Kami butuh cucu, penerus keluarga. Kalau kamu tidak bisa memberikannya, mungkin Athar perlu memikirkan untuk menikah lagi." Amara terdiam, matanya mulai berkaca-kaca. Athar yang sejak tadi diam, akhirnya bersuara. "Ibu, tenanglah. Ini bukan hal yang mudah bagi kami," ucapnya lemah lembut. "Tenang? Apa kamu pikir ini waktu untuk bersantai? Sudah cukup! Aku tidak bisa lagi menunggu. Amara, aku ingin kamu mempertimbangkan untuk mengizinkan Athar menikah lagi. Maura adalah pilihan yang baik." Mega terus mendesak dan menyalahkan. Amara terkejut, wajahnya berubah pucat. Ia memandang Athar dengan tatapan memohon. Tanpa disadari dia juga mulai terisak. "Athar... ini... ini tidak benar. Bagaimana bisa kamu setuju dengan ini?" Pria tampan itu menghela napas dalam, menghindari tatapan Amara. "Amara, Maura dan aku sudah lama bersama. Dia memahami situasinya. Ini bukan soal perasaan, ini tentang keluarga kita." Amara merasa dunia seolah runtuh. Ia tidak pernah menyangka Athar akan mengatakan hal seperti itu. "Athar, aku mencintaimu. Tapi bagaimana bisa kamu melakukan ini padaku?" Suara Amara terdengar begitu putus asa. "Amara, ini sulit bagi kita semua. Aku harus memikirkan masa depan keluarga." Athar tetap menghindari tatapan mata istrinya. "Lihatlah, ini demi kebaikan bersama. Kamu bisa tetap di sini, tapi Maura akan menjadi istri Athar yang sah. Ini keputusan terbaik," ujar Mega sembari tersenyum tipis. Amara bangkit dari tempat duduknya, air mata mengalir di pipinya. Ia merasa dikhianati oleh orang yang paling dipercayainya. "Aku tidak percaya ini... Aku harus pergi," ucapnya dengan suara serak. Amara berlari keluar dari ruangan, meninggalkan Athar dan Mega dalam keheningan yang tegang. Hatinya begitu hancur, dia tidak tahu bagaimana melanjutkan hidupnya setelah pengkhianatan ini. Mega melihat kepergian Amara dengan puas, sementara Athar hanya bisa terdiam, merasakan beban keputusan yang telah diambilnya. Athar duduk diam di kursinya, pandangan matanya terpaku pada pintu yang baru saja ditinggalkan Amara. Hatinya bergejolak antara penyesalan dan kebingungan. Mega di sebelahnya tersenyum tipis, merasa kemenangan telah diraih. Ia merasa seolah beban yang mengganjal selama ini telah terangkat. "Jadi, apa yang akan kau lakukan sekarang?" tanya Mega dengan nada dingin, memecah keheningan yang menggantung di antara mereka. Athar menarik napas dalam-dalam, matanya yang biasanya penuh kehangatan kini suram. "Aku tidak tahu, Bu. Aku hanya... aku tidak pernah berpikir ini akan berakhir seperti ini." Mega mengangkat alisnya, wajahnya menunjukkan sedikit kejengkelan. "Kau tidak bisa terus-menerus terjebak dalam keraguan, Athar. Pilihan sudah diambil. Kita sudah sampai sejauh ini, tidak ada jalan untuk kembali." Athar memejamkan matanya sejenak, mencoba meredakan rasa sakit yang membuncah di dadanya. "Aku tahu, tapi ini Amara. Dia... dia tidak pantas menerima ini." Mega mendengus, seolah tak peduli. "Setiap orang membuat keputusan, Athar. Amara harus belajar menerima kenyataan. Kita semua harus." Kata-kata Mega menampar Athar, membawa kembali realitas yang keras ke hadapannya. Ia harus menghadapi konsekuensi dari tindakannya, meski rasanya berat. Dalam hatinya, ia tahu bahwa kejujuran dan keberanian adalah satu-satunya jalan untuk maju, meskipun itu berarti harus melewati masa-masa yang sangat sulit. Dengan tatapan penuh tekad yang mulai terbentuk di matanya, Athar akhirnya berkata, "Aku akan berbicara dengan Amara. Aku berhutang penjelasan padanya, setidaknya." Mega menatap Athar dengan tajam, matanya penuh kekecewaan. "Jangan bodoh, Athar. Kau bisa kehilangan segalanya. Setidaknya dia harus mau dipoligami, jika tidak pemasukan keluarga kita akan berkurang. Apa kamu lupa, kalau selama ini kita bergantung padanya? Hah! Meskipun Ibu sendiri sudah muak dan ingin segera mengusir dia dari rumah ini." Athar menggeleng, tekadnya tak tergoyahkan. "Aku sudah kehilangan cukup banyak. Aku tidak akan membiarkan rasa bersalah ini menghancurkan semuanya." Ia berdiri dengan tegas, meninggalkan Mega yang terdiam, dan berjalan menuju pintu kamar. Wanita cantik itu sengaja mengurung diri di dalam kamar dan mulai menangis tersedu-sedu.Malam itu, rombongan kerajaan berangkat menuju kediaman Countess Delacroix. Rombongan dibagi menjadi dua kereta kuda mewah.Kereta Pertama di isi Raja, Ratu dan Pangeran Eldrin. Raja Alfonse, Ratu Seraphina, dan Pangeran Eldrin berada di kereta pertama. Suasana di dalamnya penuh kehangatan dan rasa ingin tahu."Aku harus akui, ibu memilih gaun yang luar biasa untuk Evelyne," ujar Eldrin, bersandar di kursinya. "Gadis itu... dia benar-benar memukau. Auranya malam ini seperti seorang dewi."Raja Alfonse tersenyum bangga. "Aku setuju. Dia memiliki kecantikan yang langka. Dia tidak terlihat seperti gadis desa sama sekali."Ratu Seraphina tertawa kecil. "Siapa dulu yang menyiapkan dan memilihkan gaunnya?" Ia menyentuh lembut lengan suaminya. "Evelyne itu seperti bunga yang hanya butuh waktu untuk mekar. Lihatlah betapa pantasnya dia berada di samping Leonhart. Hanya perlu sedikit sentuhan bangsawan.""Justru itu yang membuatku khawatir," sela Eldrin. "Dia terlalu polos untuk menghad
Pagi tiba, membawa kembali Leonhart Valezair dari tugasnya. Ia masuk ke istana dengan langkah cepat, pikirannya sudah dipenuhi bayangan Evelyne. Namun, saat ia tiba di kamarnya, kamar itu kosong. Kekhawatiran kembali muncul, tetapi kini bercampur dengan rasa geli karena ia tahu Evelyne tidak akan melanggar perintahnya.Saat ia sedang mencari pelayan, ia bertemu dengan Raja Alfonse di koridor utama."Leonhart, kau sudah kembali," sapa Raja. "Bagaimana tugasmu?"Leonhart membungkuk hormat. "Berjalan lancar, Ayah. Semua sesuai rencana." Ia kemudian memotong pembicaraan. "Ayah, apakah Ayah melihat Evelyne? Dia tidak ada di kamar."Raja Alfonse tersenyum tipis. "Oh, dia sedang bersama Ibumu. Sejak pagi Ratu membawanya ke salon di ibu kota untuk persiapan pesta malam ini. Jangan khawatir, dia dijaga dengan baik."Leonhart merasa lega, namun juga sedikit kecewa karena tidak bisa bertemu Evelyne segera. Ia mengikuti Raja ke ruang tamu, di mana Pangeran Eldrin sudah menunggu. Ketiganya b
Satu minggu telah berlalu sejak insiden di ruang bawah tanah. Rutinitas Evelyne di istana telah menemukan polanya yang unik. Ia bekerja, tetapi sulit disebut sebagai pelayan. Tugas utamanya hanya menyiapkan pakaian Leonhart. Ia tidak diizinkan memasak, bersih-bersih, atau melakukan pekerjaan kasar lainnya. Para pelayan yang bertugas untuknya melayani Evelyne dengan hormat dan penuh perhatian, seolah ia adalah seorang bangsawan. Statusnya kini berada di antara pelayan yang sangat dimanjakan dan simpanan seorang Duke.Sore itu, Evelyne menikmati kebebasan barunya. Ia duduk di bawah pohon Linden yang rindang di taman istana, membaca buku dari perpustakaan Leonhart. Pikirannya damai. Leonhart menepati janjinya; Evelyne kini diizinkan melakukan apa pun di dalam kompleks istana, tidak lagi terkurung di kamar. Meskipun demikian, bayangan kengerian di ruang bawah tanah masih sering menghantuinya.Di sisi lain istana, di ruang kerjanya yang luas, Leonhart Valezair baru saja menyelesaikan tu
Setelah adegan mengerikan di ruang bawah tanah, Leonhart menggendong Evelyne keluar dari tempat yang dingin dan lembap itu. Evelyne tidak bisa berbicara. Tubuhnya terasa kaku, pikirannya dipenuhi oleh gambaran Lady Thorne yang melepuh. Ia hanya bisa bersandar lemas di dada Leonhart, membiarkan Duke itu membawanya. Leonhart tidak mengatakan apa-apa, hanya terus berjalan dengan langkah mantap hingga mereka tiba di kamar utama. Leonhart menurunkan Evelyne dengan sangat lembut di atas tempat tidur, seolah gadis itu terbuat dari porselen yang rapuh. Ia menatap wajah Evelyne yang pucat, menyentuh lembut pipi gadis itu. "Aku akan mandi sebentar," katanya, suaranya kini kembali lembut dan penuh perhatian. "Kau bisa berbaring dan beristirahat." Sebelum masuk ke kamar mandi, Leonhart menunduk, dan dengan lembut, ia mengecup puncak kepala Evelyne. Sentuhan itu terasa kontradiktif, membuat Evelyne semakin bingung. Suara gemericik air dari kamar mandi mulai terdengar, menandakan Leonhart sudah m
Ketika Duke Leonhart Valezair menarik seorang gadis tak dikenal ke tengah lantai dansa, aula utama Istana Aerondale seolah membeku sesaat. Musik waltz yang mengalun anggun menjadi latar bisik-bisik yang mendadak menyeruak, seperti riak yang menyebar di permukaan kolam yang tenang. Semua mata kini
Musik waltz yang anggun mengalun di seluruh aula, seolah mengiringi detak jantung Evelyne yang kini berpacu gila-gilaan. Tangannya yang dingin berada dalam genggaman erat Leonhart, sementara tangan sang Duke melingkar di pinggangnya, menariknya lebih dekat hingga tubuh mereka hampir tak berjarak.
Setelah pidato pembukaan yang mengukuhkan otoritasnya, Leonhart kembali ke kursinya di samping Raja Alfonse. Kerumunan kembali hidup, namun suasana tegang yang sempat tercipta oleh kehadirannya perlahan mencair. Musik kembali mengalun, kali ini irama yang lebih cepat dan mengundang untuk berdansa.
Suara musik yang riuh perlahan mereda, digantikan oleh keheningan yang tegang. Semua mata di aula utama Istana Aerondale kini tertuju pada panggung kehormatan, tempat Raja Alfonse, Ratu Seraphina, dan Pangeran Leonhart Valezair duduk, sedangkan Pangeran Eldrin, dia lebih memilih menghabiskan wakt
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.