เข้าสู่ระบบMalam kian merambat pekat di atas langit metropolis. Angin dingin berembus pelan di area balkon terbuka penthouse lantai paling atas, membawa udara segar yang membelai permukaan kulit.Di balik pembatas kaca setinggi dada, pemandangan hamparan lampu-lampu kota membiaskan pendar keemasan yang megah. Nathan Utama berdiri tegap, merengkuh tubuh mungil Alya dari belakang.Kedua tangan tebal Nathan melingkar ketat di sekeliling pinggang Alya, mengunci gadis itu rapat-rapat dalam dekapannya.Alya menyandarkan punggungnya dengan penuh kepasrahan, menikmati kehangatan yang menguar dari dada bidang Nathan yang terlindung kaus hitam tipis.Kemeja oversized milik Nathan masih membungkus tubuh Alya, menebarkan aroma parfum maskulin yang kian menguatkan rasa kepemilikan sang pewaris Utama.Nathan menundukkan kepalanya sedikit, menghirup aroma wangi sampo dari rambut panjang Alya yang terurai bergelombang.Binar matanya yang tajam mengawasi pantulan bayangan mereka di kaca tebal balkon.Ada rasa pu
Deru halus lift privat berhenti tepat saat pintunya terbuka lebar, menampilkan lantai marmer berkilau dari penthouse mewah milik Nathan Utama di lantai paling atas.Aroma wangi ruangan yang elegan menyambut kedatangan mereka, berpadu dengan pemandangan lanskap gedung-gedung pencakar langit metropolis yang mulai menyalakan pendar lampu malam di balik dinding kaca raksasa.Nathan melangkah masuk terlebih dahulu, membiarkan jemarinya melepas dua kancing teratas kemejanya yang santai. Pria itu berbalik, mengawasi Alya yang berjalan agak lambat di belakangnya.Gadis itu mengenakan kemeja oversized milik Nathan yang panjangnya mencapai pertengahan paha mulusnya, dipadu celana pendek ketat yang tertutup sempurna oleh kelim kemeja.Meskipun langkah kakinya masih sedikit lemas akibat pelepasan dahsyat di dalam mobil tadi, waut wajah Alya justru memancarkan kebahagiaan yang membuncah."Kamu mau makan malam apa, Nathan?" tanya Alya antusias, matanya yang berbinar jernih menatap lurus pada sang p
Lantai parkir bawah tanah gedung pascasarjana terasa dingin dan lengang saat sore merambat naik.Pendar lampu neon yang redup membiaskan bayangan panjang mobil sport hitam milik Nathan yang terparkir jauh di sudut paling sepi, tersembunyi di balik pilar beton raksasa.Mesin kendaraan mewah itu sengaja dimatikan, menyisakan keheningan pekat yang hanya diisi oleh suara detak pendingin udara yang perlahan mereda dan hembusan napas yang saling memburu.Kaca film mobil berteknologi tinggi yang amat gelap menutup rapat seluruh pandangan dari luar, menciptakan ruang privat tanpa batas di dalam kabin beraroma kulit mahal dan parfum maskulin.Nathan menyandarkan punggung tegapnya di kursi kemudi, merenggangkan kedua kakinya dengan posisi santai namun memancarkan aura dominasi mutlak.Pria itu menolehkan kepalanya perlahan, mengunci pandangan mata baritonnya yang pekat pada Alya yang duduk membeku di kursi penumpang di sampingnya."Lepas pakaian lo," perintah Nathan dingin, nada suaranya datar
Suasana ruang koleksi khusus di lantai dua perpustakaan pusat kampus terasa teramat hening.Bau khas kertas-kertas tua dan pendingin udara yang berembus pelan beradu dengan bau kayu mahoni dari jajaran rak-rak buku raksasa.Tempat ini jarang dikunjungi mahasiswa karena hanya berisi literatur tua dan ensiklopedia tebal. Di sudut paling belakang, tersembunyi di balik dua sekat rak tinggi, Nathan Utama duduk tenang menyandarkan punggungnya di kursi kayu berukir.Di atas meja kayu panjang di depannya, sebuah laptop perak menyala menampilkan draf skripsi yang sedang disusunnya.Namun, fokus pikiran Nathan sama sekali tidak berada pada barisan kalimat metodologi penelitian di layar monitor.Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul tiga lewat sepuluh menit. Mata bariton Nathan yang tajam sesekali melirik ke arah lorong sempit di antara rak buku.Derap langkah kaki yang amat pelan dan ragu-ragu terdengar mendekat. Sosok Alya muncul dari balik bayangan rak tebal, membawa sebuah cangkir k
Langkah kaki Nathan Utama mantap dan terukur saat menyusuri lorong berlantai marmer di gedung Fakultas Ekonomi.Jas almamater yang tersampir santai di sebelah bahunya serta kemeja putih yang tergulung hingga pertengahan lengan mempertegas postur tubuhnya yang tinggi tegap.Di sekelilingnya, tiga orang rekan pengurus himpunan mahasiswa sibuk berkutat dengan berkas-berkas program kerja, bersahut-sahutan membahas anggaran dan izin kegiatan yang harus diselesaikan sore itu.Namun, perhatian Nathan sama sekali tidak tertuju pada lembaran kertas di tangan rekannya.Melalui pantulan kaca jendela lorong dan sudut mata baritonnya yang tajam, Nathan mengawasi satu sosok mungil yang mengekor perlahan sekitar lima langkah di belakang rombongannya. Alya.Gadis itu mengenakan kardigan rajut berwarna krem longgar yang dipadukan dengan rok lipit sebatas lutut. Rambut panjangnya dibiarkan terurai tipis, membiaskan kesan polos yang amat kontras dengan jejak-jejak kepasrahan liar yang diukir Nathan pada
Deru napas tersengal-sengal masih berembus kencang di dalam ruang VIP-01 yang terisolasi rapat.Suasana redup berbalut pendar warm amber membingkai tubuh tegap Nathan yang bertelanjang dada, duduk bersandar di sofa kulit hitam.Keringat tipis melapisi dada bidang dan perut berototnya yang naik-turun teratur, sementara di pangkuannya, tubuh mungil Alya terbaring lemas bagai tanpa tulang.Alya menyandarkan pipinya yang hangat pada dada bidang Nathan, mendengarkan detak jantung pria itu yang berpacu kuat namun stabil.Tubuh gadis itu masih beberapa kali menyentak halus, sisa-sisa gelombang pelepasan luar biasa dari penyatuan gila yang baru saja mereka selesaikan.Gaun marun tipisnya sudah berantakan tak beraturan, mencetak jejak-jejak kemerahan di leher dan bahunya akibat kepemilikan liar sang pewaris Utama.Jemari tebal Nathan yang hangat merayap perlahan menelusuri garis punggung mulus Alya, membelai helai demi helai rambutnya yang sedikit basah oleh keringat."Masih bernapas, Al?" gum
Pagi itu, udara masih lembap sisa hujan semalam. Heri berada di dalam pos keamanan yang sempit, melepas seragamnya yang bau keringat dan apek. Saat ia baru saja menyampirkan handuk di bahu, memperlihatkan dada bidangnya yang cokelat legam dengan otot-otot perut yang keras dan padat, pintu pos terbu
Jam menunjukkan pukul dua pagi. Hujan di luar bukannya mereda, justru semakin menggila. Suara angin yang menghantam atap rumah elit itu terdengar seperti raungan binatang buas. Heri masih terjaga di sofa, berusaha memejamkan mata namun gagal total. Pikirannya masih kacau, antara bayangan kemolekan
Kegelapan di dalam kamar itu terasa begitu pekat, hanya menyisakan deru napas Sintya yang memburu karena panik. Heri merasakan sebuah tubrukan keras di dadanya. Sintya, yang tadi memaki-maki seperti singa betina, kini justru memeluknya erat dengan tubuh yang gemetar hebat.“Nyonya... tenang, Nyonya
Heri merasa jantungnya ingin melompat keluar dari rusuk saat pintu jati itu terbuka lebar. Sintya berdiri di sana, hanya berbalut kimono sutra tipis yang diikat asal-asalan. Rambutnya berantakan, dan wajahnya masih kemerahan sisa gairah tadi.“Lagi ngapain kamu di sini, Heri?” tanya Sintya dengan n







