LOGIN"Tidak peduli berapa kali kita mengulang waktu, kamu dan aku akan tetap menjadi musuh satu sama lain. Tidakkah kamu mengerti? Tragedi ini tidak akan pernah selesai, sebelum salah satu dari kita mati terlebih dahulu." Di kehidupan sebelumnya, Ariana hidup sebagai duchess bodoh yang melepaskan kekuasaan keluarga hanya demi cintanya pada putra mahkota. Kesalahannya itu membuat wilayahnya hancur, seluruh keluarganya musnah, sementara Ariana diracun dan ditinggalkan setelah dia tidak lagi berguna. Pada akhirnya Ariana mengakhiri hidupnya dengan melompat dari lantai teratas kastil yang dia tempati dan mati dengan penyesalan. Diberi kesempatan kedua, Ariana kembali pada masa di mana tragedi itu belum terjadi. Ariana sadar kesempatan kedua itu merupakan kesempatan baginya untuk menebus semua kesalahannya. Gadis itu bertekad, dia tidak akan membiarkan tragedi itu sampai terjadi untuk kedua kalinya. Perang, perebutan takhta, dan konspirasi besar akan menyertai Ariana dalam perjalanannya untuk menjadi satu-satunya duchess di Kerajaan Sigmund.
View MoreLUIZ
Você acredita em amor à primeira vista?
Foi assim para mim, a primeira vez que a vi, algo dentro de mim se acendeu, a fragilidade e inocência de Sophia, me ganhou por completo, talvez por sermos opostos? Não sei dizer, mas é algo que não consigo lutar contra, mesmo sabendo que posso não sair vitorioso no final, ela passou parte da vida em um convento e tem uma história muito diferente da minha.
A sensação de pertencimento, como se ela pudesse tocar minha alma, e não se contaminar com toda a escuridão que existe lá.
Todas as minhas inibições, inocência e doçura foram arrancados de mim ainda muito novo, me tornando uma casca vazia, ou uma casca recheada de maldade.
Meu nome é Luiz e sou completamente apaixonado por Sophia, a pequena inocente que roubou meu coração.
Ela foi resgatada de um sequestro, o homem a quem o pai dela praticamente a vendeu, e se não tivéssemos chegado a tempo, ele teria violado e usurpado a inocência de Sophia, mas mesmo assim esse ato deixou estragos.
Ela precisava de proteção, eu não conseguiria deixa-lá, eu seria a melhor pessoa para proteger Sophia, minha casa era afastada e muito bem protegida, então a levei para lá.
A primeira vez que a vi foi no casamento do meu irmão, e foi o primeiro contato também com seu padrasto, Pablo, um homem que exalava maldade, ele apareceu na casa dos meus pais para buscar Sophia, nitidamente não queria que ela tivesse contato com as pessoas, nessa época ela já estava no convento, saindo apenas para presenciar o casamento de sua amiga, Gabriela.
Conversando com meu pai, descobri que a mãe de Sophia se casou com ele, pouco tempo depois da morte, do pai de Sophia, o que é bem estranho, um mês depois disso Sophia foi mandada para o internato de freiras, ele queria que ela se mantivesse pura, pois estava prometida em casamento, o padrasto ganharia mito dinheiro com isso, havia vendido a enteada, e ela nem mesmo sabia disso.
Ela é uma menina assustada, ainda estava em choque devido ao sequestro, quando fecho os meus olhos, ainda posso ver, Sophia nua jogada naquela cama, o rosto sangrando, toda vez que me lembrava, o ódio aflorava, o homem que pretendo mt@r, é Dario Tullosa.
Após resgatarmos Sophia, Dario conseguiu fugir, ele estava em um quarto do panico, dentro da sua casa, a prioridade era tirar a menina dali, cuidaríamos dele depois, mas ele foi rápido e saiu do país, para que ela ficasse protegida e fora do radar desse monstro Emily me pediu que a levasse comigo para casa, o que aceitei de imediato, ela estaria protegida, eu protegeria Sophia, com a minha própria vida.
Sophia quase não falava, sua confiança nos homens foi minada, pelo padrasto, e por Dario Tullosa, ela tentava confiar em Luiz, mas ainda não sabia se podia.
Quando chegaram à casa de Luiz ela ficou parada na porta, não sabia o que dizer nem como agir.
Luiz:-Entre Sophia, vou te mostrar seu quarto. - Sophia não tinha nada, então a mãe de Luiz preparou uma bolsa com itens que ela precisaria para o dia a dia, itens de higiene pessoal, e algumas roupas.
Ele colocou a bolsa sobre a cama, Sophia entrou com passos vacilantes, ficou encostada à parede ao lado da porta.
Luiz:-Não precisa ter medo de mim, Sophia, estou aqui para te proteger.-Ela levantou a cabeça e olhou para ele por alguns segundos, antes de baixar os olhos novamente, algo em Luiz mexia com ela, Sophia só não sabia se isso era bom.
Luiz não queria que ela ficasse mais assustada, resolveu sair do quarto.
Luiz:-No banheiro, tem toalhas limpas-Apontou para a porta ao lado do closet -Amanhã você pode escolher algumas roupas pela internet, será mais seguro.
Sophia: - Obrigada.
Luiz sorriu e saiu, estava se contendo para não falar nada ofensivo, ou que pudesse assustar Sophia, se encostou na parede do corredor ao lado da porta dela.
Luiz: - Isso vai ser difícil, muito difícil - Luiz foi para o próprio quarto estava ofegante, abriu os botoes da camisa, sentindo calor, acabou arrancando a roupa e entrando no chuveiro, somente a presença de Sophia havia deixado Luiz em um estado que nunca esteve devido a uma mulher, precisou se aliviar como um adolescente, pensando em Sophia.
Depois de se acalmar Luiz foi para cozinha, cozinhava muito bem, arrumou um jantar, colocou a mesa e foi chamar por ela.
Bateu na porta, não teve reposta, esperou mais alguns segundos e bateu novamente, Sophia abriu vestida em um roupão, os cabelos ainda molhados.
Luiz:-O jantar está pronto-Ele saiu e ela ainda pode ouvir Luiz murmurando "Muito difícil", ela ficou sem entender direito, mas foi se vestir.
Luiz esperava sentado na mesa, serviu Sophia, ela apenas observava.
Sophia:-Você que cozinhou?
Luiz:-Foi sim, está bom?-Ela pegou o talher e provou, seu rosto transmitiu surpresa.
Sophia:- Está maravilhoso-O rosto dela se iluminou e Luiz viu um sorriso que nunca havia visto antes, ele fixou os olhos na linda mulher à sua frente, se esquecendo até de comer.
Sophia, um pouco tímida, fez um gesto apontando para o prato dele, Luiz pigarreou e voltou a comer, tentando manter sua atenção no prato à sua frente.
Selesai selesai menemui Melisa, Raoul tidak langsung kembali ke istana ketika dia malah membawa Ariana ke taman kerajaan yang indah. Setelah lama tidak bertemu, Raoul pikir dia memiliki banyak hal untuk dikatakan pada Ariana. Gadis itu tidak tahu betapa Raoul sangat menantikan pertemuan mereka. Walaupun pertemuan mereka tidak seindah yang Raoul bayangkan, tetapi pria itu tetap senang ketika dia melihat Ariana lagi. Sekarang setelah mereka akhirnya memiliki waktu untuk diri mereka sendiri, Raoul ingin bicara berdua dengan Ariana. Pria itu sama sekali tidak ragu saat dia menggandeng tangan Ariana. Jantungnya semakin berdebar keras, ketika pria tersebut tidak melihat penolakan apa pun dari Ariana. Setelah Raoul meminta Ariana duduk di tempat beristirahat yang ada di taman istana, pangeran tersebut menyusul untuk duduk di sebelah Ariana setelah itu. Namun ketika Raoul melihat wajah murung Ariana, pria tersebut tiba-tiba saja kehilangan kata-katanya. Ariana memang telah berubah menjadi w
Dari kastilnya, Melisa mendengar terompet yang menandakan bahwa perang telah usai. Emilio telah mati, dan Kerajaan Sigmund telah berhasil kembali pada pewaris sahnya. Suara bahagia dia luar kastil berhasil menghancurkan semua harapan Melisa. Wanita itu sempat terpaku, sebelum air matanya mengalir tanpa henti dari kedua matanya. Dengan kematian Emilio, semangat Melisa untuk melarikan diri segera jatuh ke titik nol. Wanita tersebut menatap perang yang telah selesai dari jendela kamarnya, lalu berbalik untuk menatap Teresa yang masih setia untuk menemaninya. Bahkan jika status mereka telah berubah, kesetiaan Teresa tetap sama sampai saat-saat terakhir. Melisa telah menyeret Teresa ke dalam balas dendam dan penderitaan ini. Namun bahkan sekarang, Teresa sama sekali tidak mengeluh ketika dia hanya terus berdiri di belakang Melisa untuk menemani wanita itu. Melihat kegigihan Teresa untuk tetap bersamanya sampai akhir, membuat Melisa kembali sedih. Senyum retak muncul di wajahnya, ketika
Ketika Ariana sudah bisa melihat gerbang istana kerajaan, gadis itu melihat bahwa pertarungan antara pasukan Pangeran Raoul dan pasukan masih berlanjut di halaman istana. Ariana baru saja hendak turun dari kudanya untuk membantu, ketika Jimmy yang melihat keberadaan Ariana langsung berteriak pada gadis itu. "Nona Aria, Pangeran Raoul telah memasuki istana bersama dengan yang lain! Kami bisa mengendalikan situasinya di sini. Jadi tolong bantu Pangeran Raoul untuk menemukan Raja Emilio!"Mendengar bahwa Pangeran Raoul telah masuk ke istana terlebih dahulu untuk mencari Emilio, Ariana merasa dia tidak memiliki banyak waktu lagi. Gadis itu hanya bisa mengangguk pada Jimmy, sebelum memacu kudanya untuk pergi ke istana kerajaan. Semakin dia masuk ke dalam istana, Ariana melihat semakin banyak orang terpaksa berhenti mengikuti Pangeran Raoul untuk melawan musuh yang ada di istana. Ariana berlari cepat ke dalam istana, dan melihat bahwa Pangeran Raoul tengah bertarung melawan Emilio. Di ru
Ketika Emilio bangun kembali, dia merasa bahwa ribuan batu telah menindih badanya yang rapuh. Pria tersebut tidak bisa menahan batuk ketika dia mencoba untuk bangun secara tiba-tiba. Pandangannya sedikit kabur. Emilio hanya bisa mendengar seseorang samar-samar memanggil namanya, sebelum dia akhirnya cukup sadar untuk melihat ke sekeliling. Begitu Emilio melirik ke arah suara berdengung yang sejak tadi terus mengganggunua, pria itu menemukan sang Ibu yang selama ini dia kurung di kastil terpencil tengah menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Emilio, syukurlah kamu telah bangun Nak. Tenang saja, sebentar lagi kita akan pergi dari tempat ini. Ibu telah memikirkannya dengan baik. Tidak ada balas dendam atau kejahatan lain. Ibu hanya ingin hidup bahagia denganmu mulai saat ini."Alis Emilio bekerut ketika dia tidak mengerti apa maksud ucapan sang Ibu. Walaupun badan Emilio masih lemas dan sedikit bergetar ketika dia paksakan untuk bangun, pria itu tetap bangun dari posisi tidurnya untuk m
Tanpa Ariana sadari, dia telah tertidur sambil memeluk kotak peninggalan dari orang tuanya di depan lemari pakaian yang ada di kamarnya. Tidur hanya dengan gaun tidurnya, Ariana tanpa sadar meringkuk untuk membuat tubuhnya terasa lebih hangat sepanjang malam. Hanya ketika Andrew masuk ke kamar Aria
Ariana berjalan dengan hati-hati saat dia memutuskan untuk menghabiskan waktu luangnya dengan mengecek halaman belakang tempat dia jatuh beberapa hari yang lalu. Walaupun Ariana sendiri tidak yakin dia akan menemukan petunjuk di tempat itu, gadis itu setidaknya ingin mencoba dan mengenyangkan rasa
Ariana kembali ke kamarnya setelah dia selesai bicara dengan sang Kakek. Sebelum berbicara, Ariana sudah tahu bahwa dia tidak bisa menyembunyikan segalanya dari sang Kakek. Ariana sudah beruntung dia bisa mencapai kesepakatan dengan mudah kali ini. Menggunakan alasan tentang belajar ilmu pedang mem
"Kalau begitu, aku pergi dulu Kakek!"Andrew menyaksikan saat cucunya dengan riang keluar dari ruangannya setelah mereka selesai bicara berdua. Senyum yang semula terlihat samar bibir Andrew benar-benar hilang, saat pintu ruang kerjanya kembali tertutup rapat. "James, kamu di sini kan?"Dari balik
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore