LOGINBeberapa hari kemudian, sebuah mobil bak terbuka berhenti di depan pekarangan rumah Minah. Abas bersama seorang pria asing keluar dari kursi sopir. Mereka langsung memasuki rumah dan mulai sibuk menaikkan barang-barang serta perabotan rumah tangga dari dalam rumah ke atas bak mobil tersebut.Melihat kesibukan yang mendadak itu, beberapa warga yang kebetulan melintas, lantas mendekat penuh rasa ingin tahu."Kang Abas mau pindahan?" tanya Euis, berjalan mendekat."Iya, Teh," jawab Abas pendek. Sikapnya tetap dingin, menunjukkan dengan jelas bahwa ia tidak ingin diganggu atau dibantu."Pindahan sendirianaja?EmangTehMinah&
“Jadi sehari-hari dia cuma di rumah? Katanya disuruhjagainFajri?” tanya tetangga yang lain.“Jagaindari mana? Orang kalau dia bosan, Fajri ditinggal begituajabuat keliling-keliling kampung enggak jelas. Mana kurang bergaul juga sama warga sini. PasMinahkerja, ya kita enggak tahu Fajridiapain, sampai tahu-tahu memar begitu,” bisik Juju lagi.Obrolan mereka terhenti sejenak. Ibu-ibu itu kompak menoleh ke belakang, menatap pintu rumah kayu milik Haji Sobri yang kini tertutup rapat. Ada rasa geram dan cemas yang tertahan membayangi nasib Fajri di dalam sana, tapi reputasi Abas yang temperamen, membuat warga enggan untuk menegur langsung.
Sore yang cerah di Desa Cialas. Suasana tenang desa mendadak dikejutkan oleh suara teriakan panik dan tangisan seorang perempuan dari salah satu sudut kampung. Para tetangga yang mendengar langsung berhamburan keluar mencari sumber suara dan mereka mendapati Minah, salah satu warga, sedang memeluk Fajri, anak laki-lakinya, yang tergolek lemah di atas kasur. Tubuh bocah berusia tujuh tahun itu tampak memar di beberapa bagian, dan ada setetes darah mengalir dari lubang hidungnya. “Minah, Fajri kunaon?” tanya Euis, salah seorang tetangga, sambil berjalan cepat mendekati ibu dan anak itu. “Teu ngarti, Teh. Fajri tahu-tahu kayak gini waktu saya pulang tadi.” Minah menepuk-nepuk pipi sang putra, berusaha keras membangunkannya. Di tengah kepanikan, Abas, suami Minah, muncul dari balik pintu dapur. Pria bertubuh tinggi besar itu melangkah pelan menuju kamar yang kini sudah sesak oleh para tetangga. Ia menengok ke dalam. “Itu tadi si Fajri katanya jatuh waktu main di belakang. Terus
"Kena banyak ujian katanya, Ceu," bisik Cunah lagi. "Suaminya Teh Tinah, Kang Saka itu... kata Teh Tinah, dia kecelakaan kerja sampai kakinya pincang dan sakit-sakitan. Dia sudah enggak bisa kerja lagi. Uang tabungan habis semua buat berobat, utang di mana-mana menumpuk. Yang paling kasihan mah anak-anaknya, Ceu... pada putus sekolah karena enggak ada biaya, dan sekarang jadi anak nakal dan liar di lingkungan sana. Si Tinah rungsing tiap hari karena dikejar-kejar tukang tagih utang.""Ya Allah..." Lela menutup mulutnya dengan telapak tangan, syok. "Habis tak berbekas? Padahal dulu waktu jual rumah dan tanah di sini, duitnya kan ratusan juta, ya?"Nunung tidak menyahut. Tatapannya beralih memandangi sebidang tanah milik almarhumah Mak Popon yang terlihat jelas dari teras rumahnya. Sekar
“Harta dunia ini, Neng, kalau kita cari lagi, insya Allah masih bisa dikejar. Tapi amanah orang tua yang sudah di dalam kubur, itu cuma sekali jalannya. Kalau Ceu Nunung ternyata benar, dan Neng Tinah memilih melapangkan wasiat ibumu... bayangkan betapa tenangnya almarhumah Mak Popon di alam sana melihat anak dan keponakannya saling menyayangi, saling menjaga amanah. Coba ditimbang-timbang lagi dengan hati yang tenang, ya?”Ruangan itu hening untuk beberapa saat. Tinah menunduk, meremas jemarinya sendiri. Kata-kata Ustaz Agum yang lembut justru terasa lebih menusuk ketimbang bentakan. Namun, ego dan bayangan nominal harga tanah yang akan jatuh jika dipotong pojokannya membuat hati Tinah kembali mengeras.Tinah mendongak, menarik napas panjang, lalu menggeleng pelan namun pasti. “Ma
Mendengar pernyataan Tinah barusan, Nunung tampak terkejut setengah mati. Wajahnya pias. Ia menatap Ustaz Agum dengan perasaan tidak enak dan cemas. Ia sangat khawatir Ustaz Agum akan terpengaruh dan berpandangan buruk sama seperti Tinah. Padahal, kedatangannya ke sini hanya ingin meluruskan persoalan dan meminta pendapat yang jernih secara syariat.Ustaz Agum terdiam sejenak. Suasana ruang tamu itu mendadak hening dan tegang. Beliau seperti sedang memilih kata-kata yang paling tepat, paling halus, agar maksudnya bisa diterima dengan jernih dan tidak disalahpahami oleh pihak Tinah maupun Nunung.“Jadi begini, Teteh-teteh dan Aa sekalian,” Ustaz Agum memulai penjelasannya dengan suara yang sangat lembut. “Secara hukum Islam dasar, wasiat itu sah dan wajib dilaksanakan, asalkan memen
“Kain kafannya dipotong sesuai tinggi jenazah, Neng, tapi ditambah kira-kira tiga jengkal.” Mak Acih membentang jemari tangan kanannya lebar-lebar. Neneng manggut-manggut. Ia mengambil gunting, bersiap memotong panjang kain sesuai yang diperintahkan sang bibi.“Bikin tiga helai, Neng.”“Panjangnya
Tergesa, Neneng keluar rumah menuju arah kulon rumah Lilis, mencari letak pohon kelor yang ternyata tumbuh di antara pohon pepaya dan rambutan. Dirimbuni semak rumput liar. Bergegas ia memetik beberapa batang daun kelor, lalu memasukkannya dalam tas pandan. Sesuai perintah Mak Acih, buru-buru ia m
Hati Neneng terenyuh. Ia dan Lilis merupakan teman masa kecil. Mereka cukup dekat, walau perempuan cantik itu lebih tua beberapa tahun darinya. Komunikasi semakin berkurang, saat Lilis bersekolah di bangku SMP, sementara Neneng masih duduk di bangku kelas lima SD. Tahun-tahun berlalu tanpa pernah
Menjalani profesi sebagai pemandi jenazah, jelas bukan impian semua orang. Terutama bagi mereka yang berjiwa penakut dan materialistis. Sebuah profesi yang harus dilakukan dengan hati ikhlas lagi sabar, serta meluruskan niat hanya untuk beribadah sebagai amal jariah, bekal bagi diri saat berada di







