Istri Best Seller

Istri Best Seller

By:  Windersone   Updated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
73Chapters
354views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
Leave your review on App

Mereka menikah karena anak. Bunga Bestari menjadi ibu sambung untuk anak dokter dingin itu, ialah Kafkha Dylantara. Setelah berhasil menjadi menantu, ibu, dan istri yang baik juga bertanggung jawab, Bunga masih belum bisa menempatkan diri di hati Kafkha. Mengapa? Kafkha masih terpaku pada mendiang istrinya. Meskipun begitu, Bunga terus berusaha mendapatkan hatinya. Itulah janjinya pada sang ibu mertua yang merasa iba melihat kesepian putranya itu. Bisakah Bunga menaklukkan hati sang dokter dingin yang mudah emosi itu?

View More
Istri Best Seller Novels Online Free PDF Download

Latest chapter

Interesting books of the same period

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Comments
No Comments
73 Chapters
Prolog
Dua pasang kaki seorang wanita yang berlari laju mulai melambat setelah menelusuri jalan sejauh 1 km. Apakah ini sebuah lomba lari jarak panjang? Bukan, wanita berpakaian rapi dalam balutan kemeja putih dan rok span selutut berwarna hitam itu sedang mengejar seorang pencopet yang membawa pergi tasnya. Kakinya berlari tanpa memakai alas kaki karena sebelumnya ia memakai sepasang high heels yang tadi ditinggalkan di sana, tempat di mana tasnya dirampas.Tubuh wanita itu akhirnya tumbang, tidak sanggup lagi berlari ataupun berdiri tegak meski tidak beraksi. Tubuhnya terduduk di tepi jalan dengan posisi duduk menyamping seperti suster ngesot. kedua bola matanya memperhatikan pencopet yang terus berjalan semakin jauh dari penglihatannya.“Berhenti …! Copet …! Tolong …!” Tiga kata itu diserukan sejak tadi. Ada beberapa pria yang ikut mengejar pencopet itu, mereka jauh tertinggal di belakang. Kecepatannya saat berlari ikut dikagumi oleh para pria itu yang ngos-ngosan setelah berlari."Maaf,
Read more
Tempat Titipan
Bunga mengipasi telapak kakinya menggunakan buku. Telapak kakinya itu sudah diolesi salep yang diberikan Kafkha. Setelah memberikan makan malam dan obat kepada ibunya, saatnya Bunga beristirahat. Di saat itulah Bunga baru bisa mengobati luka di telapak kakinya itu. Pikirannya sedikit terusik karena kartu identitas dan kartu-kartu lainnya yang lenyap dicuri pencopet siang tadi."Semoga besok akan baik-baik saja," ucap Bunga sambil membaringkan tubuh ke atas kasur.Pandangan Bunga mengarah ke langit-langit kamar, bibirnya tersenyum ringan mengingat tingkah Kafkha saat mengurus bocah itu. Selain itu, Bunga teringat masa sekolah dulu, Kafkha sering mengabaikannya saat dirinya mengajak kulkas seratus pintu itu berbicara."Arang terbang." Bunga tertawa ringan sambil memperhatikan foto bersama teman sekelasnya yang terpanjang di dinding kamarnya itu.Bunga juga mengingat momen pertama kalinya Kafkha berbicara padanya dan langsung memanggilnya Arang Terbang. Kala itu Kafkha meminjam penghapus
Read more
Bunga Pengantin
Kafkha keluar dari ruangan operasi, membawakan informasi baik untuk keluarga pasien yang dioperasinya, bahwa pasien itu sudah keluar dari masa kritisnya. Reaksi keluarga pasien tampak lega dan berterima kasih padanya.Pria itu lanjut berjalan menuju toilet untuk membasuh tangan. Di tengah kaki melangkah menuju toilet, ia melepaskan sarung tangan, penutup kepala, dan pakaian serba hijau yang digunakannya saat operasi. Setelah sampai di toilet, langkah Kafkha berhenti di pintu toilet pria setelah mendengar suara Bunga berbicara dari toilet wanita yang ada di sebelah. Kafkha menyadari keberadaan Bunga di sana setelah mendengar suara wanita itu menyebut nama Raisa, ia sedang menganga anak itu.“Ba! Jangan menangis lagi, ya? Nanti Mama Raisa sedih. Hari ini Tante juga sedih, Tante tidak jadi bekerja. Tante tidak menyalahkan Raisa, mungkin belum rezekinya di sana. Tunggu bentar, Tante cuci tangan dulu,” ucap Bunga kepada Raisa yang berada di gendongan depannya. Kafkha memperhatikan Bunga
Read more
Calon Istri
Willa memberhentikan motornya di hadapan Bunga yang berdiri di halaman gedung pernikahan, ia sedang mengeluarkan ponsel dari tas yang dijinjingnya.“Maaf Nga, aku tidak bisa mengantarmu pulang, ada urusan penting. Kamu bisa pulang sendiri, ‘kan?” tanya Willa.“Iya,” balas Bunga tersenyum.Willa menurunkan kaca helm, ia membunyikan klakson motor, dan melanjutkan perjalanannya mengendarai motor Vespa berwarna biru miliknya itu. Bunga memperhatikan kepergian motor itu di antara beberapa kendaraan beroda dua yang masih banyak berlalu lalang di tengah malam. Mengapa tidak? Para pekerja shift malam di kota itu mulai bereaksi mengerjakan tugas mereka. Bunga menghidupkan ponselnya. Tapi, dalam hitungan detik, ponsel itu mati. Padahal, baterai masih tersisa 30%. Tentunya ponsel itu akan mati, kondisi baterai ponsel tersebut sudah tidak bagus. Apakah kalian pernah merasakan hal yang sama seperti yang dirasakan Bunga? Menjengkelkan pastinya. Ingin rasanya Bunga LEM BIRU (Lempar Beli Baru), malah
Read more
Terpaksa Menerima
Bunga adalah orang yang menyambut tubuh Raisa, sebelum tubuh anak itu mendarat ke lantai. Bunga menggendong tubuh Raisa, memeluk anak itu dengan wajah ketakutan yang tergambar. Raisa menangis keras, sampai tangisannya sempat menghilang. Bunga mengayun pelan tubuh anak itu untuk menenangkannya. Kafkha marah besar, kedua bola matanya membesar marah menatap Eva. "Kamu pikir anakku kucing? Kalian semua lebih baik pergi sebelum aku mengusir kalian secara paksa," usir Kafkha memperingati mereka sambil mengarahkan tangan ke pintu yang terbuka lebar.Kemarahan Kafkha tak hanya menarik rasa takut ketiga wanita itu, Jelita pun ikut merasa takut dengan kemarahan yang terukir di wajah anaknya itu yang selama ini tidak pernah dilihatnya. Murka Kafkha kali ini membuat Jelita tidak bisa berkutik, menahan ketiga wanita itu untuk meminta maaf sebelum meninggalkan rumah itu.Kedua wanita yang berdiri di sisi kanan dan kiri Eva menyumut menyalahkan Eva atas kemarahan Kafkha yang ikut membuat mereka di
Read more
Situasi Yang Sama
Bunga membantu Jelita membersihkan alat makan yang kotor. Mereka telah menyelesaikan makan malam berdua tanpa kehadiran dokter dingin itu, Kafkha. Sebelum meninggalkan rumah itu, Bunga ke kamar Kafkha untuk melihat kondisi Raisa. Setelah sampai di kamar Kafkha, tidak hanya melihat Raisa, Bunga juga melihat foto Marissa, istri Kafkha di rentetan foto di atas meja dan dinding kamar. Foto wanita itu seakan menghidupkan suasana kamar, memberikan energi semangat untuk. Kafkha dalam hidupnya.Keceriaan terlukis di wajah Kafkha di setiap foto itu, jauh berbeda dari Kafkha yang dijumpainya sekarang, bahkan Kafkha yang dijumpainya dulu. Bunga jadi mengerti, Marissa bagaikan penawar, obat atas luka di hati Kafkha. Wajar baginya Kafkha sulit melupakan mendiang istrinya itu.“Aku tidak yakin bisa mengisi hati Kafkha. Jika aku tetap bersamanya, sama saja aku melukainya. Tapi, bagaimana aku menolak pernikahan itu? Aku sudah menyetujuinya. Raisa juga kasihan. Mana aku juga ingin sekali menjaga anak
Read more
Mencegah Bukan Menyembuhkan
Kafkha tidak tahu harus bahagia atau bersedih. Pernikahan mulai dipersiapkan dan akan diselenggarakan di kediamannya dua hari lagi. Para wedding organizer mulai menata beberapa bunga untuk dekorasi pernikahan di rumah itu. Semua orang tampak sibuk, terutama Jelita dan Murni yang tengah duduk di ruang tamu sambil melihat-lihat menu makanan yang akan disajikan di hari pernikahan nanti.Kafkha menoleh ke samping, melihat Bunga sedang menggendong Raisa di sudut ruang tamu itu. Tawa Bunga bersemi bersamaan dengan senyuman anaknya. Kafkha berdiri di depan pintu rumah melihat kesibukan setiap orang sampai tidak menyadari keberadaannya sendiri. Situasi Itu membuat Kafkha merasa mendiang Marissa selangkah demi selangkah menjauh darinya."Bagaimana perasaan Marissa melihat aku akan menikah? Dia pasti sedih," kata Kafkha dalam hati.Bunga memperkecil volume tawannya sampai akhirnya suara tawa itu tidak terdengar lagi setelah melihat pria yang akan menikahinya diam tampak tak tenang. Bunga melang
Read more
Hari Pernikahan
Dua Hari Kemudian ....Kafkha mengenakan baju pengantin yang telah disediakan. Hatinya masih ragu untuk melanjutkan pernikahan itu karena takut tidak bisa menerima Bunga setelah pernikahan itu terjadi dan juga malah akan menyakiti hati wanita malang itu. Sama sepertinya, Kafkha merasa Bunga juga orang menyedihkan karena masa lalu yang di alaminya. Kafkha mengeluarkan foto pernikahannya bersama Marissa dari dompet, ia memejamkan mata sambil mengingat momen ketika dirinya mempersunting Marissa sebagai istrinya."Nak ...!" panggil Jelita.Kafkha membuka mata. Tangannya bergegas memasukkan kembali foto tersebut ke dompet dan menoleh ke belakang sambil tersenyum. Ia berjalan mengikuti Jelita meninggalkan kamar tamu yang ditempatinya sejak kamarnya didekorasi.Kafkha melihat banyak tamu undangan, ia tidak menyangka undangan Jelita tak sesuai ekspektasinya. Bukan hanya kerabat dekat, seluruh staff rumah sakit juga datang. Kafkha diam tercengang, matanya menjalar, menjelajah memperhatikan beb
Read more
Keracunan Susu
Kafkha meluluhlantakkan semua perasaan sedihnya. Bibirnya tersenyum bahagia ketika bibirnya menjelajahi sekujur tubuh Bunga membuat tubuh wanita itu kaku merasakan kenikmatan dalam hubungan suami-istri untuk pertama kalinya. Beberapa kali bibir Kafkha berucap menyebut nama Marissa, hanya Marissa, bukannya Bunga. Kafkha bisa menikmati malam pertama pernikahannya bersama Bunga karena bayangan wajah Marissa. Ibarat, Bunga hanya wanita bayangannya. Hati Bunga sakit ketika mendengar nama Marissa diucap Kafkha disaat pria itu sudah menjadi suaminya. Namun, Bunga tidak lupa landasan mereka menikah. Tubuh pria itu jatuh di atasnya, kepala Kafkha berada tepat di dadanya. Pria itu menangis sambil mengungkapkan kerinduannya kepada Marissa. "Kamu tidak mencintaiku, kamu malah meninggalkanku," tangis Kafkha Isak.Untuk pertama kalinya Bunga melihat pria menangis sesedih itu di hadapannya, bahkan dalam pelukannya. Bunga ikut merasakan kesedihan pria itu, tangannya mengelus punggung mulus Kafkha d
Read more
Menolak Perhatian
Kafkha tidak bisa tidur. Perasaan bersalah menghantuinya setiap kali ingat bentakannya pada Bunga. Pria itu menoleh ke samping, memandangi Bunga yang telah memejamkan mata dalam tidurnya. Kafkha melihat luka di tangan Bunga dan ingat kukunya sempat melukai tangan wanita itu. "Mengapa aku seceroboh ini?" Kafkha duduk dan memperhatikan tangan Bunga. Kafkha menyadari hal lain. Matanya mendapati sebercak darah di sprei yang ada di sampingnya, berada di antara dirinya dan Bunga. Ia ingat telah menyetubuhi Bunga dan juga mengingat bibirnya menyebut nama Marissa dalam kondisi sadar. Raisa kembali menangis. Kafkha bangkit dari kasur dan menghampiri keranjang bayi. Bunga ikut terbangun oleh suara tangis itu. Ia duduk dan memperhatikan jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Bunga tiada mengenal lelah, ia mengambil Raisa dari gendongan Kafkha dan menenangkan anak itu dalam gendongannya. "Kamu tidur saja. Aku yang akan menidurkannya," suruh Bunga. Kafkha menurut. Kakinya melangkah mendekati t
Read more
DMCA.com Protection Status