ログインCuando la exnovia de mi esposo sufrió quemaduras con agua hirviendo, él, para castigarme, me metió en una vaporera lo suficientemente grande para una persona y subió la temperatura al máximo. —¡Pagarás el daño que sufrió Luciana, multiplicado por mil! —sentenció. Atrapada en ese espacio estrecho, apenas podía respirar, mientras mi cuerpo ardía y yo le suplicaba entre lágrimas: —¡Por favor, voy a morir! Pero él, abrazando a su exnovia, se marchó sin mirar atrás. —Tranquila, no morirás. ¡Pero sí entenderás el sufrimiento de Luciana! Grité desesperada dentro de la vaporera mientras el agua hirviendo, debajo de la bandeja, me salpicaba la piel. Poco a poco, mi voz se fue apagando. Él se fue de viaje al extranjero con su exnovia, y, solo una semana después, al regresar al país, recordó mi existencia. —Esa maldita ya debe haber aprendido su lección. ¡Sáquenla de ahí! Lo que él no sabía era que en aquella vaporera, que había dejado calentarse cuando el agua se evaporó, mi cadáver ya estaba cubierto de gusanos.
もっと見る“Ahh, enak, Gus. Lebih keras lagi, Gus. Hnghh.…”
“Tante yakin? Mau lebih keras lagi?”
“Iya, Gus. Ahhh… makin keras makin enak… uhhh…”
Walaupun ragu, aku tetap menuruti permintaan Tante Miya. Aku tekan punggungnya lebih kuat dengan tangan kasarku yang biasa kerja kasar di desa.
Sebenarnya aku takut tenaga dalamku ini akan menyakitinya, tapi melihat Tante Miya yang malah makin mendesah keenakan, sepertinya dia sangat menikmati servis gratis ini.
Akhir-akhir ini Tante Miya memang sering mengeluh badannya gampang pegal. Sebagai keponakan yang menumpang hidup, aku cukup tahu diri. Menawarkan jasa pijat adalah bentuk balas budi paling minimal yang bisa kulakukan.
“Harusnya kamu buka jasa pijat aja, Gus. Soalnya pijatanmu enak banget. Bikin badan Tante yang awalnya tegang jadi rileks,” puji Tante Miya sambil tiba-tiba berbalik posisi, berbaring menghadapku.
Tante Miya baru saja selesai mandi. Tubuhnya hanya dibalut handuk putih yang lilitannya sengaja dilonggarkan— katanya sih, supaya kulitnya bisa bernapas. Tapi aku yang justru sesak napas melihat belahan dan gundukan yang menyembul di balik kain itu.
Aku menelan ludah susah payah melihat pemandangan ini.
Perlu kuakui, di usia 40 tahun, tubuh Tante Miya masih seperti gadis 20 tahunan. Semok, mulus, dan wangi bunga semerbak yang bikin otak mungilku ini mendadak korsleting.
Aku yakin pria manapun tidak akan sanggup menolak pesona Tante Miya.
“Saya nggak ahli mijet, Tan. Lagian kerjaan yang sekarang juga sudah enak, gajinya UMR. Lumayanlah buat ditabung,” balasku, berusaha mengalihkan pandangan agar pikiranku tidak makin liar. Tanganku mulai bergerak perlahan, memijati bahu Tante Miya yang kaku.
“Eh, jangan salah, Gus. Penghasilan jadi terapis pijat juga gak sedikit loh. Apalagi kalau pelanggan puas sama pelayanan kamu, kemungkinan bisa dapat tip banyak. Tapi ya terserah kamu saja, toh kamu yang menjalani.”
Minggu lalu, aku diterima jadi Office Boy di perusahaan ternama. Walaupun cuma jadi OB, gaji UMR Jakarta bagiku yang orang desa ini sudah terasa sangat tinggi.
Maklum, sejak lulus SMA aku cuma kerja serabutan di kampung. Orang tuaku meninggal karena kecelakaan saat aku masih SMP, membuatku hidup tanpa dukungan materi.
Beruntung, Paman Karyo, saudara almarhum ayahku, mau menampungku di rumah mewahnya ini. Aku jadi bisa menghemat uang kos dan makan. Ditambah lagi, aku bisa masuk ke perusahaan itu berkat rekomendasi langsung Paman Karyo. Jalur orang dalam. Itulah sebabnya aku merasa sangat berutang budi padanya.
Dan di sinilah aku sekarang, duduk di pinggir kasur memijati istri pamanku sendiri.
Paman Karyo sedang di luar kota dan ketiga sepupuku juga ada urusan di luar. Rumah ini benar-benar sunyi, kecuali suara desahan Tante Miya yang makin lama makin terdengar aneh.
Saat aku sedang fokus memijat bahunya, tiba-tiba tangan lembut Tante Miya memegang tanganku, lalu menariknya ke atas bagian paling kenyal menawan tubuhnya.
“Ehh??”
Aku tersentak. Ini kali pertama aku memegang bukit wanita. Meski terhalang kain handuk, sensasi kenyalnya terasa sangat nyata di telapak tanganku.
“Pijat di bagian sini juga, Gus...” bisiknya serak. Tangannya menuntun tanganku untuk meremas bagian kenyal itu.
Aku benar-benar tak berkutik. Otakku mendadak lumpuh, dan tanganku bergerak mengikuti kemauan Tante Miya, mulai meremas bukit itu dengan perlahan.
‘Anjrit... kenyal banget woiii!’ batinku menjerit histeris.
Aku pun meremas untuk kedua kalinya, hendak memastikan bahwa ini bukan mimpi.
“Argus…” panggilnya lagi. Suaranya kian serak, sementara matanya yang sayu menatapku cukup dalam.
Aku bukan anak kecil lagi. Aku pria 25 tahun yang normal. Kalau dilihat dari tatapannya, Tante Miya mungkin ‘kepengen’ main denganku. Tapi aku buru-buru menepis pikiran jorok itu.
Aku menghormati Tante Miya sama seperti aku menghormati almarhum ibuku. Apalagi Paman Karyo sudah sangat baik. Tidak mungkin kan aku 'pagar makan tanaman'?
Buru-buru aku menarik tanganku.
“Kenapa, Gus? Capek?” tanya Tante Miya lembut.
“Eng-enggak, Tan... tapi anu... saya kebelet! Perut saya mendadak mules, permisi!” alibiku sambil ngibrit keluar kamar.
Aku kabur dari kamar itu seolah dikejar setan. Bisa gila aku kalau lama-lama di sana.
Di balik celana, 'adik kecilku' sudah bangun sepenuhnya, bahkan sudah di ujung tanduk.
“Aduh, duhhh, jangan keluar sekarang dong! Masa baru pegang yang kenyal-kenyal aja sudah mau muncrat!” bisikku pada diriku sendiri sambil memegangi selangkangan yang menegang hebat.
Aku memang punya penyakit aneh: burungku gampang sekali terangsang kalau melihat cewek cantik. Dan gara-gara memegang 'bukit' Tante Miya tadi, si LUKMAN— begitu kunamai burungku yang artinya LUcu, Kuat, dan MANja— sudah tidak bisa diajak kompromi lagi.
Aku harus mengeluarkannya sekarang juga!
Karena mengira para sepupuku masih di luar, aku tanpa ragu membuka ritsleting celana bahkan sebelum sampai di toilet belakang.
Sambil berjalan, tanganku sudah mulai bekerja mengelus-elus si Lukman.
Tepat di depan toilet, tanganku sudah siap membuka pintu. Namun, pintu itu terbuka sendiri sebelum sempat kusentuh. Seseorang membukanya dari dalam dengan cepat.
“Akhhh!!”
Aku teriak kaget, tapi orang di dalam jauh lebih kaget.
Mbak Masha, sepupuku berdiri di sana dengan wajah syok.
Dan si Lukman? Dia berdiri dengan gagah tepat di depan mata Mbak Masha yang membelalak sempurna.
José fue arrestado. A pesar de las innumerables frascos de desodorante ambiental que había utilizado, no podía ocultar el hedor que emanaba de mi cuerpo después de tantos días.Mi cadáver finalmente pudo abandonar aquella horrible vaporera, aunque debido a que José no había tomado ninguna medida especial, cuando los profesionales intentaron sacarme de la bandeja, mi carne putrefacta ya se había adherido a ella, desprendiéndose grandes trozos de piel y músculo descompuesto.Viendo a los especialistas forenses contener su malestar físico mientras cumplían diligentemente con su trabajo, sentí cierto remordimiento.Un estado tan horroroso de muerte podría causarles un trauma psicológico. Debería considerarse como un accidente laboral.Luciana y los sirvientes también fueron rescatados. Viendo el estado demacrado de Luciana, comprendí que cuando José los registró antes de encerrarlos, había pasado por alto un teléfono móvil.Fue precisamente ese teléfono olvidado lo que permitió a Luciana y
José arrojó a Luciana al sótano, encerrándola junto a los sirvientes que conocían lo sucedido con Manolo.En aquel sótano oscuro y húmedo, hombres y mujeres inconscientes se apretujaban como sardinas en lata.Mientras veía a José cerrar sin piedad la puerta del sótano, de repente me alegré de que no tuviera tendencias caníbales.De lo contrario, ni estas personas inconscientes ni yo, que ya estaba cocida al vapor, habríamos escapado de sus manos.Después de aquel colapso emocional, José pareció activar algún mecanismo de autoprotección, volviendo obstinadamente a creer que yo no estaba muerta, que solo me escondía para evitarlo.Para encontrarme, incluso utilizó sus contactos para buscar intensamente al antiguo mayordomo.Recordé con alivio el día que vi al mayordomo subir al avión que lo alejaba de aquí.Después de toda una vida sirviendo a José, no merecía sufrir este tormento en sus últimos años.Desde que Luciana fue arrojada al sótano, José perdió completamente el interés en ella.
En los días siguientes, José despidió a todos los sirvientes y roció enormes cantidades de ambientador alrededor de la vaporera.Su rostro mostraba una sonrisa triunfante:—¿Pensabas asquearme con ese hedor y los insectos? ¡Imposible!Los frascos vacíos de ambientador ya formaban una pequeña montaña a su lado. Incluso me preocupaba que pudiera morir intoxicado allí mismo.Aunque para él, esa muerte sería demasiado piadosa.Golpeó hasta dejar inconsciente al sirviente que había ayudado a deshacerse del cuerpo de Manolo y lo arrojó al sótano.Y a Luciana la mantenía prisionera en la mansión.Acariciaba su rostro con un afecto enfermizo:—Luciana, no temas. Cuando atrape a María, te liberaré.—La arrojaré frente a ti para que te pida perdón.—Me divorciaré de ella y nos casaremos inmediatamente. Me darás un hijo inteligente, no como Manolo.Luciana, atada de pies y manos en la cama, derramaba lágrimas de miedo mientras José las besaba suavemente de sus mejillas.Sospechaba que el estado m
Después de muchos días, mi cadáver finalmente volvió a ver la luz, en lugar de permanecer en esa estrecha vaporera.En el reducido espacio, mi cuerpo estaba encogido, con los brazos abrazándose a sí mismo, como si así pudiera reducir la superficie expuesta al sufrimiento.La carne, blanquecina por haber sido cocida al vapor, el rostro aún mostrando vagamente una expresión de dolor, y las cuencas vacías, luego de que los gusanos devoraran mis ojos. Las larvas entraban y salían de mis fosas nasales y mis oídos, perturbadas pro la intrusión de José. José palideció y retrocedió bruscamente, aferrando instintivamente el amuleto de madera de durazno que llevaba al cuello. Su cuerpo se tambaleó, buscando algo donde apoyarse para mantener el equilibrio, pero mano tocó un puñado de gusanos blandos y viscosos. Como si se hubiera electrocutado, agitó la mano frenéticamente, mientras, con la voz entrecortada, decía:—María, ¿crees que puedes engañarme poniendo el cadáver de otra persona? ¡N
Aunque yo no podía olerlo, por la expresión de José, sentí que el hedor era insoportablemente penetrante.La habitación, sin ventanas abiertas, estaba saturada de pestilencia, por lo que, cuando abrió la puerta, el olor lo golpeó con tal fuerza que su rostro se llenó de espanto y apenas podía mante
El hijo que había llevado en mi vientre por nueve meses, soportando las náuseas y el malestar, al que había dado a luz con esfuerzo, murió ante mis ojos.Ese pequeño tesoro que dormía tranquilo frente a mí, que corría a mis brazos sonriendo y me llamaba «mamá», ahora tenía el rostro azulado, una cl
Me quedé paralizada, incapaz de creer que José fuera tan despiadado.Por su exnovia, me había dejado a mí, a su propia esposa, morir al vapor, mientras se iba de viaje con ella sin preocuparse por mí. Y ahora planeaba echar de la casa a su propio hijo con el fin de complacerla. Los ojos de Lucian
—¡Mamá! ¡Quiero a mi mamá!Apenas José Ocampo regresó a casa, su hijo se le abalanzó sobre él, llorando y provocando que Luciana Jaramillo retrocediera asustada.José, notándolo, llamó al mayordomo con expresión sombría:—¿Dónde está esa maldita de María? ¿Ni siquiera puede controlar al niño? ¡Ha












Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.