LOGIN“Jantungku di sini, setiap detaknya di sana. Hati ini adalah milikku, sedangkan detaknya adalah dirimu.” — Maulana Jalaluddin Rumi. _____ Dilamar oleh seorang lelaki yang terkenal baik dan penyabar seperti sebuah mimpi indah dalam tidur. Namun, ketika mengetahui kalau dia adalah kekasih sahabatku, apa yang harus aku lakukan? Melepaskannya agar mereka kembali bersama atau tetap melanjutkan hubungan sampai ke pernikahan karena beranggapan bahwa ini adalah takdir? Aku dilema.
View More“This is just a formality, Alyssa. You know I would never bring you down,” Rafael’s voice was gentle — too gentle, the kind that made Alyssa believe everything happening was simply part of their shared struggle.
She looked at him from across the long table in the cold, sterile conference room. The glass walls reflected her image — a young woman with weary eyes but still full of faith. In front of her, Rafael sat in a perfectly tailored black suit, exuding the aura of a man who commanded power, the kind that made others lower their heads in respect. On the table lay a stack of documents. Share transfer papers. Asset certificates. Endorsement signatures. Alyssa swallowed hard. “Is this really necessary, Rafael?” she asked softly, her voice nearly drowned by the hum of the air conditioner. “I don’t understand why the company has to be under your name alone. Haven’t we always owned everything together?” Rafael smiled — a smile that once brought her peace now felt unfamiliar, transactional, like that of a man negotiating, not loving. “You know the company’s in a tough spot. The investors need assurance, and they trust me more. Once things stabilize, everything will go back to how it was. I promise.” Promise. The word sounded sweet — and poisonous. Alyssa took a deep breath. She remembered everything they’d gone through: the long nights at the office, the prayers whispered behind their bedroom door, the sacrifices to keep the family business alive. She trusted Rafael. She loved him more than herself. “All right,” she finally said, forcing a smile. “I trust you.” Rafael turned the file and placed it before her. “Sign here,” he said gently. Her hand trembled as the pen touched the paper. Each stroke of ink felt like erasing a part of herself — but she kept writing. For my husband, she whispered inwardly. For our love. The click of the pen marked the end of her trust. Silence followed. Then Rafael leaned back in his chair, his eyes fixed on the signature, a satisfied smile curling on his lips. “Excellent.” His tone had changed — flatter, colder. Alyssa frowned. “Why do you sound like…” Before she could finish, the door opened. A woman walked in — tall, pale-skinned, with scarlet lips and a tight red dress that stood out amid the suits of executives. “Maya?” Alyssa’s voice caught in her throat. She recognized that face — Rafael’s personal secretary, the woman who always looked at her with defiant eyes whenever they crossed paths. Maya approached confidently and stood beside Rafael, looping her arm through his. Rafael didn’t move away. Instead, he turned to Alyssa with a faint smile. “Allow me to introduce someone,” he said calmly. “This is Maya. My lover.” Alyssa’s world stopped spinning. “What?” Rafael stood and walked toward her, his gaze now devoid of mercy. “You heard me clearly. I don’t want to continue this marriage. I’m done living in your shadow, Alyssa. You’re too perfect, too controlling, too… boring.” Maya smirked, her tone dripping with triumph. “I’ve told him for a long time — Rafael deserves someone who makes him feel alive, not someone who cages him with rules and family expectations.” Alyssa shot up from her chair, which screeched across the floor. Her breath quickened, her heart pounding violently. “So this was all… a trap?” Rafael’s expression didn’t waver. “You were too easy to trust. The assets are all under my name now. I no longer need a reason to stay in this marriage.” Alyssa looked down at the documents on the table — the very ones she had signed with love. The words blurred before her eyes, turning into knives that pierced her heart. “I did it because I love you, Rafael. Because I wanted to save our company.” “My company, Alyssa,” Rafael corrected coldly. “It’s all mine now. You’re free. Free from a marriage I never wanted.” The words exploded in her head. She staggered back, her body trembling. “You lied to me? All those words of love… all those struggles… were just a game?” Rafael glanced at his watch, his tone indifferent. “I don’t have time for theatrics. The lawyer has the divorce papers ready. Just sign them later. You’ll get a small compensation — think of it as a farewell gift.” Maya chuckled. “You should be grateful, Alyssa. Not every wife gets left this gracefully.” Alyssa’s cheeks burned. She took a step forward, her eyes red with fury and pain. “Gracefully? You two destroyed my life!” Rafael’s gaze was ice. “You handed it to me, Alyssa. I only took what you willingly gave.” He patted Maya’s shoulder and headed toward the door. “Come, darling. We have things to celebrate.” Maya laughed softly, clinging to his arm, and looked back at Alyssa one last time. “Don’t cry too long, dear. Tears will age your face.” The door clicked shut — a sound that echoed across the room. Silence. Alyssa stared at the empty chair across the table. Her eyes glistened, but no tears fell. She reached for the documents — the same papers she had signed with love. Now they felt cold and sharp in her hands. She let out a quiet, bitter laugh. “How ironic, Rafael… I just signed my own death sentence.” The tears finally came — one, two, then a torrent, staining the fresh ink of her signature. She collapsed to her knees, clutching the papers to her chest. The ticking of the wall clock grew louder, counting the seconds of her downfall. Outside, rain began to fall — softly at first, then heavily, as if the sky itself wept with her. Alyssa lifted her gaze to the window, her vision blurred by tears and city lights. Everything she had built with love had crumbled because of one fatal mistake: trusting the wrong person. But beneath the sorrow and ruin, something began to flicker within her — small, yet fierce. Anger. Pride. And a vow that one day, Rafael would regret every word he said today. “All right, Rafael,” she whispered, her voice trembling but sharp. “You want me free? Then I’ll be free. But don’t forget…” — she paused, eyes burning with resolve — “my freedom will become your nightmare.”Bab 88. Takdir Itu Selalu Indah.Setiap hari selalu sama, diisi dengan warna kehidupan yang indah. Seperti dulu, seolah tidak ada kisah kelam di masa lalu yang menyebabkan hati hancur tanpa kepingan lagi.Ainun bahagia berada di dekat teman-temannya, tetapi tentu saja ada masa dia menangis dalam kesendirian mengingat orang yang telah mendahului.Semua orang bahagia meski tidak ada kabar dari Rania. Semenjak pindah ke Manado, dia menghilang bagai ditelan bumi. Namun, mereka semua berusaha untuk terlihat santai walau khawatir pindah agama.Tak terasa sudah dua tiga berlalu. Usaha bakso meriang pun tidak lagi berada di depan rumah Bu Zahra melainkan di sampingnya. Jadi tetangga sebelah rumah Alia pindah ke luar kota, jadi mereka membeli lokasi itu karena lumayan luas.Rumah diratakan, lalu membangun warung makan yang lebih terkesan mewah dan bersih. Sementara pada tingkat dua adalah rumah Nizar dan Alia."Cie yang mau nikah. Jadinya sama
Bab 87. Pengaruh NgidamAlia pulang ke rumahnya setelah siang karena Nizar yang meminta. Sementara Ainun berkumpul dengan keluarga Diqi, mereka begitu baik karena mau membantu Ainun.Sebenarnya perempuan itu merasa sedih, seolah dilupakan oleh Rania. Dia hanya menanggapi status Face-book tentang kematian sang umi dengan emotikon sedih, tanpa mengirim pesan apalagi memunculkan batang hidungnya.Dia terbuai oleh godaan Cris. Mereka terlalu bucin sampai lupa pada teman dan yang lainnya. Mereka seperti perangko, menempel siang dan malam. Rania melangkah semakin jauh dari Tuhannya."Kamu pake parfum kopi ya?"Sebelah alis Nizar terangkat tipis. "Iya, emang selalu pake, kan?"Alia mengulum senyum, kemudian memeluk erat Nizar padahal posisinya sedang berada di depan rumah. Untung saja lagi sepi pelanggan siang itu karena cuaca benar-benar panas.Menghirup lekat-lekat aroma parfum Nizar, membuatnya mengulum senyum. "Suka banget!""Lepa
Bab 86. Aroma MenyengatPukul delapan pagi, Ainun baru saja keluar dari kamar mandi tepat setelah Nawaf dan Nizar pulang karena harus bekerja, begitu pula dengan kedua mertuanya.Saat tiba di dalam kamar, aroma sabun lemon menguar begitu saja sampai menusuk indra penciuman Alia yang sedang sibuk berkirim pesan dengan suaminya."Ainun!" pekik Alia merasa mual. Dia berlari keluar dari kamar sambil menutup hidung rapat. Kepalanya mendadak pusing, keringat membasahi pelipis.Perempuan yang baru saja ingin mengambil daster panjang dalam lemari pakaian itu mengerutkan kening, bingung. Kenapa Alia menutup hidung seakan mencium bau busuk atau menyengat?Padahal selama ini selera sabun mereka sama. Lantas, kenapa? batin Ainun penasaran.Sementara dalam kamar mandi, Alia muntah sedikit. Setelah itu mengambil minum dan langsung meneguknya setengah gelas. Dia terduduk lesu di meja makan sambil sesekali menghela napas panjang."Kamu kenapa, sih?"
Bab 85. Jangan Tinggalkan Aku"Jangan larut dalam kesedihan, Ainun. Perbanyak doa untuk umi, semoga Allah menerima semua amal kebaikannya," kata Ustazah Halimah begitu melihat perempuan itu duduk di dalam kamarnya, menatap kosong dalam pelukan Alia."Umi sudah nggak ada. Sekarang aku yatim piatu, Ustazah," balas Ainun lirih. Tidak ada lagi air mata yang mengalir di sepanjang pipinya.Puncak dari segala kesedihan adalah ketika mata tak lagi mampu menangis. Kehilangan kedua orang tua sangat menyakitkan, membuat Ainun merasa sendiri di dunia.Sakit yang disebabkan kehilangan itu tidak memiliki obat. Mereka bilang, hati akan pulih seiring berjalannya waktu. Akan tetapi, menurut Ainun berbeda. Sampai kapan pun, rasa sakit itu akan selalu ada.Apalagi karena kehilangan orang tua, di mana setiap insan tidak bisa terlahir kembali. Orang tua adalah sosok yang tidak ada gantinya. Mereka ada dalam hati, di tempat paling istimewa.Perempuan itu menunduk
"Ayah tolong jangan menyalahkan Ainun. Aku mengerti keadaannya. Ainun sebenarnya akan menjadi orang paling bahagia kalau aku dilamar seseorang jika saja orang itu bukan Nizar." Aku menjawab dengan pelan karena takut jika sampai ayah marah. Ayah adalah sosok laki-laki yang selalu tersenyum, mudah b
"Lambat laun, dia akan mengerti. Ibarat sebuah doa yang belum dikabulkan sesuai keinginan kita, suatu hari pasti ada jawaban mengapa doa tersebut baru dikabulkan hari ini, bukan lima bulan lalu sesuai keinginan kita, misalnya? Takdir Tuhan itu selalu indah jika kita melapangkan dada untuk menerima
Wajah mama berubah semakin murung, cahaya di wajahnya seakan tertutup awan tebal. Mama mengerjapkan mata, mungkin tidak percaya pada apa yang baru saja dia dengar. Tentu, aku pun sama karena masih beranggapan bahwa semuanya adalah mimpi.Tentang Nizar yang memintaku menyampaikan niatnya pada ayah,
Jantungku berdegup tidak normal bagai pacuan kuda ketika Nizar menelepon. Mengingat ini karena urusan penting dan aku yakin Nizar sedang khawatir dan penasaran akan sesuatu, maka panggilan itu kubiarkan terhubung.Aku menyalakan loud speaker, lalu meletakkan ponsel di meja belajar karena takut jatu
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews