เข้าสู่ระบบ“Siapa yang mau dijodohkan?”Pintu ruang kerja mendadak terbuka. Terdengar suara lembut bertanya dari ambang pintu,Dengan wajah yang masih tampak pucat tapi dipaksakan tersenyum, Elvi memasuki ruang kerja Damian sembari membawa nampan berisi secangkir kopi hangat.Damian bergegas berdiri menghampiri istrinya, mengambil alih cangkir itu lalu menjawab dengan nada menggoda, “Anakmu ini lho... sudah ngebet nikah tapi belum punya pacar. Mungkin ada anak teman arisan Mama yang gadisnya sudah siap nikah?”“Nggak ada perjodohan ya, Pi!” potong Dylan cepat dengan nada tegas. “Aku mau fokus lanjut ambil gelar profesiku dulu.”Elvi tersenyum lembut menatap interaksi ayah dan anak itu. “Mama nggak mau ikut campur urusan itu... Tapi kalau sampai ikut campur, paling cuma bisa bantu doa biar Dylan dapat jodoh yang terbaik.”Dylan melangkah mendekati Elvi, memeluk bahu mamanya erat lalu mengecup kening wanita itu penuh kasih sayang. “Terima kasih ya, Ma.”Tapi, di dalam lubuk hatinya yang paling dal
“Kau sudah siap bertemu dengan Bunda?” tanya Raymond memastikan kesungguhan niat istrinya.Jovita mengangguk pelan. “Aku hanya ingin fokus pada kehamilan ini, Om... Mungkin dengan bertemu Bunda sekali saja, bisa membuatku yakin bahwa aku tetap bahagia tanpa kehadiran dia.”Raymond tertegun mendengar jawab istrinya. Sungguh di luar dugaan, karena sebelumnya Raymond mengira keinginan Jovita bertemu dengan mamanya karena sudah memaafkan.Jovita mengalihkan pandangannya ke arah jendela kaca. Di luar, langit malam sudah sepenuhnya menggelap, hanya ditinggali bias lampu-lampu kota yang terpantul redup di kaca kamar perawatan.“Dulu... setiap aku sedih, setiap aku kelaparan, atau saat aku sakit, aku selalu berharap Bunda bakal datang menjemputku,” lanjut Jovita dengan suara yang kembali memberat. “Tapi bertahun-tahun... harapan itu cuma tinggal harapan.”Jovita menyeka air mata yang menetes tanpa memberi aba-aba. “Anggap saja cerita Dylan tadi seratus persen benar... tapi Bunda bukan anak ke
Dylan mengangguk pelan tanpa membantah sedikit pun."Semua itu melewati proses yang sangat panjang, Jo. Di depan publik, Papi dan Mama memang sengaja menampilkan citra pasangan yang harmonis. Tapi begitu sampai di rumah, hubungan mereka dingin luar biasa. Tugas Mama di rumah murni hanya mengurus aku... Mama bahkan sama sekali tidak punya kewajiban untuk melayani Papi sebagai seorang istri."Dahi Jovita berkerut tajam, tanpa sadar pertanyaan spontan meluncur begitu saja dari bibirnya, "Kalau begitu... kok bisa hamil?!"Dylan menghela napas panjang, rasanya ingin teriak tepat di telinga Jovita. Saat ini Jovita juga sedang hamil, tentu lebih tahu bagaimana proses kehidupan baru itu tercipta. Mengapa harus tanya pada Dylan yang statusnya jomblo kesepian?"Mereka baru benar-benar saling jatuh cinta dan membuka hati mungkin baru satu tahun terakhir ini.” Tatap mata Dylan menyiratkan penyesalan mendalam. “Mereka bahkan baru menjalani bulan madu setelah bertahun-tahun menikah... Dan kalau kam
“Bunda!” jerit Jovita beberapa tahun lalu, suaranya melengking memanggil sang ibu saat sirine ambulans mulai meraung dan kendaraannya melaju makin menjauh.Di dalam rumah yang berantakan, Joni sedang digelandang kasar oleh beberapa petugas polisi. Jovita kecil menangis histeris seorang diri dalam pelukan erat asisten rumah tangganya, menyaksikan ceceran darah merah pekat yang masih membasahi lantai rumah mereka.“Kondisi Mama waktu itu sangat buruk, Jo...”Suara Dylan perlahan membuyarkan lamunan mengerikan yang berputar di kepala Jovita. Dilihatnya Dylan menatapnya dengan raut penuh penyesalan.“Beberapa tulang rusuknya patah, dan tulang hidungnya juga.”Dada Jovita makin sesak. Ingatan itu datang kembali wajah ibunya yang penuh lebam kebiruan dan pendarahan parah di hidung saat diangkut ke dalam ambulans adalah bayangan terakhir yang ia simpan tentang Elvi.Dylan melanjutkan dengan suara bergetar, “Begitu Mama sadar, Mami langsung ambil tindakan, cari pengacara untuk dampingi Mama m
“Ih lucu banget.”Di ruang perawatannya, hanya ponsel yang menemani kesendirian Jovita. Ia bersandar santai sembari menggulir layar ponsel, asyik melihat-lihat perlengkapan bayi yang menggemaskan di sebuah toko online.Tanpa ragu, ia mulai memasukkan beberapa barang ke dalam keranjang belanjaannya hanya karena alasan lucu dan menggemaskan. Simpan dulu, nanti dipilih-pilih lagi setelah mengetahui jnis kelamin bayinya. Mulai dari jumpsuit bayi bermotif dinosaurus pastel, topi rajut telinga kelinci warna cream, hingga satu set kaus kaki mungil berenda dengan corak beruang cokelat.Suara engsel pintu yang terbuka memecah fokusnya. Mengira perawat yang datang untuk mengambil sisipan piring, Jovita bergegas merapikan sisa perlengkapan makan siangnya di atas meja dorong.Betapa terkejutnya Jovita saat mendongak dan melihat siapa yang melangkah masuk. Bukan perawat, melainkan Dylan, yang didampingi langsung oleh Raymond dan Dokter Amira.Raut wajah Jovita seketika berubah tegang. Ia langsung
Dengan berusaha tetap tenang, Raymond melangkah menghampiri Dylan yang berjalan mantap di lorong rumah sakit.“Ada keperluan apa kamu datang ke sini? Mamamu baik-baik saja, kan?”Raymond berusaha mengakrabkan diri dengan teman istrinya, karena bagaimana pun sekarang mamanya Dylan adalah ibu mertuanya. Raymond hanya ingin menunjukkan sedikit kepedulian untuk tetap menjaga hubungan baik.Dylan mengangguk pelan. Entah mengapa sikapnya berubah setelah mengetahui kenyataan bahwa Jovita adalah anak kandung Elvita, yang artinya Jovita adalah saudara sambungnya.Apalagi, masih lekat dalam ingatan Dylan. Dari data kemahasiswaan, usia Jovita lebih muda darinya, meski hanya hitungan bulan. Itu artinya, Raymond kini berstatus sebagai suami Jovita, adalah adik iparnya. Hal tersebut membuat Dylan tidak ingin tampak gentar atau kalah wibawa di hadapan Raymond.“Aku ingin bertemu dengan Jojo,” jawab Dylan lugas tanpa basa basi.Raymond menghela napas pelan, menggelengkan kepala. “Jangan sekarang. Kon
Jovita mencengkeram erat tali tasnya, syarat dari Raymond seperti ujian akhir kelulusan, berat dan tak mudah.Meyakinkan Viola menerima wanita lain menjadi ibunya.“Om, maaf…” Jovita menelan ludah, menatap ragu pria matang di sampingnya. “Kita sama-sama tahu Vio itu keras kepala. Saya tidak yaki
“Argh….”Basah, dingin, dan lengket.Cairan kemerahan koktail buah merembes mengotori seragam katering Jovita. Matanya terpejam mencengkeram kuat nampan yang dia bawa menahan amarah.“Maaf! Sengaja,” cibir salah satu teman Jovita di kampus, meletakkan gelas kosong ke nampan Jovita dengan kasar. “Se
Tak ada kelembutan dalam ciuman Raymond. Penuh kelaparan yang selama bertahun-tahun terpendam. Tangan kekar Raymond mencengkeram pinggang Jovita. Mengunci tubuh ringkih gadis itu di antara dada bidangnya dengan meja pantry hingga tidak bisa ke mana-mana.“Jojo…”Raymond menarik tautan bibir mereka
Saat Raymond melangkah masuk, keadaan rumah keluarga Chandra sudah jauh lebih tenang. Pria itu melihat sosok Jovita baru saja turun dari lantai dua sambil membawa tas kainnya dan sebuah tumbler pemberian Viola.Raymond menghentikan langkah. "Jojo? Belum pulang?"Jovita sedikit tersentak, lalu me







