FAZER LOGINKyrran memang tampak tak bereaksi dengan label playboy yang tiba-tiba diberikan Andrea. Ketos iblis, galak, bahkan disebut berengsek tidak sebegitunya membuat Kyrran kepikiran sampai didera sekelebat sensasi aneh. Benaknya bahkan terus bertanya-tanya ketika memasuki toko dekorasi.
Kenapa Andrea mencapnya seperti itu? Padahal sudah jelas Kyrran selalu menolak mentah-mentah para cewek yang terang-terangan mendekatinya. Bahkan pernah tepat di depan mata Andrea.Isaac sempat berkumpul dengan Jergar, Narell dan Darell. Lelaki berusia dua puluh tahun itu kemudian menyampaikan sebuah ide iseng untuk mengerjai Kyrran. "Aku mau lihat bagaimana adik kita cemburu," ucapnya menyeringai tipis. Area persiapan berkuda mulai ramai oleh anggota keluarga yang sibuk memilih helm, sarung tangan dan kuda masing-masing. Di tengah keramaian itu, Isaac melancarkan aksinya. Ia berjalan santai menghampiri gadis pujaan hati adiknya. "Andrea," sapa pria berambut cokelat terang itu, tersenyum ramah. "Mau berkuda bersamaku?" ajaknya pada gadis cantik itu, kemudian menoleh ke arah beberapa kuda yang sedang disiapkan staf. Andrea berkedip bingung, bahkan bibirnya terlihat sulit mengucapkan satu kata pun. Isaac maju selangkah sehingga jarak di antara mereka menipis. Senyum jahil mulai muncul di wajahnya lantaran sudut mata lelaki itu sudah melihat Kyrran memperhatikan dari kejauhan. Isaac menurunkan sedikit wajahnya. "Aku bisa membantu memilih kuda untuk kamu,
Sunroom mansion keluarga Yoseviano pagi itu dipenuhi suara percakapan hangat dan dentingan halus peralatan makan porselen.Cahaya matahari menembus dinding kaca tinggi, menerangi meja panjang yang dipenuhi berbagai hidangan brunch. Andrea dan para sahabatnya serta seluruh anggota keluarga Yoseviano telah berkumpul di sana. Keributan pagi tadi di kamar Kyrran tiba-tiba mengubah arah perbincangan lantaran celetukan Papa Adriell terdengar. "Papa mendengar kalau pagi-pagi tadi ada keributan di kamarmu, Kyrran." Tatapan tajam pria itu tertuju pada sang putra. "Apa yang terjadi?" ucapan Papa Adriell begitu tenang namun seperti ada tekanan sarkas di untaian katanya. Pria itu kemudian menyesap kopi dalam cangkir tanpa mengalihkan pandangan. Semua orang yang tahu kejadian sebenarnya memilih fokus pada makanan mereka meski sempat menahan napas. Andrea sendiri hampir tersedak jus yang sedang diminumnya. Jantungnya mulai berde
Di kamar sebelah, suasananya sedikit lebih santai. Jika Kyrran diinterogasi serius oleh para kakaknya, Andrea justru didera tatapan usil dan senyum jahil para sahabatnya. Suara 'cieeeee' menggema serempak setelah Andrea dibimbing untuk duduk di tepi kasur. Sementara itu, gelak tawa ringan dari Noela, Cassandra, Elyse dan Jolina—membuat rona pipi Andrea jadi merah. Noela duduk di sebelah Andrea. Dia menyikut lembut lengan Andrea. "Kalian sudah sejauh itu ya ternyata.""Rasanya gimana, Andrea?" tanya Jolina blak-blakan. Matanya berkilat rasa ingin tahu yang menggebu-gebu. Cassandra dan Elyse senantiasa menunggu jawaban Andrea dengan penasaran yang sama besarnya. "Guys… c'mon… aku gak sejauh yang kalian pikirkan kok. Aku dan Kyrran cuma—"Ucapan Andrea tercekat lantaran dia mengembuskan napasnya pelan, lalu Noela menyela. "Cuma apa nih?" Jolina menukik alisnya berulang kali. Andrea mengulum bibir rapat-rapat
Tidak ada yang akan tahu kalau Andrea dan Kyrran tidur bersama kalau bukan si bungsu keluarga Yoseviano yang menemukan mereka.Mulanya, Lysander bangun begitu pagi dan membawa boneka astronotnya menuju kamar Kyrran. Jika Kyrran pulang ke mansion, si bungsu memang acap kali pagi-pagi ke kamar kakaknya itu untuk tidur bersama. Pasalnya Kyrran jarang muncul di rumah sejak tinggal di asrama. Di dalam kamar Kyrran, anak kecil itu menatap sang kakak tengah tidur memeluk gadis cantik. Bingung dia. Lantas Lysander berlari keluar, berpindah ke kamar Noela. Ia membangunkan kakak perempuannya. "Kakak El, Kakak El…" Lysander mengguncang bahu Noela yang masih tertidur. Untungnya tak butuh waktu lama gadis berambut sebahu itu membuka matanya. "Adek… ada apa pagi-pagi ke sini?" gumam Noela. Suaranya masih didominasi kantuk. "Kakak masih mau bobo, loh.""Kakak Ran peyuk kakak cantik di sebeyah," celoteh Lysander dengan pelafalannya yang masih cadel. Noela tersentak bangun. "What!?"Gadis itu k
Andrea yakin dirinya beberapa detik yang lalu dikuasai oleh dorongan aneh dalam dada. Sekujur tubuhnya didera denyut yang membingungkan dan begitu memabukkan. Jantungnya sendiri berdebar keras sampai terdengar jelas di gendang pendengaran gadis itu. Di sebelah Andrea, Kyrran memejamkan mata rapat-rapat sambil menata napasnya yang berkejaran. Perlahan, Kyrran mengangkat punggungnya hingga terduduk. Terlihat cowok itu menyugar rambut hitamnya dengan kasar. Kemudian ujung jari Kyrran mengusap tengkuknya dengan gerakan pelan, seolah menenangkan dirinya yang dikuasai sesuatu yang sulit dijelaskan. Andrea bangun pelan-pelan, kemudian turun dari kasur. Niatnya mau keluar dari kamar Kyrran, kembali ke kamar Noela. Pikirnya berbahaya ada di situasi ini jika mereka berduaan terus. Andrea harus segera pergi. Namun begitu telapak kakinya menyentuh karpet, tangan Kyrran tiba-tiba menangkap pergelangan tangannya dari belakang. Andrea terhenyak, sisa debar di dadanya masih terasa.
"Kyrran…" gumam Andrea. Dia mengedipkan matanya sekali untuk melihat lebih jelas. Bisa saja dia bermimpi, kan? Sosok di hadapannya mengenakan sweter hitam berlengan panjang. Salah satu tangannya berada di saku, sementara tangan lainnya memegang gelas bening berisi air. Cahaya temaram dari lampu dinding jatuh samar di wajah cowok itu, menciptakan garis-garis bayangan yang tegas pada rahang dan hidungnya. Meski pencahayaan tidak cukup terang, Andrea pada akhirnya menyadari kalau dirinya tidak sedang bermimpi. Itu memang Kyrran. Untuk beberapa saat, tak seorang pun dari dua remaja itu yang bergerak. Koridor panjang yang membingkai posisi mereka, mendadak terasa jauh lebih sempit. Sementara itu, keheningan di antara keduanya terasa begitu jelas hingga suara detak jantung Andrea sendiri terdengar memekakkan telinga. Sebelum gadis itu mengambil langkah, Kyrran lebih







